Breaking News

70 Tahun ‘Pohon Terang’: Model Partisipasi ‘Pohon Terang’ Mesti Dievaluasi

Bernard Nainggolan menyampaikan Refleksi 70 Tahun Pohon Terang

Model partisipasi pelayanan ‘Pohon Terang’ di bidang politik mesti dievaluasi secara serius. Tentunya model partisipasi berbangsa dan bernegara disesuaikan dengan konteks kekinian bangsa dan negara.

Demikian dikatakan Ketua Yayasan Komunikasi Indonesia, Dr Bernard Nainggolan, SH, MH, dalam refleksinya pada acara 70 Tahun Pelayanan Kristen di bidang Politik melalui ‘Pohon Terang’ yang diadakan di Kantor Yayasan Komunikasi Indonesia, Matraman Raya 10 A, Jakarta, 10 November 2015.

‘Pohon Terang’ telah menjalani sejarah panjang dimana pada awalnya didirikan 10 November 1945 dengan nama Partai Kristen Nasional. Namun dalam Kongres ke-I Partai Kristen Nasional, pada tanggal 6-7 Desember 1946 di Solo, Partai Kristen Nasional berubah nama menjadi Partai Kristen Indonesia (Parkindo).

(Berikut Video Refleksi Ketua Yayasan Komunikasi Indonesia, Dr Bernard Nainggolan)

Pada tanggal 10 Januari 1973, Partai Parkindo berfusi kedalam Partai Demokrasi Indonesia. Setelah itu, Yayasan Komunikasi berperan menjalankan ide-ide Parkindo. Dan dalam perjalanannya muncul juga organisasi kemasyarakatan (ormas) Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo) yang aktif sampai saat ini.

Lebih lanjut Bernard mengatakan Indonesia adalah sebuah proses yang sedang berlangsung. Sebab itu, kita tidak berhenti pada proses Indonesia yang berdiam diri. Indonesia terus mengalami perubahan dari masa lalu, masa kini, hingga masa yang akan datang.

Pada masa lalu, menurut dia, perjuangan para pendiri negara khususnya yang beragama Kristen, berkutat pada persoalan dasar negara.

Yakni, bagaimana negara ini dibangun atas dasar-dasar yang disepakati bersama tanpa dilandasi sebuah paham tertentu.

“Sebab itu, landasan negara (Pancasila-Red) yang begitu optimal ini tidak perlu diperdebatkan lagi,” tegas dia.

Bernard mengutarakan ditengah-tengah dunia yang terus berubah, lompatan-lompatan paradigmatik dalam berbangsa dan bernegara juga berubah.

“Agar tidak ketinggalan zaman maka model pendekatan partisipasi pelayanan ‘Pohon Terang’ tidak bisa lagi seperti masa lalu,” ujar dia.

Sampai saat ini, menurut dia, perjalanan anak bangsa masih mengalami proses menyakitkan dimana masih adanya ketidakleluasaan untuk mendirikan rumah ibadah.

Juga, masih adanya ruang perbedaan pendapat dalam hal, misalnya, peninjauan Peraturan Bersama (PBM) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 9 dan 8 Tahun 2006.

Melihat persoalan yang cukup serius ini, ia mengajak semua pihak ikut terlibat untuk memecahkan persoalan tersebut dengan berbagai pendekatan, mulai dari proses politik, hukum dan sosial budaya.

Hal lainnya, Bernard berharap perlu adanya diskusi kajian-kajian teologis dalam Yayasan Komunikasi. Menurutnya, landasan teologis begitu penting sebagai pijakan agar lebih maksimal dalam melakukan pelayanan-pelayanan ditengah-tengah bangsa dan negara.

Ia menyayangkan para pendeta yang ikutan juga terjun ke dunia politik sehingga dia lupa untuk melakukan kajian-kajian teologis yang mendalam.

“Ketika sudah jadi pemain, mereka akan lebih susah untuk berpikir obyektif dari segi teologis. Karena itu, kami mengundang para pendeta untuk berkumpul di yayasan ini guna mendiskusikan kajian-kajian teologis tersebut,” ajak dia.

Terkait dengan evaluasi Pemerintahan Jokowi-JK, Bernard berkomentar terlalu prematur menilai perjalanan pemerintahan yang baru berumur satu tahun.

Kendati begitu, lanjut dia, setahun lalu, ketika Presiden terpilih Joko Widodo menghadiri perayaan ulang tahun politisi senior PDIP yang juga Ketua Pembina Yayasan Komunikasi Indonesia, Sabam Sirait, yang sudah menitipkan beberapa pokok pikiran penting kepada presiden terutama terkait proses pergumulan bangsa dan negara terhadap kehidupan umat beragama.

Kini, kata dia, kita sedang menilai apa yang telah disampaikan setahun lalu. Ia mengamati masih terlihat adanya kekurangan kreativitas dalam melihat dan memecahkan persoalan tersebut.

Kendati begitu, niat baik dari pemerintah untuk menyelesaikan persoalan bangsa dan negara ini menjadi catatan bersama.

Dalam hal ini, menurut dia, Yayasan Komunikasi Indonesia akan melakukan pendekatan-pendekatan menyeluruh untuk menyelesaikan persoalan bangsa dan negara.

“Ketika kita bisa memberikan kontribusi bagi negara ini maka fungsi yayasan ini akan semakin baik kedepan,” kata dia.

“Kami berharap kepada semua orang yang punya perhatian terhadap pergumulan bangsa ini mau bersama-sama berdiskusi dengan memanfaatkan yayasan ini untuk menjawab persoalan-persoalan bangsa dan negara,” tandasnya.

(VICTOR)

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Translate »