Breaking News

Bedah Buku Karya Pdt Saut Sirait: DIBUTUHKAN PEMIMPIN GEREJA YANG LEBIH ‘MEMBUMI’

Kehadiran gereja menjadi begitu penting dalam kondisi negara dan bangsa ditengah-tengah konstelasi dunia saat ini yang sedang mencari identitas diri, baik dalam bentuk ekonomi maupun berbagai bidang lainnya.

“Sebab itu, dibutuhkan pimpinan gereja yang lebih down to earth (membumi-Red) yang mengenal betul situasi duniawi ini. Karena dia kelak lebih bisa menggembalakan umatnya,” kata Politisi Senior, Enggartiasto Lukita, dalam bedah buku “Negara Dalam Rancangan Tuhan” karya Pdt Saut Hamonangan Sirait, MTh, yang diadakan atas kerjasama GMKI dan GAMKI di Sopo Gereja HKBP Sudirman, Jakarta, (14/6).

Bedah buku itu juga menghadirkan pembahas lainnya yakni Ir. Antony Sihombing, MUD, PhD, Pdt Bilman Simanungkalit, STh, dan Ny Arum K Siahaan Simanjuntak serta dimoderatori oleh Pdt STP Siahaan, MBA.

Lebih lanjut Enggartiasto mengatakan, sebagai seorang politisi, dia bersyukur mendapatkan buku Pdt Saut Sirait yang begitu inspriatif. Ia juga mengakui integritas, kecerdasan dan kepandaiannya.

“Dia lebih cerdas dan pandai dari saya,” kata Enggartiasto dengan rendah hati.

Enggartiasto dalam kesehariannya sebagai politisi banyak berkonsultasi dengan Saut yang kaya akan pelbagai pengatahuan.

“Saya bersyukur bisa berinteraksi dan banyak belajar dari Saut,” ujar dia.

Dia mengaku jarang sekali membaca buku sampai habis. Tapi buku Saut ini dia lahap baca sampai habis.

“Dari buku ini, saya banyak belajar. Buku ini dijadikan referensi dalam keseharian saya dalam terjun di partai politik,” tegas dia.

Setaraf NU

Sementara Ir Antony Sihombing, MUD, PhD mengatakan agar pimpinan gereja HKBP kedepan diharapkan mampu menjadikan HKBP setaraf seperti Nahdlatul Ulama (NU) dalam kancahnya di negara ini.

Antony juga berharap politik yang diterapkan di gereja adalah politik damai sejahtera.

Karena itu, lanjut dia, semestinya para pendeta tidak berebutan untuk menjadi pimpinan Ephorus HKBP.

“Kita pun berharap dan berdoa agar HKBP punya pimpinan seperti yang ada dalam Alkitab yaitu pimpinan HKBP yang sesuai dengan pemikiran jemaat mula-mula seperti di Kisah Para Rasul,” kata dia, “Yakni, pemimpin yang mau melayani warganya seperti dirinya sendiri dan mengutamakan kepentingan gereja daripada dirinya sendiri.”

Sedangkan Pdt. Bilman Simanungkalit mengingatkan agar tidak terkecoh dengan adanya paradigma bahwa pelayanan di gereja jauh berharga dan lebih tinggi daripada pelayanan di luar gereja.

“Saya adalah salah satu korban paradigma tersebut. Karena saya cukup lama melayani di luar gereja menjadi dosen di perguruan tinggi yang memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang merupakan calon pemimpin negara,” jelas dia.

Bilman melanjutkan, negara dalam rancangan Tuhan ini penting untuk menghadirkan kesejahteraan di dunia.

“Rancangan Tuhan itu dapat dilihat dengan adanya nilai-nilai baik yang berlaku dalam negara merupakan berasal dari nilai-nilai keagamaan dan sumber lainnya,” pungkas dia.

Pembahas terakhir, Ny Arum K Siahaan Simanjuntak, mengatakan ketika bicara rancangan Tuhan maka harus diyakini bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera.

“Pun, HKBP harus mengandalkan Tuhan dalam pelayanannya seperti yang ditulis oleh Pdt Saut Sirait dalam buku ini,” tandas dia.

Sebelum bedah buku, diadakan ibadah yang dipimpin oleh Pdt Adian R Pasaribu STh dan Liturgis Pdt Haposan Sianturi, STh.

Bedah buku dihadiri para jemaat HKBP Se-Jabodetabek, tokoh agama, dan Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt Wilman Tampubolon STh.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang sedianya menjadi pembicara utama kala itu mendadak berhalangan hadir.

(R1)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Translate »