Breaking News

Constantia et labore: “Dengan ketekunan dan dengan kerja keras”

ONLINEKRISTEN.COM, Jakarta- Zaman modern dengan berbagai piranti canggih telah melahirkan perilaku dan sikap baru bagi sebagian besar umat manusia.

Mereka menghendaki segala sesuatunya berlangsung secara cepat, mudah tidak bertele-tele.

Mereka ingin yang instant, cepat saji dan tidak mau menunggu atau berproses lama.

Keinginan untuk melakukan sesuatu dengan cepat memang sah-sah saja sepanjang hal itu sesuai dengan prosedur standar sehingga hasil yang dicapai tetap terjaga mutunya.

Sayangnya keinginan serba cepat itu acap menafikan prosedur standar bahkan ada unsur-unsur yang bisa dikategorikan bernuansa penipuan.

Ada kawan yang berkisah bagaimana seorang pejabat publik disebuah departemen yang mengurusi soal-soal kesurgaan, merasa tidak apa-apa ketika disertasinya itu dibuatkan oleh orang lain.

Tak ada rasa bersalah, tak ada rasa pengerdilan intelektualitas, tak ada kait mengait dengan “dosa” (sense of sin?) atau apapun namanya.

Sang pejabat tetap tenang menyandang gelarnya dan menjalankan kepemimpinan hingga selesai masa kerjanya.

Itu penggalan kisah dari era 10 tahun yang lalu. Menurut kawan-kawan, kisah pejabat di urusan kesurgaan itu banyak juga terjadi di departemen yang lain, dan sudah dianggap biasa.

Cerita tentang plagiarisme, ijazah asli tapi palsu menurut banyak sumber tidak hanya terjadi pada lembaga pendidikan abal-abal tetapi juga pada lembaga pendidikan tinggi yang sudah mapan.

Pola pikir instant, mau cepat, easy going, konsumtifistis semuanya datang berbarengan lewat kendaraan “modernisme”.

Unsur-unsur itu menggerus banyak aspek kehidupan kita yang sejak awal telah kita coba rawat dengan baik.

Pola pikir instant dan mau serba cepat pada kasus-kasus tertentu telah menggairahkan nafsu berkorupsi dan memperkaya diri dengan tidak mengindahkan sama sekali nilai-nilai agama, moral, etik dan kepantasan.

Mereka yang berfikir instant seringkali adalah mereka yang kurang tekun dan enggan memberi respons dengan cepat.

Mereka acap menyerah kepada keadaaan dan kondisi, mereka tidak tergerak untuk bekerja keras dalam menggapai cita-cita.

Padahal dalam dunia yang makin garang, keras, penuh konflik dan teror sangat dibutuhkan ketekunan, kerjakeras, selain cerdas, profesional, berkarakter dan berintegritas.

Mereka yang suka mencipta kambing hitam dan atau execuse tidak bisa lagi hidup dengan aman dan nyaman dalam dunia yang makin profesional. Ketekunan dan kerja keras paradoks dengan sikap yang easy going dan instant.

Ketekunan membutuhkan “high cost” dan sikap yang matang. Seorang pelukis bernama Holman Hunt yang pernah melukis “the Light of the World” pernah ditanya seorang penggemarnya.

Penggemar itu bertanya bagaimana cara menggambar lingkaran yang amat sempurna dalam lukisannya.

Holman menjawab : “Yang harus kau lakukan adalah latihan delapan jam sehari selama 40 tahun!!

Ketekunan dan kerjasama dibutuhkan di semua bidang kehidupan, termasuk dalam kehidupan keagamaan.

Umat beragama harus tekun dan bekerja keras dalam melaksanakan ajaran agama.

Kita tidak hanya tekun dalam membaca dan menghafal ayat-ayat Kitab Suci, namun sekaligus dengan itu kita juga melaksanakan, mewujudkan dan mengimplementasikan ajaran agama kita dalam konteks keseharian kita.

Pepatah kita mengingatkan kita agar kita tekun dan bekerja keras dalam interaksi kita dengan dunia.

Mari tekun dan kerja keras, sambil menyongsong kehadiran masa depan gemilang yang sedang datang.

Selamat berjuang. God bless.

Weinata Sairin

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Translate »