Breaking News

Identitas Indonesia Masih Kalah dengan Identitas Suku

Sebuah Survei yang dilakukan oleh Goethe Insitute terhadap 1000 anak muda usia 15-24 tahun, ketika ditanya identitas siapa dirinya, menunjukkan bahwa 80 persen menjawab dirinya berasal dari suku tertentu. Sementara hanya 20 persen menjawab “Saya Indonesia”.

Demikian papar Ketua Umum ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace), Prof Dr Musdah Mulia dalam Sarasehan Nasional 87 Tahun Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) pada hari Selasa, 27 Oktober 2015 di Graha Bethel, Cempaka Putih, Jakarts Pusat.

“Menyedihkan ketika sebagian besar anak itu lebih memilih menjawab identitas sukunya. Mereka justru tidak percaya diri untuk menyebut dirinya adalah bangsa Indonesia,” jelas dia.

Musdah menambahkan hal ini sangat berbeda manakala negara maju seperti Amerika dimana anak-anak disana sangat percaya diri menjawab dirinya adalah bangsa Amerika. Negara lainnya seperti India juga memiliki semangat nasionalismenya kuat.

Lebih lanjut Musdah Mulia memaparkan tentang refleksi sumpah pemuda  dalam Video berikut ini:

Selain Musdah Mulia, pembicara lainnya yang hadir adalah Pdt. Dr. Japarlin Marbun, Dr. Rusli Tan (WALUBI), Drs. Nyoman U. Sangging (Hindu), Fajar Rizal UL Haq (Maarif Istitute), Kris Tan (Konghucu), dan  Lydia Natalia (PMKRI), dengan moderator Partogi Samosir.

Sementara Ketua Umum BPH GBI, Pdt. Dr. Japarlin Marbun mengamati  kaum muda sekarang sedang mengalami krisis identitas.

Juga, melunturnya wawasan kebangsaan dan spirit Sumpah Pemuda dikalangan pemuda saat ini.

Konflik sosial yang terjadi diberbagai daerah dengan nuansa SARA, menurut Japarlin, mengancam kemajemukan dan pluralisme di Indonesia.

“Sebab itu perlunya revitalisasi spirit Sumpah Pemuda agar pemuda kita menghargai perbedaan dan merajut kebersamaan untuk membangun bangsa ini,” kata dia.

Dr Rusli Tan, dari Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) dalam refleksinya menekankan pentingnya untuk selalu berbuat kebajikan.

“Kami diajarkan untuk memberi dan banyak berbuat kebajikan. Semakin banyak berbuat kebajikan maka semakin baik,” kata dia

“Pun, jangan sekali-kali kita merasa lebih hebat dari orang lain.”

Rusli berpendapat ketika ada rumah ibadah yang dibakar itu menandakan polisi tidak hadir.

“Seharusnya polisi menindak dan melakukan penegakan hukum. Jadi polisi harus kembali kepada tugasnya untuk mengayomi masyarakat,” tandas dia.

(VICTOR)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Translate »