Breaking News

INGATAN AKAN KEMARAHAN ITU SENDIRI SESUNGGUHNYA ADALAH SEBUAH KEMARAHAN PENDEK

"BREVIS IRA EST IPSA MEMORIA IRACUNDIAE. INGATAN AKAN KEMARAHAN ITU SENDIRI SESUNGGUHNYA ADALAH SEBUAH KEMARAHAN PENDEK"

Jakarta, ONLINEKRISTEN.COM – Dalam menjalani kehidupan ini dengan berbagai dinamika di dalamnya, kita tentu pernah marah. Marah kepada seseorang, pribadi, atau bahkan marah kepada lembaga/institusi, kantor tempat kita bekerja.

Ya, marah besar atau kecil dalam aneka ragam bentuk dan wujudnya, dengan kata-kata disertai bahasa tubuh. Marah itu sejatinya sesuatu yang wajar, manusiawi dan biasa-biasa saja sepanjang ada faktor penyebab yang jelas.

Seorang yang marah adalah seorang yang merasa tidak senang, gusar, berang terhadap sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.

Kondisi marah adalah reaksi dari suatu kondisi yang dihadapi/dialami atau yang di dengar tentang sesuatu hal yang dirasakan berbeda dengan pemikirannya atau angan-angannya.

Sekarang dalam dunia yang tengah kita hidupi ini, marah dan atau kemarahan telah menjadi “produk unggulan”. Hampir disemua sektor kehidupan, marah menjadi amat dominan dan berkuasa.

Dalam rumah tangga, dikantor, di rumah rakyat, dipasar, di mall, di supermarket, di rumah sakit, di poliklinik, di bank, di sekolah, di kampus, di bandara, di ruang-ruang publik marah merajalela dan menjadi warna utama.

Mereka marah karena tidak dilayani dengan baik, atau karena konsumen yang tidak antri malah lebih dulu dilayani. Dalam kasus-kasus tertentu bukan hanya banyak orang yang tidak dilayani dengan baik, tetapi mereka juga mendapat kekerasan dan tindakan diskriminatif.

Di rumah tangga di zaman ini tidak hanya orangtua yang marah kepada anaknya, atau suami yang marah kepada istrinya. Dalam banyak kasus yang kini terjadi adalah anak-anak yang marah kepada orang tuanya, atau istri yang memarahi suaminya. Kemarahan bukan hanya emosi yang meledak-ledak tetapi terkadang diikuti berbagai tindak kekerasan yang melawan hukum.

Jika mencermati informasi media, ada juga kemarahan yang disertai penyiksaan fisik dan yang kemudian berujung pada pembunuhan. Kisah-kisah seperti itu berulang kali terjadi, di berbagai wilayah negeri ini dan bisa dikatakan sebagai wajah lain dari modernisasi.

Agama-agama mengajarkan agar ditumbuhkan sikap saling mengasihi antar umat bukan sikap benci, marah, permusuhan. Agama Kristiani mengajarkan “jangan simpan kemarahanmu sampai matahari terbenam”.

Nada-nada seperti itu dipastikan diajarkan oleh agama-agama sehingga hidup manusia diwarnai oleh sikap saling mengasihi, lemah lembut dan penguatan tali silaturahim.

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini menegaskan agar kita jangan lagi mengingat kemarahan sebab mengingat kemarahan adalah kemarahan pendek. Kita harus berupaya menghindarkan diri dari sikap marah, sekaligus melupakan kemarahan yang pernah kita lakukan. Selamat berjuang! God bless.

Weinata Sairin.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Translate »