Breaking News

INI DIA DAMPAK KETIADAAN FIGUR AYAH DALAM KELUARGA

DAMPAK KETIADAAN FIGUR AYAH

ONLINEKRISTEN.COM, JAKARTA – Seorang ayah perlu hadir dalam keluarga. Kalimat itu diucapkan Cassie Carstens (foto kanan bawah) pada sesi kedua Konferensi Nasional I Pelayanan Ayah di GBI Ecclesia, Semanan, Cengkareng, Jakarta Barat, 28 – 30 Agustus 2017 dengan tema  “Indonesia Needs a Father, Restoring Father, Restoring Nation!” (Indonesia Membutuhkan Seorang Ayah. Restorasi Ayah, Restorasi Bangsa!.

Pada sesi pertama, Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro, SpKJ (Ketua Pembinaan Keluarga BPH GBI dan Pokja Keluarga) menyampaikan paparannya yang berjudul “Empat Pilar Hati Ayah” [Four Pillars of Man’s].

Cassie membagikan pengalamannya, masalah serius yang saat ini terjadi di benua Afrika adalah fatherless (ketiadaan figur ayah).

Banyak peristiwa kekerasan di sana yang memakan korban terbunuhnya para bapak, istri dan anak-anak. Bahkan bayi dalam kandungan dibunuh oleh pemberontak bersenjata.

“Krisis yang terjadi dalam suatu bangsa, bisa terselesaikan jika masalah fatherless ini diatasi,”ujarnya optimis.

Lebih lanjut, ia mengutip pandangan Stephen Baskerville dari Universitas Howard “Hampir setiap masalah sosial besar terkait dengan ketiadaan bapak. Kriminal kejam, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, kehamilan para remaja, bunuh diri, semuanya berhubungan lebih dekat dengan ketiadaan bapa dibanding faktor lainnya”.

Empat Keprihatinan Utama Skala Global. Cassie menambahkan hasil riset di banyak negara dalam lima tahun terakhir, kehidupan keluarga yang tidak berfungsi merupakan krisis dunia yang terbesar.

Sementara itu, menurutnya empat keprihatian global terdiri dari keluarga, korupsi, kurangnya nilai-nilai moral dan (minimnya) pendidikan.

Mengutip dari situs www.fathersforlife.org, Cassie memaparkan data-data keluarga tanpa ayah: 1,63% kasus bunuh diri. 2,70% remaja menghuni LP (Lembaga Permasyarakatan), 3,40% tidak tinggal bersama ayah mereka, 4,85% anak bermasalah dengan perilaku, 5,71% anak mengalami putus sekolah.

Di akhir sesi, ia menekankan betapa pentingnya kehadiran seorang figur ayah dalam suatu keluarga.

Cassie Carstens adalah pelatih para pemimpin transformasional. Ia mendirikan Sekolah kepemimpinan Pelayanan olahraga International (ISLS) pada tahun 1999, dan mendirikan African Leadership Institute for Community Transformation (ALICT) pada tahun 2004.

Dia memulai gerakan pemuridan global bernama Ubabalo (yang berarti Grace of God), yang sekarang sudah beroperasi di 140 negara, di mana pelatih olahraga dilatih untuk menjadi pelatih kehidupan dan menjadi panutan dalam pembapaan kepada para remaja dan pemuda.

Sebagai pendeta tim Piala Dunia Rugby Afrika Selatan 1995 yang menerima piala juara dari presiden, Nelson Mandela, ia telah melihat langsung rekonsiliasi serta transformasi masyarakat dan budaya dapat terwujud melalui olahraga.

Dia juga menjabat sebagai pimpinan Koalisi Pelayanan Olahraga Internasional (ISC), yang bertanggung jawab untuk pelatihan bagi sekitar 100.000 pemimpin per tahun.

Kini, fokus utama Cassie adalah untuk menangani wabah global berkaitan dengan ketiadaan figur ayah.

Dalam melakukannya, beliau memulai gerakan yang sekarang dikenal “The World Needs A Father” (Dunia Membutuhkan Ayah) dan menulis sebuah buku luar biasa dengan judul yang sama, yang benar-benar membahas masalah ketiadaan figur bapa tersebut.

(Sumber: beritabethel)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Translate »