Breaking News

LALU IA BERKATA KEPADA MEREKA : “HAI KAMU ORANG BODOH BETAPA LAMBANNYA HATIMU SEHINGGA KAMU TIDAK PERCAYA SEGALA SESUATU YANG TELAH DIKATAKAN PARA NABI!”

ONLINEKRISTEN.COM, JAKARTA – Peristiwa duka seputar kematian Yesus yang menghunjam kedirian para murid, agaknya hampir menghapus berbagai memori penting yang tersimpan dalam filling pemikiran para murid. Mereka melupakan hal-hal fundamental berhubungan dengan iman mereka, mereka terfokus pada peristiwa kematian Yesus yang bagi mereka adalah sang hero yang menjanjikan pembebasan dan masa depan.

Mereka tak habis pikir bagaimana sang hero yang dengan lantang dan gagah berani dalam berbagai khotbahNya mendeklarasikan diri sebagai sosok pembebas, penyelamat bisa mati.

Apalagi dengan informasi terakhir yang dianggap valid dan bukan hoax yang dikabarkan oleh beberapa perempuan, mayat Yesus telah tak ada dalam kubur! Murid-murid itu kecewa, takut dan panik, mereka pikir jangan-jangan Yesus hanyalah pemberi harapan palsu (PHP) atau janji-janji manis bak janji paslon pemimpin dalam pidato berapi-api ditengah konstituen yang dianggap tidak cerdas.

Kisah yang terjadi di “kampung Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem”, sebuah kisah yang amat spesifik yang bisa ditemui dalam Injil Lukas, menguak sesuatu yang interesan yang bisa kita shoot dari berbagai angle.

Kematian Yesus tentu saja menjadi “trending topic” pada hari itu, apalagi dengan berbagai perkembangan baru yang menyekitari kasus itu. Dalam realitas kondisional seperti itu kedua orang murid berjalan menuju ke Emaus dan tatkala mereka sedang berdiskusi tentang topik itu tiba-tiba Yesus, yang menjadi pokok diskusi join mereka bersama mereka di jalan ke Emaus.

Aspek kontras dan suspend-nya cerita ini bukan saja terletak pada saat Yesus join bersama dua orang murid yang sedang membahas topik tentang Yesus, tetapi juga tatkala kedua orang murid itu sama sekali tidak mengenal sosok Yesus.

Ironis dan tragis sekali bahwa mereka berjalan bersama Yesus, berdiskusi tentang Yesus tetapi mereka tidak kenal bahwa sosok yang mereka diskusikan itu sedang ada bersama mereka. Mereka tidak melihat, mata rohani mereka juga rabun parah, daya sensitivitas mereka tidak berfungsi.

Malahan Kleopas salah seorang dari mereka menuduh Yesus orang asing yang tidak well informed dengan topik yang sedang hangat dibicarakan publik. Murid-murid dengan sedikit arogan dan lebay malah menceritakan kepada Yesus segala sesuatu yang terjadi diseputar kematian Yesus.

Ketika Yesus melihat bahwa mereka cukup detil dan kronologis menceritakan tentang kisah Yesus namun mereka tidak sadar dan tidak mengenal bahwa Yesus itu sendiri sedang berada ditengah mereka maka meluncurlah kata-kata Yesus pada ayat 25 ini.

Disini Yesus mengeritik keras kondisi para murid yang lamban dan tidak percaya terhadap apa yang sudah dikatakan para nabi. Mereka tidak cerdas , tidak berpikir dengan baik sehingga mereka tidak mampu menyelaraskan nubuat para nabi dengan apa yang terjadi pada Yesus yang sebenarnya adalah implementasi dari nubuatan itu sendiri.

Para murid gagal faham, mereka out of focus mereka abai terhadap sejarah, terhadap nubuatan para nabi. Mereka tidak profesional, mereka tidak memiliki kompetensi.

Bacaan ini mengingatkan kita warga Gereja agar kita “tidak bodoh” untuk memahami tanda-tanda zaman agar kita cermat dan cerdas dalam berkontribusi bagi bangsa.

Begitu asyiknya kita dalam menjalankan tugas kita, termasuk tugas pelayanan Gereja sehingga kita tidak mampu mengenal Yesus yang justru hadir ditengah kita. Ini ironis dan tragis jika terjadi dalam kekristenan kita.

Kisah Emaus mengingatkan hal penting bagi kita, menyadarkan kita untuk mempertajam daya sensitivitas kita, mempertajam penglihatan dan visi kita.

Selamat merayakan hari Minggu. God bless.

Weinata Sairin

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Translate »