Breaking News

MENEBAR BENIH CINTA DEMI MENGUBAH DUNIA

Oleh : Weinata Sairin

“Do not think that love, in order to be genuine, has to be extraordinary. What we need is to love without getting tired” (Bunda Theresa)

Cinta, (love) dalam bahasa apapun juga, telah membuat relasi antar manusia memiliki kualitas tertentu, bahkan telah memberi makna yang spesifik bagi peradaban manusia.

Kita tak mampu membayangkan jika rasa cinta tak pernah lahir dan tumbuh dalam sejarah manusia.

Sikap vandalisme, arkaistik dan berbagai sikap negatif lainnya akan tetap menguasai peradaban manusia andaikata ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’ tidak menjadi nafas dan roh dari kedirian manusia.

Ada banyak kisah kuno yang berkaitan dengan cinta, yang bisa memberi inspirasi bagi kita yang hidup di kekinian zaman.

Adalah seorang Sint Agustine yang dalam doanya pernah mengungkapkan : “Tuhan, kiranya aku bisa mengenalMu agar aku bisa mengenal diriku sendiri. Dengan demikian aku bisa mencintaiMu dan memandang hina diriku”.

Dalam pemahaman seorang Agustine mengenal Khalik dengan lebih baik akan mengantarkan dia pada sikap pengenalan diri lebih optimal bahkan melaluinya bisa terlahir rasa cinta kepada Sang Khalik dan memandang hina diri sendiri sebagai makhluk ciptaan yang berbalut kefanaan.

C.S Lewis menyatakan dalam sebuah testimoni : “Aku ingat dulu seorang guru beragama Kristen menyatakan kepadaku bahwa aku harus membenci tindakan jahat seseorang, tetapi jangan membenci orangnya.

Aku dulu mengira bahwa itu adalah pembedaan yang konyol. Bagaimana mungkin kita bisa membenci tindakan seseorang tanpa membenci orangnya ?

Tetapi beberapa tahun kemudian terpikirkan olehku bahwa ada seseorang yang kuperlakukan seperti itu sepanjang hidupku yaitu diriku sendiri”.

Testimoni Lewis ini memang bertolak dari pandangan Yesus bahwa yang dibenci adakah perbuatannya, dosanya, the sin, not the sinner. Dosanya, dan bukan si pendosa !

Resonansi ajaran Yesus itu masih tetap menggema dan menjadi referensi dalam pengambilan keputusan di era kekinian.

Memang tidak cukup mudah dan sederhana untuk memilah antara dosa yang dibuat seseorang dengan pribadi orang itu sendiri.

Banyak dari kita melihatnya secara menyatu, integral. Oleh karena banyak dari antara kita yang membenci dosa seseorang sekaligus juga membenci orang si pelaku dosa.

Cinta, love itu buta kata orang sejak zaman baheula. Ia bisa tumbuh dan lahir dari rahim yang inklusif, yang menolak dan menentang keberbedaan.

Ia, sang Cinta tidak mengenal warna kulit, agama, primordialisme, suku, strata soaial, pendidikan, afiliasi politik, denominasi agama.

Ia bisa hadir dan tumbuh di dalam nurani siapa saja. Cinta itu membentang seluas dunia; bahkan di dunia yang penuh asap mesiu karena berebut lautan atau karena berebut isi perut bumi.

Seorang penyair Aceh, Mohd Harun Al Rasyid dalam puisi berjudul “Dalam Sajadah Cinta” melafaz seperti ini.

“Dimana-mana ada sajadah cinta/
Terbentang dalam iman/
Dimana-mana ada kerinduan pada kenangan/
Yang lama tersimpan diangan/
Ahai, di matahati bermilyar pesan.

Dalam “Pohon Cinta” Rasyid juga melantun pelan :

“Pohon cinta yang tumbuh di lapang dada/
Bergoyang dalam senda/
Aku menatapnya dengan manja/
Ahai, alangkah wangi semesta.

(Sumber : “Membaca Suara-suara” Mohd Harusn Al Rasyid, Citapustaka Media Perintis, Bandung , 2012)

Bagi Rasyid penyair kelahiran Pidie Aceh 5 Maret 1966, Cinta itu bukan lagi sesuatu yang lokal dan domestik, cinta itu telah mengglobal, cinta tidak hanya hadir di kedai-kedai kopi di tanah rencong, cinta telah menjadi sesuatu yang berdimensi mondial.

Agana-agama, Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sejatinya mengajarkan cinta kasih sejak awal, dalam istilah dan terminologi yang khas dan spesifik.

Cinta kasih antar umat manusia harus dikembangkan terus sebagai makhluk ciptaan Allah, sebab Allah itu adalah Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Bahwa kemudian manusia lebih menampilkan sikap sangar, keras, pendendam, pembunuh, lebih suka merancang kejahatan, memproduk hoax dan ujaran kebencian itu terjadi karena manusia tidak taat kepada perintah agama, dan -menurut bahasa agama- manusia terkena bujuk rayu iblis, setan atau istilah apapun yang digunakan.

Benih-benih cinta yang ada dalam diri manusia harus dirawat dengan tekun dan sabar agar ia makin besar dan menguasai kedirian msnusia.

Cinta tidak memerlukan sesuatu yang luar biasa, kata pepatah. Kita hanya harus mencintai orang lain tanpa lelah, termasuk mencintai mereka yang berbeda dengan kita, bahkan mereka yang memusuhi kita; yang terus berusaha nembunuh tubuh fisik kita, membunuh karakter kita.

Kita harus mengasihi tanpa jemu dan lelah semua mereka itu karena Allah sudah lebih dulu mengasihi kita tanpa lelah. Mari bentangkan sajadah cinta.

Mari kobarkan api cinta. Mari tanam pohon cinta. Mari ungkapkan narasi-narasi cinta dan wujudkan cinta kasih dalam tindak nyata.

Selamat Berjuang. God bless.

Weinata Sairin.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »