Breaking News

PDTI, Melawan Kekerasan dengan Toleransi

Arseto Pariadji

Persatuan, demokrasi dan toleransi adalah tiga kata penting dalam gerakan organisasi PDTI (Persatuan Demokrasi dan Toleransi Indonesia) yang didirikan dan diketuai oleh Arseto Pariadji.

Ketiga kata ini yang kemudian yang melatarbelakangi berdirinya PDTI. Arseto melihat persatuan, demokrasi dan toleransi di Indonesia masih jauh panggang dari api.

Soal persatuan, misalnya. Persatuan adalah kata yang ampuh ketika itu diimplementasikan dalam rangka mengusir penjajahan dari muka bumi Indonesia.

Sebab itu, persatuan dan kesatuan mesti dirawat dan dipertahankan dari segala bentuk perpecahan yang mencoba merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kini, persatuan kita mengalami rongrongan dengan adanya gerakan radikalisme agama yang mencoba memecah belah persatuan dan kesatuan Indonesia,” kata Arseto di Jakarta, (2/1).

pdti logoDemikian halnya ketika berbicara demokrasi. Arseto mengamati Indonesia masih menjalankan demokrasi prosedural atau lebih menekankan pada aturan dan tata cara demokrasi semata.

Dengan kata lain demokrasi prosedural lebih menekankan kepada penguatan sistem yang ditegakkan oleh prosedur-prosedur formal yang memungkinkan budaya demokrasi dapat berjalan dengan baik.

Sementara kita mestinya menekankan demokrasi substansial yang menghendaki demokrasi sebagai suatu nilai-nilai atau budaya yang memungkinkan rakyat bisa memiliki kedaulatan dalam arti yang sesungguhnya.

Beberapa nilai hakiki demokrasi, antara lain, adalah menghormati hak dan kebebasan orang lain, menjunjung tinggi adanya pluralisme budaya, adanya toleransi dan anti kekerasan.

Terkait toleransi, Arseto menjelaskan toleransi tidak melulu merujuk kepada konteks keagamaan akan tetapi juga dipakai dalam konteks sosial dan budaya dan aspek lainnya.

Toleransi berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.

Semisal adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda.

Arseto yakin semua agama pasti mengajarkan toleransi. Kendati begitu, acapkali isu agama sengaja dipancing oleh oknum-oknum tertentu untuk mengacaukan negara ini.

Dalam catatan toleransi keberagaman selama tahun 2014, Areseto menilai toleransi keberagaman di Indonesia masih saja belum maksimal dilakukan.

Hal ini dapat dilihat masih adanya gereja yang tidak dapat beribadah di gerejanya meskipun sudah mendapatkan putusan inkrah dari Mahkamah Agung seperti yang dialami oleh GKI Yasmin dan HKBP Filadelphia. Kasus intoleransi ini berlarut-larut tidak juga bisa diselesaikan meskipun sudah ganti pemerintahan.

“Saya berharap agar pemerintah daerah setempat membuka kembali segel GKI Yasmin agar mereka dapat beribadah kembali seperti semula. Pun, sebetulnya pemerintah pusat punya power untuk mengontrol bawahannya di daerah agar kasus GKI Yasmin tidak berlarut-larut sehingga mereka acapkali terpaksa ibadah di seberang Istana Negara,” kata Arseto, jebolan Post Graduate Diploma in Hotel Operations Management, Swiss ini.

Visi dan Misi PDTI

Berdirinya PDTI ini tebersit tatkala Arseto bertemu dan bertukar pikiran dengan Abangnya, Aristo Pariadji, yang kini menjadi anggota DPRD DKI Jakarta, untuk membuat suatu perkumpulan yang menyuarakan pentingnya toleransi antara sesama manusia.

Menurutnya, toleransi bukan hanya sebatas soal agama tapi mencakup semua aspek. Misalnya, toleransi hubungan pemerintah dengan rakyat, hubungan antara partai politik dan antar sesama.

Arseto merasa tak nyaman manakala acapkali masih terdengar berita soal intoleransi yang sudah tidak zamannya lagi.

“Sebagai anak bangsa yang lahir dari lingkungan gereja, Saya merasa terpanggil untuk membentuk organisasi yang memperjuangkan nilai-nilai persatuan, demokrasi dan toleransi di Indonesia,” jelas Arseto, anak bungsu dari Pdt DR (HC) Yesaya Pariadji, Gembala Sidang Geraja Tiberias Indonesia ini.

Organisasi yang dibuatnya ini bukanlah dalam rangka mengumpulkan massa namun lebih kepada menyuarakan toleransi dan memberikan masukan kepada institusi pemerintah dan wakil rakyat.

Melalui visi dan misi PDTI, Arseto menginginkan Indonesia menjadi negara yang damai dan kuat. Baik kuat dalam hal ekonomi, pendapatan perkapitanya diatas rata-rata dan infrastruktur yang nyaman.

“Saya berharap PDTI menjadi organisasi berskala nasional. PDTI akan melawan kekerasan dengan toleransi. Kami ingin merangkul semua kalangan sehingga persatuan akan senantiasa terjaga,” seru Arseto yang akan terus menimba pengetahuannya tentang perpolitikan melalui perkuliahan di Universitas Pertahanan nantinya.

PDTI akan terus mengajak seluruh masyarakat di sekitar Jabodetabek untuk bergabung untuk memperjuangkan dan menyuarakan toleransi di Indonesia. Ia menegaskan PDTI tak ada kaitannya dengan partai tertentu.

(VICTOR)

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Translate »