Breaking News

Serius Aut Citius Sedem Properamus Ad Unum: “Cepat Atau Lambat Kita Semua Akan Bergegas Ke Satu Tempat Yang Sama”.

Oleh: Weinata Sairin

LIFE

ONLINEKRISTEN.COM, JAKARTA – Hidup, kehidupan bukanlah sebuah kediam-diaman; duduk manis sambil pikiran menerawang menembus dunia lain. Hidup tidak juga sesuatu yang begitu saja mengalir, yang “alon-alon asal kelakon”, yang ikut arus saja, atau mengikut arah angin.

Hidup, kehidupan adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang dinamik, bergerak, terarah kedepan, menuju ke titik akhir, ke terminal penghabisan.

Ada yang memberi metafora tentang kehidupan itu adalah sebuah perjalanan. Hal itu amat tepat dan menarik karena dengan demikian kehidupan itu dimaknai sebagai sebuah perarakan dari umat manusia yang tengah menuju titik terakhir.

Dalam perspektif pemikiran kristiani manusia dalam kehidupan ini adalah manusia yang tengah berjalan dari kota dunia (Civitas terrena) menuju ke kota Allah (Civitas dei). Manusia tengah menyusuri sebuah perjalanan dari kota kefanaan menuju ke kota keabadian/kekekalan.

Perjalanan adalah sebuah aktivitas yang berlangsung kontinyu, sebuah gerak dinamik ditengah ruang waktu yang memungkinkan terjadinya berbagai interaksi.

Perjalanan membutuhkan energi, perjalanan juga memerlukan peta agar kita tetap berada pada arah yang tepat. Perjalanan memerlukan pemikiran, siasat, strategi agar kita tiba di terminal penghabisan tepat waktu, tetap sehat dan segar.

Tatkala hidup, kehidupan diberi metafora perjalanan maka hal itu amat tepat sehingga hidup dan kehidupan itu bukan suatu yang stagnan, mapan (established) tetapi yang bergerak dan dinamik sebagai sebuah arak-arakan bersama menuju titik puncak.

Hal yang cukup penting bahkan amat penting jika kita bicara tentang hidup, kehidupan tidak hanya terletak pada aspek metaforanya tetapi terlebih pada ujung, muara, titik kulminasi dari kehidupan itu sendiri.

Dalam konteks itu agama-agama secara jelas mengajarkan bahwa diujung perjalanan kehidupan ini ada kematian yang merupakan terminal antara sebelum manusia memasuki kehidupan yang baru, pada era yang baru.

Kita manusia, siapapun kita, apapun agama, suku, ras , golongan, fraksi, almamater kita, kita semua sedang dalam proses berjalan menuju ke terminal terakhir. D. Kemalawati penyair terkenal kelahiran Meulaboh Aceh (1965) dengan padat kuat menuliskan dalam puisinya berjudul “Menujumu”, demikian malam rembulan gamang hati bersayap lumpuh menujumu dalam jejak sunyi terasa mati”

Dalam varian dan bahasa yang agak sedikit berbeda, penyair senior yang terkenal Kuntowijoyo menuangkan narasi filosofis-puitis dalam puisinya berjudul “Sesudah Perjalanan” berikut.

“Sesampai di ujung
engkau menengadah ke langit
kekosongan yang lembayung

Ayolah, Ruh tiba saatnya
engkau menyerahkan diri

Sunyi mengantarmu ke kemah
dibalik awang-uwung
dimana engkau istirahat
sesudah perjalanan yang jauh”

Baik Kemalawati maupun Kuntowijoyo keduanya dalam pengungkapan dan angel yang berbeda memberikan penyadaran bahwa umat manusia sedang berjalan menuju ke tempat tertentu.

Ke terminal penghabisan, lewat terminal akhir itu manusia menanggalkan kefananaannya dan memasuki era kekekalan dalam sebuah tatanan baru sebagaimana yang telah diwartakan oleh agama-agama.

Pada “Menujumu” dan “Sesudah Perjalanan”, Kemalawati dan Kuntowijoyo mengajak para pembacanya untuk bersiap diri memasuki terminal akhir dalam keteguhan iman.

Dalam jejak sunyi manusia memasuki era baru, dan di kemah dibalik awang-uwung manusia menikmati istirahat penuh.

Pepatah yg dikutip diawal bagian ini mengingatkan kita bahwa kita semua sedang dalam posisi menuju ke suatu “tempat yang sama”.

Tempat itu adalah “terminal penghabisan” dari rangkaian perjalanan kehidupan. Tempat itu adalah lembah maut, yaitu tatkala sang maut datang menjemput kita manusia dan kita tidak bisa lakukan negosiasi apapun.

Hidup, mati dan kehidupan sesudah kematian adalah hak prerogatif dan domain Allah. Kita manusia tak pernah tahu kapan kita di terminal penghabisan, di lembah maut itu.

Persoalan kita bukan kapan kita tiba di terminal itu, bukan berapa lama (durasi) kita hidup di dunia. Persoalan fundamental adalah apakah selama kita diberi nafas hidup oleh Allah, selama kita hidup ditengah dunia, kita sudah menjadi penganut agama yang menaati perintah agama.

Apakah kita sudah mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita dengan setia dan konsisten ? Mari sambil bergegas ke terminal penghabisan, kita merenungkan pertanyaan reflektif tersebut.

Selamat berjuang. God bless.

Weinata Sairin.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Translate »