Breaking News

WAPRES JK BUKA PEKAN KERUKUNAN NASIONAL DAN GLOBAL CHRISTIAN YOUTH CONFERENCE

Wapres Jusuf Kalla membuka Pekan Kerukunan Nasional dan Global Christian Youth Conference yang kala itu didampingi oleh Gubernur Sulut Olly Dondokambey, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, General Secretary World Student Christian Federation (WSCF) Necta Montes dan Ketum PP GMKI Sahat Martin Philip Sinurat

ONLINEKRISTEN, MANADO – Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pentingnya kedamaian sebagai  syarat bagi suatu negara untuk meraih cita-cita menjadi negara maju yang makmur.

“Tidak ada negara yang maju tanpa kedamaian. Kedamaian artinya saling menghormati, hidup rukun dengan sebaik-baiknya, saling mengamalkan keyakinan kita secara baik,” kata Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK), dalam sambutannya, pada pembukaan Pekan Kerukunan Nasional 2017 dan Pembukaan Global Christian Youth Conference di Ballroom Sintesa Peninsula Hotel, Manado, Sulawesi Utara, Minggu, 23 April 2017.

Turut hadir mengikuti acara tersebut, antara lain, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dodokambey, Sekretaris Jenderal PGI Pdt. Gomar Gultom, Ketua PGI Pdt Albertus Patty, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Utara HWB Sumakul dan Ketua Panitia Pekan Kerukunan Nasional Jackson Kumaat, General Secretary World Student Christian Federation (WSCF) Necta Montes, dan Ketua Umum PP GMKI Sahat Martin Philip Sinurat.

Lebih lanjut JK yang kala itu hadir didampingi istrinya, Mufida Jusuf Kalla, mengatakan dalam menjaga kedamaian dan perdamaian tersebut maka harus mengutamakan persamaan dan menghormati perbedaan.

“Semua agama mempunyai tujuan yang sama yakni kebaikan dan tidak ada agama yang menghendaki keburukan,” tegas dia.

Setiap agama, lanjut JK, memiliki persamaan, yakni percaya dengan yang maha kuasa, maha pengasih dan maha penyanyang, meskipun dengan istilah dan pemahaman yang berbeda.

“Agama juga mempercayai adanya hari kemudian setelah kehidupan. Artinya apa, apa yang diperbuat di dunia ada balasan pada hari itu,” jelas dia.

Sebab itu, kata JK, meskipun secara ritual dan cara beribadah berbeda, namun tetap saling menghormati dalam perbedaan.

JK mengingatkan kepada seluruh masyarakat bahwa menghormati perbedaan merupakan syarat penting untuk meraih kemajuan suatu bangsa. Toleransi, saling menghormati satu sama lain dan menghormati perbedaan.

“Menghormati, artinya, tidak mencampuri satu sama lain urusan internalnya, tidak mencela tapi menghormati perbedaan, itulah akan menjadikan masa depan yang baik suatu bangsa,” tegas dia.

JK dalam kesempatan itu mengapresiasi Sulawesi Utara yang telah mampu menjaga kedamaian dan kerukunan antar umat beragama.

Sementara itu Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, dalam sambutannya, menyatakan bahwa kehidupan masyarakat Sulut hingga kini berjalan rukun dan damai meskipun hidup dalam kemajemukan.

“Semua ini terjadi berkat kerja nyata dan pengabdian yang tulus dari pemangku kepentingan seperti TNI, Polri, tokoh agama dan tokoh masyarakat,” terang dia.

Hal lainnya, menurut Olly, masyarakat disini dapat hidup rukun dan damai oleh karena menghayati falsafah “Si Tou Timou Tumou Tou” yakni manusia hidup untuk memanusiakan yang lain.

“Yakni, kesadaran untuk senantiasa hidup berdamai dengan Tuhan, berdamai dengan manusia, berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan lingkungan, karena kita makhluk Tuhan,” tegas dia.

Olly berharap Pekan Kerukunan Nasional ini bukan agenda seremonial semata, melainkan sebuah kebutuhan.

“Kiranya para peserta yang hadir saat ini dapat secara langsung menerapkan kehidupan yang rukun dan damai di Sulut sehingga dapat diadopsi daerah lain,” tandas dia.

(OK-1)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Translate »