Buka Persidangan Sinode Tahunan GPIB, Ketua MPR: Harusnya Tidak Ada Lagi Orang Meributkan Pembangunan Gereja

"Harusnya tidak ada lagi orang yang meributkan orang membangun gereja dan rumah ibadah, karena itu persoalan kita pribadi dengan Tuhan. Yang ada, harusnya saling membantu dan mengembangkan toleransi," ujar Bamsoet.

KRISTEN TV || VIRAL! PARA BIARAWATI NYANYIKAN LAGU IDUL FITRI, INDAHNYA KEBERAGAMAN

VIRAL, BIARAWATI NYANYIKAN LAGU IDUL FITRI
Ketua MPR RI bersama Bupati Bogor, Ketum Sinode GPIB, Ketua Panitia Pelaksana PST GPIB 2020 bersama jajaran pengurus GPIB
Ketua MPR RI bersama Bupati Bogor, Ketum Sinode GPIB, Ketua Panitia Pelaksana PST GPIB 2020 bersama jajaran pengurus GPIB

OnlineKristen.com | Ketua MPR RI Bambang Soesatyo membuka Persidangan Sinode Tahunan (PST) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) tahun 2020, yang ditandai dengan pemukulan gong sebanyak lima kali sebagai perlambang Pancasila, di Hotel Aston, Bogor, Jawa Barat, Rabu, 26 Februari 2020.

Persidangan yang berlangsung hingga 29 Februari ini akan membahas sejumlah hal penting. Diantaranya, melakukan evaluasi program kerja 2019-2020, membuat program kerja dan rencana anggaran 2020-2021 serta isu-isu penting lainnya terkait pelayanan GPIB. 

Baca Juga: Survei BARNA: Pemuda Ingin Gereja Jadi Laboratorium Kepemimpinan, Bukan Sekedar Spiritualitas

Acara yang disandingkan dengan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI ini dihadiri sekitar 685 peserta sebagai utusan dari seluruh GPIB yang ada di 26 provinsi. 




Musyawarah Pelayanan (Mupel) 2 Jawa Barat dipimpin Pdt Sonya Ansye Medyarto Sitaniapessy, STh, MMin, dipercaya sebagai panitia pelaksana.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo tengah memberikan Sosialisasi 4 Pilar di acara PST GPIB 2020
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo tengah memberikan Sosialisasi 4 Pilar di acara PST GPIB 2020

Dalam sosialisasinya, Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo mengatakan, sudah kuno bila ada pihak-pihak yang masih memperdebatkan perbedaan. 

Baca Juga: Bertemu Menko Polhukam, PGI Sampaikan 8 Gereja di Aceh Singkil Dibakar dan Tidak Boleh Dibangun

Bahkan, kata Bamsoet, ketimbang mempersoalkan suatu umat yang mau mendirikan rumah ibadahnya sendiri, lebih baik fokus pada persoalan kemiskinan, penegakan hukum, pengangguran, pendidikan yang masih minim, dan lainnya yang masih mengemuka di bangsa ini.




“Harusnya tidak ada lagi orang yang meributkan orang membangun gereja dan rumah ibadah, karena itu persoalan kita pribadi dengan Tuhan. Yang ada, harusnya saling membantu dan mengembangkan toleransi,” ujar Bamsoet.

Bamsoet menjelaskan, seharusnya bangsa ini senang dan bangga berada di bumi Indonesia yang memiliki benih-benih toleransi sejak dulu. 

Baca Juga: TB Silalahi: Kita Minoritas, Pemuda Gereja Harus Jadi yang Terbaik 

“Dan, itu diperkuat dengan keberadaan Pancasila sebagai pengikat kehidupan sosial kita. Praktik hidup bertoleransi ini sudah ada sejak ratusan tahun silam. Dan, kita sudah sepakat bahwa Indonesia bukan negara agama, serta Pancasila sebagai landasan hidup bersama,” ujar dia.




“Kemerdekaan beragama menjadi dasar tercipta kerukunan dalam masyarakat. Namun, kebebasan bukan tanpa batas. Batas yang dimaksud adalah dengan memberi kebebasan kepada pihak lain untuk memeluk agamanya sendiri. Dengan kata lain, tidak boleh ada pemaksaan dalam memeluk agama,” tambah dia.

Meski begitu, Bamsoet mengakui masih ditemukan peristiwa yang tidak mencerminkan toleransi. “Kita harus saling mengasihi. Pemerintah harus hadir dlm mendamaikan antar masyarakat,” serunya.

Baca Juga: Buka Sidang Raya XVII PGI, Menteri Hukum dan HAM: Gereja Galang Kekuatan SDM Hadapi Revolusi 4.0

Lebih jauh Bamsoet menyerukan kepada calon-calon pemimpin daerah yang ikut Pilkada Serentak September 2020 nanti. 




“Kepada para calon kepala daerah saya minta untuk tidak memakai isu-isu agama untuk mendapat dukungan dari rakyat. Menghina kelompok satu demi kepentingan kelompok lain. Kini, saatnya kita propagandakan hidup damai dan membangun kesepahaman. Bukan saatnya menghabiskan energi,” kata Bamsoet.

Sementara itu, Bupati Bogor Bima Arya Sugiarto, yang menjadi pembicara pada kesempatan itu menegaskan bahwa ia tidak mentoleransi hal-hal yang mau mempertentangkan hubungan sosial di wilayahnya, termasuk soal agama. 

Baca Juga: UMAT KRISTEN TERJUN POLITIK BUKAN REBUT KEKUASAAN TAPI UNTUK MELAYANI

“Kita sudah punya Pancasila yang jadi pedoman bersama. Mari sama-sama kita ikuti,” imbuhnya. 




Ia juga mengimbau para pendeta GPIB untuk membuka ruang dialog bersama dengan pemuka agama lain. 

“Bangun komunikasi agar tercipta kesepahaman. Dengan begitu, maka kerukunan pun bisa dinikmati bersama,” serunya.

Pada kesempatan itu, Ketua Umum Sinode GPIB Pdt Drs Paulus Kariso Rumambi MSi, menyambut baik dibukanya ruang dialog lintas agama. 




“Tentu, kami setuju membuka ruang-ruang dialog lintas iman. Kami akan membahasnya lebih jauh, sehingga seluruh GPIB dapat membangun dialog dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun tokoh lintas agama,” jelasnya. 

Pdt Sonya Ansye Medyarto Sitaniapessy, STh, MMin, Pendeta GPIB Pancaran Kasih dan Ketua Panitia Pelaksana PST GPIB 2020 usai memberikan keterangan kepada wartawan
Pdt Sonya Ansye Medyarto Sitaniapessy, STh, MMin, Pendeta GPIB Pancaran Kasih dan Ketua Panitia Pelaksana PST GPIB 2020 usai memberikan keterangan kepada wartawan

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Pdt Sonya Medyarto yang juga pendeta jemaat GPIB Pancaran Kasih Depok menjelaskan, dipilihnya Mupel Jabar 2 merupakan Keputusan Persidangan Sinode Tahunan 2019 di Denpasar, Bali, tahun lalu.

Baca Juga: Acapkali Jadi Tameng Batasi Peribadatan, PGI: Perber 2 Menteri Pendirian Rumah Ibadah Perlu Direvisi

“Tentu kami panitia yang berjumlah 90 orang bekerja keras agar seluruh acara ini bisa berjalan dengan baik,” ujarnya. 




Dia berharap acara ini bisa menghasilkan banyak hal positif, utamanya untuk program GPIB kedepan.

Selama acara ini, Pdt Sonya mengharapkan para peserta bisa menambah wawasan selama 3 hari pelaksanaan PST ini yang menghadirkan beberapa narasumber diantaranya, Pdt Dr AA Yewangoe, Andy Zain, Prof John Titaley, Pdt Rasid Rahman, dan Pdt Eben Nubantimo. 

Selain itu, bisa dihasilkan program-program positif yang nantinya bisa diterapkan di gereja masing-masing. (*)

(VIC)

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.