HIDUP BERDUA PENUH CENGKERAMA

HIDUP BERDUA PENUH CENGKERAMA

- in RENUNGAN
HIDUP BERDUA PENUH CENGKERAMAHIDUP BERDUA PENUH CENGKERAMA

HIDUP BERDUA
PENUH CENGKERAMA

 

hidup berdua dalam sebuah rumah
yang agak besar
penuh kesan
dan mengasyikkan
kedua anak
yang sudah menikah
hidup mandiri
lepas dari orangtua
membangun sejarah sendiri
merasakan nikmatnya pahit getir kehidupan
seperti yang sudah dialami
ayah dan ibunya
di tahun-tahun yang telah lewat

hidup berdua
mengusung ulang ingatan masa lalu
tatkala kami mengawali kehidupan di kota kecil yang sejuk : cimahi
takjauh dari bandung
tujuh november 1974 aku ditahbiskan menjadi pendeta di gereja kristen pasundan cimahi
dua belas agustus 1975
aku menikah di jakarta
dan kemudian aku bersama istriku tinggal berdua di pastori
rumah kependetaan
yang disiapkan oleh jemaat gkp cimahi
tinggal di pastori yang hanya memiliki satu kamar serbaguna
menggairahkan
menghangatkan
sambil membuat naskah kotbah
aku bisa terus memantau istriku
yang sedang menyiapkan masakan
disebelah kamar mandi kecil
di pastori itu
kuingat benar
kami menikmati makan siang
ditengah suara anak-anak smp yang kelasnya bersatu dengan pastori
siang hari air pam mulai menetes
dan kami menampung nya hingga bak air penuh
hidup seperti itu membuat badan sehat
dan pemikiran tetap dinamis
mengelola sebuah jemaat
dengan sekian banyak kasus rumah tangga
yang mesti ditangani dengan saksama
sangat interesan
kami menikmati hidup seperti itu 4 tahun
juli 1978 aku terpilih sebagai sekretaris umum sinode GKP dan mesti
pindah ke tempat yang baru
hidup di pastori 4 tahun dengan mengerjakan tugas-tugas standar sebagai pendeta jemaat lokal
mengukir pengalaman dan wawasan baru yang
amat bermakna
dalam menjalani tugas-tugas di masa depan




setahun sesudah kami menikah anak kami yang lelaki lahir
dan lima tahun kemudian anak kami yang perempuan lahir
kami kemudian hidup berempat dalam rumah tangga
sampai anak-anak kami
menikah dan membangun dunianya masing-masing

hidup berdua di usiaku 73 tahun
dan berbeda lima tahun dengan usia istriku sangat
menakjubkan
hidup dalam masa-masa seperti ini
adalah perjalanan hidup yang menarik
kami hidup mengembang
kan kesalingan :
saling bantu, saling menopang, saling mengingatkan
untuk minum vitamin dan untuk beristirahat, saling mendoakan, saling memperhatikan
saling memuji
saling memberi masukan dan saran
dan berbagai saling lainnya

kami berdua hidup dengan sukacita dan penuh pengharapan
hidup kami amat bergantung kepada Tuhan
yang setiap saat menaburkan berkat bagi kami
dengan cara-cara ajaib
yang takbisa diprediksi dan dikalkulasi
apa yang dulu kami nyatakan kepada warga jemaat bahwa Tuhan itu penuh kasih dan tidak membiarkan kita lapar
kini perkataan itu berlaku bagi kami
ditengah uang pensiun yang 2 tahun macet akibat kasus yang menimpa Asuransi Bumiputera
kami tetap hidup dan survive

kami kini berdua menatap hari depan
entah sampai kapan
nanti kami akan
sendiri
dan akan takada lagi
semoga anak-anak dan cucu-cucu
pada saatnya nanti akan meneruskan mimpi-mimpi kami
ide dan gagasan kami…

Jakarta, 15 November 2021/pk. 5.01

Weinata Sairin
Weinata Sairin

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

You may also like

Rakernas Sinode GKSI Tetap Rekomendasikan Rekonsiliasi, Frans Ansanay: Kami Tak Tabu Untuk Berdamai

OnlineKristen.com  | Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI)