Pendeta Dituntut 9 Tahun Penjara, Pengacara: “Teroris Pun Tak Dituntut Setinggi Itu”

KRISTEN TV || Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: JANGAN ADA TIM SUKSES

Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: Jangan Ada Tim Sukses
Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: Jangan Ada Tim Sukses

ONLINEKRISTEN.COM, Jakarta – Tommy Sihotang, Penasihat Hukum terdakwa Pendeta Matheus Mangentang STh dan Ernawaty Simbolon, kecewa terhadap perilaku penegak hukum yang masih saja gemar mempersekusi warga negaranya.




“Mengapa sih penegak hukum gemar sekali mempersekusi warga negaranya,” ujar Tommy Sihotang usai sidang pembacaan Nota Pembelaan kliennya atas nama Matheus Mangentang STh dan Ernawaty Simbolon di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, 4 Juni 2018.

Perlu diketahui, kasus ini bermula adanya laporan Frans Ansanay yang melaporkan Pdt. Dr. Matteus Mangentang dan Ernawati Simbolon atas kasus dugaan ijazah palsu.

Menurut Tommy, sebelumnya dulu terdakwa (Pdt Matheus Mangentang) dilaporkan soal penipuan juga, namun dibebaskan, lalu dikejar lagi.




“Gilanya lagi, masak pendeta dituntut sembilan tahun penjara, bahkan teroris pun tak dituntut setinggi itu. (Dari tuntutan 10 tahun) hanya dikurangi satu tahun. Berarti ini ada pesanan. Ada kepentingan siapa disitu. Dan terbukti ini masalah aset rupanya, makanya (kliennya) dikejar, ditahan, dituntut sembilan tahun penjara. Kayak kurang kerjaan saja penegak hukum kita ini,” imbuh dia.

Menurut Tommy, kasus seperti ini sangat mengecewakan lantaran masih banyak kasus gelap (dark number) yang tidak diusut.

“Yang beginian dikejar dan minta ditahan lagi. Wah, luar biasa bangsa ini, masak negara mengejar warga negaranya sendiri. Saya sangat kecewa betul. Kita akan lapor ini kepada Kejaksaan Agung, Jampidum (Jaksa Muda Pidana Umum), Jamwas (Jaksa Muda Pengawas) dan Komisi Kejaksaan,” tegas dia.



 

“Ini keterlaluan, menghabiskan uang negara yang enggak perlu, padahal dulu sudah putus kasus ini. Jadi, selesai dikejar lagi, selesai dikejar lagi, dua pidana satu perdata. (Kliennya) Ditahan, dikeluarin, diminta ditahan lagi, inikan becanda namanya. Dimana tanggung jawab mereka itu,” tambah dia.




Terkait saksi pelapor yang menyatakan mereka tidak lulus melamar kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena dianggap ijazahnya palsu, Tommy menjawab, “Lah, memang ada jaminan semua yang punya ijazah bisa jadi pegawai negeri. Lagipula kalau mau jadi pegawai negeri juga banyak faktornya, ada test kecerdasan, ada psiko test, ada test kesehatan, bukan soal ijazah saja. Dan pemegang ijazah lainnya (lulusan SETIA) juga ada yang jadi pegawai negeri”.  

(VIC)

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.