Puisi: Makam Itu Sepi

Puisi: Makam Itu Sepi

Puisi Makam itu Sepi

Makam Itu Sepi

 

makam itu sepi
rumput liar dan lalang menutupi
banyak makam
nama-nama yang terpahat di batu nisan
taklagi bisa terbaca dengan jelas

makam itu sepi
dihari raya seperti ini
takbanyak orang yang berziarah
bunga-bunga layu kering berserakan
tiada terurus
di sepanjang makam

hampir satu jam
baru kudapatkan
makam adikku
batu nisannya redup dan hitam
dimakan usia
lima tahun yang lalu ia mengakhiri hidupnya di balik jeruji besi
korupsi ratusan juta
dalam proyek pengadaan jalan tol membelenggu adikku di ruang lapas yang pengap

ia kecewa berat
bosnya yang meraup uang paling banyak dalam korupsi bersama
bisa terbebas dari tuntutan hukum
bahkan tetap nyaman bekerja
tiada tersentuh
proses peradilan

makam itu sepi
kicau burung sesekali memecah sunyi
sambil melangkah
pulang kubergumam:
“kapan hukum ditegakkan di negeri ini tanpa tebang pilih?
kapan hukum benar-benar dilaksanakan di negara hukum?”

makam itu sepi
ku melangkah pulang mengoyak sepi
makam penuh dengan mereka yang telah mati
hukum takboleh mati
hukum harus terus hidup membela kebenaran sejati!




Jakarta, 18 Maret 2021/15.00
Weinata Sairin.

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.