REFLEKSI ALKITAB: GUNAKAN WAKTU EFEKTIF DAN KREATIF

REFLEKSI ALKITAB: GUNAKAN WAKTU EFEKTIF DAN KREATIF

- in RENUNGAN
228
0
Weinata SairinWeinata Sairin

REFLEKSI ALKITAB: “GUNAKAN WAKTU EFEKTIF DAN KREATIF”

 

(Oleh: Weinata Sairin)

Minggu, 24 Oktober 2021

 

“Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar pergunakanlah waktu yang ada” (Kolose 4 : 5)

Hidup yang kita hidupi amat kaya dengan dimensi, ruang dan perspektif. Hidup tak bisa ditangkap hanya dalam satu perspektif, sebuah angle.

Hidup yang utuh dan penuh, yang holistik dan komprehensif mesti “di shoot” dalam multi angle.

Dengan menyadari begitu luasnya samudera kehidupan dan majemuknya dimensi kehidupan maka durasi kehidupan (yang mencapai usia efektif rata-rata 80an) bisa dikatakan amat pendek. Oleh karena itu durasi yang tersedia mesti didayagunakan secara optimal.


Baca juga:Refleksi Pdt (Em) Weinata Sairin, MTh Pada Ibadah Awal Minggu Kerja Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI

Hikmat, wisdom, yang biasa dikaitkan dengan Salomo adalah pengetahuan yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan penilaian sesuai dengan pengertian tersebut.

Masyarakat Yunani kuno menganggap bahwa hikmat adalah suatu kebajikan yang penting.

Itulah sebabnya banyak wisdom yang lahir dari negeri tersebut, selain juga filsafat.

Ada beberapa kata kunci dari Surat Kolose ini, yaitu hikmat, orang-orang luar dan waktu yang ada.

Paulus mengingatkan dengan cerdas kepada Jemaat Kolose agar mereka sadar dan siuman terhadap konteks yang dihadapinya.


Baca juga: Refleksi Alkitab: Tuhan Tidak Membuang UmatNYA

Ia meminta agar umat memberlakukan cara hidup yang bijaksana.

Sikap, perkataan dan perbuatan umat jangan menjadi batu sandungan, yang merugikan umat secara pribadi tapi juga bisa berdampak buruk bagi kehadiran kekristenan ditengah komunitas non Kristen.

Warga Jemaat Kolose hidup ditengah “orang–orang luar”, orang yang belum mengenal Kristus, orang yang memang berbeda iman.

Hidup ditengah-tengah orang luar membutuhkan seni tersendiri. Tidak bisa kita semaunya, seenak sendiri.

Berkata harus dengan hati-hati, mencari kata yang tepat, elegan, yang tidak membuka peluang multitafsir atau berpotensi “menista agama”.


Baca juga: Refleksi Alkitab: KASIH SETIA TUHAN SELALU BARU

Soal makanan juga harus amat hati-hati, demikian juga soal melakukan ibadah.

Di Sukabumi Selatan tahun 60-an warga jemaat Kristen disitu tak bisa kebaktian di rumah karena tetangga disekitarnya tidak suka mendengar orang menyanyikan lagu Gereja.

Diwilayah-wilayah terpencil tahun 70an Gereja Kristen Pasundan tidak selalu memasang papan nama Gereja jika tidak dianggap amat penting.

Kesemua itu dilihat dalam frame hidup penuh hikmat terhadap orang luar dan tidak sama sekali dalam konteks “menutupi menyelubungi kekristenan”.

Hidup penuh hikmat terhadap orang luar memerlukan penjabaran teknis sesuai dengan konteks tertentu.

Tak ada rumus yang umum dan baku yang bisa berlaku disemua wilayah.


Baca juga: REFLEKSI ALKITAB: BERDOA TANPA LELAH DAN JEMU

Menarik apa yang ditegaskan Paulus bahwa umat mesti menggunakan secara efektif waktu yang ada.

Artinya jangan sia-siakan waktu, gunakan secara optimal sehingga terwujud sesuatu yang lebih baik.

Kita fahami bersama bahwa Jemaat-jemaat Kristen abad pertama amat merindukan kedatangan Yesus kedua kali agar mereka bisa keluar dari dunia yang penuh derita dan mengecap dunia baru yang penuh damai sejahtera.

Sebuah “eskatologi presentis” saat itu memang menjadi harapan dari Jemaat Kristen mengingat hambatan dan penyiksaan terhadap umat Kristen terjadi terus menerus.

Bacaan ini penting untuk kita simak ulang ditengah berbagai kegaduhan yang mewarnai kehidupan kita membangsa dan menegara.


Baca juga: REFLEKSI ALKITAB || RANCANGAN TUHAN MENYELAMATKAN MANUSIA

Hikmat, sikap terhadap orang luar, kesadaran tentang waktu adalah hal-hal pokok yang mestinya menjadi perhatian utama kita dihari-hari kedepan.

Di zaman pandemi sekarang ini, kita juga harus memiliki kesadaran tentang waktu, tentang ruang, tentang konteks, tentang peta di depan kita.

Kesadaran seperti itu membuat kita lebih mampu dalam memprediksi, mengkalkulasi dan menentukan sikap serta melakukan positioning.

Sense of emergency, sense of crises harus menjadi bagian integral dari hidup kita.

Tanpa itu maka hidup kita bukanlah sebuah hidup yang hidup! Kita sekarang sedang berhadapan dengan Covid 19 dan politik yang menghangat.


Baca juga: REFLEKSI ALKITAB: MEMPOSISIKAN UANG SECARA POSITIF

Keduanya harus kita hadapi dengan rasional, dan sikap evaluatif: apakah ini soal kesehatan, ketaatan kepada prokes, ketidakdewasaan dalam berpolitik, politik partisan atau soal apa!

Takbisa oleh karena masalah yang kita hadapi maka memunculkan ulang dendam politik kita di zaman Pilkada dulu, dengan menghujat seseorang melalui ujaran kebencian yang diluar batas kepatutan.

Kita harus terus sadar,cerdas dan berhikmat ditengah realitas yang kita hidupi.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God bless.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

You may also like

110 Juta Orang akan Berdoa dalam ajang World Prayer Assembly, 17-19 Mei 2022

OnlineKristen.com || Sekitar 110 Juta orang akan dimobilisasi