Utang Lebih 3 Milyar tak dibayar, Pendeta ini akan dilaporkan

Suasana Konprensi Pers di Hotel Fiducia, Pondok Gede, Jakarta Timur, Minggu (23/12). Dari Kanan: Felix Jonathan Atmadja didampingi Ketua LBH GBI, Dr Hanan Soeharto

Pimpinan Gembala Gereja Bethel Indonesia (GBI) Jemaat Tugu Semper, Pdt. Jason Balompapueng akan dilaporkan kepada Pimpinan Pusat GBI dan pihak berwenang jika dalam sampai akhir Desember 2018 tidak melunasinya utangnya senilai lebih dari 3 Milyar Rupiah kepada Maria Magdalena, salah seorang anggota jemaatnya.

“Jika, Pdt Jason Balompapueng tidak ada niat baik untuk membayar utangnya sampai akhir Desember 2018, maka kami akan melaporkan dia kepada Pimpinan GBI dan juga menempuh langkah hukum,” ujar Felix Jonathan Atmadja dalam jumpa pers di Hotel Fiducia, Pondok Gede, Jakarta Timur, Minggu, 23 Desember 2018.

Felix Jonathan Atmadja merupakan putra dari Maria Magdalena. Dan dalam jumpa pers tersebut Felix didampingi mertuanya yang juga Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GBI, Pdt Dr Hanan Soeharto, SH, MH.

Felix menjelaskan kasus ini merupakan terkait antara ibunya, Maria Magdalena dengan Pdt Jason Balompapueng, yang juga Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Wilayah DKI Jakarta ini. Kasus ini mencuat sejak tahun 2016 manakala Pdt Jason menawari Maria Magdalena, sebidang tanah dikawasan Jakarta Utara dilengkapi dengan surat tanah. Surat tanah tersebut, menurut Jason, kelak bisa disertifikatkan.

Maria lalu menyetujui dan menggelontorkan sejumlah uang kepada Pdt Jason tanpa bukti apapun, karena dilandasi kepercayaan mengingat Jason sebagai Hamba Tuhan.   

“Saya bingung kok diserahkan sejumlah uang tapi tanpa bukti sama sekali, baik itu berupa kwitansi dan lainnya,” urai Felix.

Sebagai seorang anak, Felix tergerak hatinya untuk membantu persoalan utang piutang tersebut yang dimulai dengan menulis rincian utang yang bersumber informasi dari Ibunya Maria Magdalena.

Setelah dibuatkan rincian utang, Felix mendapatkan ternyata bukan kali itu saja Pdt Jason meminjam uang dari Maria Magdalena. Empat bulan sebelumnya juga ternyata Pdt Jason berutang untuk pembelian mobil dan lain-lainnya dan juga tidak ada bukti dan jaminan sama sekali.

Usai menyelesaikan pembuatan rincian utang, Felix menghubungi Jason untuk bertemu membicarakan soal utang piutang tersebut. Mereka pun akhirnya bertemu di sebuah Cafe Mall Artha Gading, Jakarta Utara. Kala itu Felix didampingi istrinya. Ibunya Maria Magdalena juga ikut serta.

“Gimana om (Jason), inikan saya punya ibu ini kok utangnya tidak ada (tanda bukti),” ujar Felix kepada Jason.

Menurut Felix, ketika itu Jason menjawab kesediaannya dibuat surat pernyataan utang yang merupakan bukti pengakuan utangnya. Lalu, Felix membacakan rincian utang, berdasarkan informasi dari mamanya, dengan nilai nominal lebih dari 3 Milyar Rupiah. Dan surat rincian utang itupun diserahkan kepada Jason. Bahkan dalam surat utang yang ditandatangani oleh Ibu, Maria Magdalena, ada catatan yang ditulis tangan langsung oleh Jason.

Pada kesempatan itu, Felix mempertanyakan surat tanah sebidang tanah di kawasan Jakarta Utara yang ternyata tidak ada nilainya lantaran tanah tersebut adalah tanah negara dan tidak bisa disertifikatkan.

Selain itu, Felix sempat menanyakan kepada Jason terkait utangnya yang begitu besar namun tidak ada jaminan. “Bagaimana ini uang besar (utang) dan tidak ada jaminan,” tanya Felix kepada Jason.

Kala itu, Jason menyerahkan jaminan berupa sertifikat tanah Rumah Jason yang terletak di Kawasan Semper, Jakarta Utara.

“Namun nilai (surat tanah Jason di Kawasan Semper) tidak sebanding dengan yang terutang. Nilainya dibawah 1 Milyar. Saat itu, Saya berpikir daripada tidak ada sama sekali. Paling tidak saat itu ada niat untuk mengaku dan mengganti (utang),” kata Felix.

Hasil pertemuan di Mall Artha Gading tersebut, menurut Felix, Jason meminta diundur pembayarannya, dari Agustus 2016 diundur menjadi September 2016.

Bahkan Jason menegaskan dihadapan Felix yang didampingi istrinya dan Ibunya Maria Magdalena bahwa dirinya akan membayar utang tersebut. “Saya pendeta mau masuk surga, saya berniat bayarlah,” tegas Jason kala itu.

Namun kenyataannya, kata Felix, sejak tahun 2016 sampai sekarang (23 Desember 2018) enggak ada kabarnya sama sekali. Ditambah lagi Felix bingung kepada mamanya seperti ketakutan sekali untuk menagih utangnya kepada Jason.

Pernah Lapor ke LBH GBI

Sementara Ketua LBH GBI, Dr Hanan Soeharto, SH, MH, menambahkan Maria Magdalena pernah melapor persoalan utang ini kepada LBH GBI. Namun belum tuntas persoalan, ditengah perjalanan Maria mencabut surat kuasa dari LBH GBI atas desakan dari pihak Jason.

“Mamanya Felix seperti ketakutan. Akhirnya mencabut surat kuasanya dari LBH GBI,” ujar Hanan yang juga Mertua dari Felix Atmadja ini.

Pun, menurut Hanan, Maria diminta agar tetap berjemaat di gereja yang dipimpin oleh Jason. Sebab kalau tidak berjemaat di gerejanya, Maria akan dikutuk Tuhan, sehingga takutlah dia.

Menurut Hanan surat sebidang tanah di kawasan Jakarta Utara itu tidak jelas. Bahkan, menurutnya, Jason tidak pernah mau menyebutkan tanah itu dimana.

Lagi kata Hanan, kalau Maria menagih utangnya, Jason acapkali menjawab entar kalau tanahnya sudah disertifikat akan dijual dan dibayar utangnya.  

Terkait berlarut-larutnya utang Jason yang tidak dibayar tersebut, Hanan menilai tidak ada niat baik lagi dari Jason untuk membayar utang. “Bayangkan sejak 30 September 2016 utangnya tak dibayar dan ketika ditelepon pun tak dijawab Jason,” tegas dia.

Menurut Hanan, setiap pagi Maria dijemput untuk datang ke gereja Jason. “Sebab Maria ketakutan jika tidak lagi bergereja disitu, bisa hilang utang dan habis perkara,” ujarnya.

Selain itu, menurut Hanan, Maria masih “dipeloroti” oleh Jason. Sejak Gereja yang dipimpin Jason pindah beribadah di Ruko milik Maria di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jason tidak membayar sewa dan biaya listrik.

“Dia (Jason) juga enggak bayar (sewanya) sampai sekarang. Sampai listrik pun tak dibayar. Bahkan Maria ditakut-takuti, jika Maria tidak membayarkan listriknya maka dia akan berdosa terhadap Tuhan,” imbuh Hanan.

Sikap Pimpinan GBI

Ketua GBI, Pdt Dr Japarlin Marbun, pun angkat bicara menyikapi persoalan utang piutang tersebut. Japarlin menegaskan jika ada pejabat GBI yang melakukan pelanggaran maka GBI akan menindaknya sesuai dengan aturan tata gereja GBI.

“Siapapun dia akan ditindak tanpa terkecuali. Karena GBI punya aturan bahwa ada tata tertib yang mengatur tata laku dan etika pejabat GBI,” jelas Japarlin melalui sambungan via telepon, Minggu, (23/12).  

Lebih lanjut Japarlin mengutarakan sanksi tegas bagi yang melanggar disiplin gereja akan dikenakan mulai dari peringatan, skorsing (diberhentikan sementara), bahkan diberhentikan tetap sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan.

“Jika ada laporan masuk kepada kita maka akan diproses. Jadi, mesti ada laporan tertulis dari pihak yang dirugikan. Atas dasar itulah kita akan kenakan sanksi disiplin,” tegas dia.

Setelah ada laporan, lanjut Japarlin, pihaknya akan melakukan mediasi agar uang dikembalikan.

“Meskipun uang tersebut dikembalikan, maka tetap akan ada sanksi gereja. Sebab ada tata aturan gereja yang mengatur etika pejabat tersebut,” ujar dia.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.