Breaking News

MENGUNGKAP KATA CERDAS MEMPERTARUHKAN KREDIBILITAS

"Incredibile dictu. Yang dikatakannya tidak dapat dipercaya"

Ilustrasi

ONLINEKRISTEN.COM, Peristiwa atau kondisi apakah yang membuat kita merasa bahagia di zaman ini ? Punya jabatan top dan kuasa top? Punya aset yang sangat banyak diberbagai tempat? Punya anak semuanya sukses? Punya cucu pandai dan bisa mengajarkan kita memainkan game-game baru di gadget kita? Buku kita yang kesekian puluh baru saja terbit dan di launching?

Penulis dan Rohaniawan, Weinata Sairin

Ya kesemuanya bisa membuat kita bahagia; bahagia itu multi tafsir dan amat relatif. Salah satu hal yang (seharusnya) membuat kita bahagia di zaman ini, di zaman hoax, di zaman berita palsu dan bohong menguasai dunia, adalah tatkala diri kita; pribadi kita bisa dipercaya.



Dipercaya, itu hal yang amat penting dalam hidup ini. Dipercaya istri, dipercaya suami, dipercaya bos, dipercaya oleh kawan-kawan di komunitas, dipercaya oleh pribadi atau institusi sangat penting dan membuat hidup kita lebih tenang dan bahagia.

Sebaliknya jika kita tidak dipercaya, perkataan kita dianggap lebay, bombas, bahkan bohong maka kondisinya akan sangat berbeda.

Pada tahun politik, kata “dipercaya”, “kredibilitas” menempati ururan utama dalam vokabulari masyarakat; dan menjadi topik utama dalam diskursus di berbagai komunitas.




Seseorang yang rekam jejaknya tidak baik, dan diketahui beberapa kali keluar masuk penjara; terlibat dalam pelanggaran HAM amat sulit mendapat kepercayaan konstituen, dan sukar di pilih oleh masyarakat sebagai pemimpin masa depan.

Kita menghadapi sebuah kehidupan yang maha sulit jika orang tidak lagi percaya kepada kita. Perkataan kita, janji kita, sikap dan perbuatan kita akan sangat menyulitkan kita jika tidak ada ada lagi “trust” kepada kita.

Apalagi ada peribahasa “sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya”. Artinya sekali saja kita membohongi orang, kita menipu orang, kita tidak dipercaya maka kebohongan itu akan terus terekam dalam sejarah kita, dan orang tidak akan lagi percaya kepada kita.




Kepercayaan orang kepada kita memang amat mahal harganya; kepercayaan itu tidak bisa dibeli dengan uang, dikompensasikan dalam bentuk sebuah proyek atau ‘pembagian sembako’.

Kepercayaan kepada kita lahir karena sikap, moral, etik dan spiritualitas yang kita wujudkan dalam kita membangun relasi dengan orang lain.

Orang melihat dan merasakan kinerja kita, sikap kita, moral kita, kejujuran kita, solidaritas dan empati kita. Orang merasakan kehangatan tali silaturahim kita. Dari titik itu orang percaya kepada kita.




Orang yang profesional memiliki sikap trust pada kita tanpa memandang suku, agama, almamater, afiliasi politik, denominasi/aliran teologi, gender, dan sebagainya. Selama kita jujur, rajin, pekerja keras, transparan, kompeten maka kita akan mendapat kepercayaan untuk melakukan sesuatu.

Orang yang dipercaya biasanya tidak suka membuat gosip, rumor, ia tidak ember, mengumbar rahasia jabatan.

Pepatah kita menyatakan “yang dikatakannya tidak dapat dipercaya”. Jika pepatah itu dikenakan kepada istri, suami, anak, para pemimpin diberbagai aras, politisi, anggota parlemen, dosen, guru, pedagang di Pasar Induk, pilot, pegawai di Air Traffic Control, dokter umum, dokter spesialis, pengkotbah, chatib dan siapapun juga, maka akan terjadi distorsi dalam kehidupan ini.

Kita semua siapapun kita, tidak hanya para caleg, kontestan pilpres, harus membangun dan memelihara kepercayaan publik, harus mengungkapkan kata-kata yang dipercaya rakyat.




Tak usah bombas, lebay, fiktif dan imajiner; rakyat tak mampu lagi menerima kata-kata imajiner yang menghibur sesaat.

Kita semua umat beragama. Kita di didik untuk berbicara yang benar, cerdas bernas, akurat; bukan fitnah, hoax dan adu domba. Bukan hujatan, penodaan agama dan arogansi agama.

Mari ungkapkan kata-kata mesra penuh cinta kasih, saling sayang dan peduli, kata-kata puji bukan memaki, kata-kata bernuansa silaturahim.

Selamat Berjuang. God bless.

Weinata Sairin

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
UA-102499644-1
%d blogger menyukai ini: