Breaking News

Refleksi Natal 2018, DR John Palinggi: 365 Kali Injil Katakan ‘Jangan Takut’

Ketua Harian Badan Interaksi Antaragama (BISMA), DR John Palinggi MM, MBA, dalam Refleksi Natal 2018, menyatakan Natal sesungguhnya memberi pesan agar tidak perlu takut terhadap apapun.

Termasuk ketakutan terhadap perpolitikan di Indonesia yang tengah memanas. Juga, ketakutan akibat beberapa bencana yang tengah terjadi di Indonesia.

“Bahkan ditegaskan dalam keyakinan umat Kristen bahwa takut adalah bagian dari dosa. Bahkan, diulang-ulang 365 kali dalam Injil, ‘Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu’. Dan janji Tuhan ada disana,” tegas Ketua Harian Badan Interaksi Antaragama (BISMA), DR John Palinggi MM, MBA, dalam refleksi Natalnya di Jakarta, (27/12).

Lebih lanjut John Palinggi mengatakan sebagai orang Kristen yang meyakini imannya, harus betul-betul sadar bahwa umat Kristen diajarkan untuk tidak takut atau khawatir.

Juga, ditengah-tengah perpolitikan yang sedang memanas, umat Kristen tidak boleh ikut menghina dan merendahkan orang lain, dengan pikiran, hati, perkataan, tindakan dan tulisan. Sebab itu adalah bagian dari dosa.

Jadi pesan Natal diharapkan untuk bersikap tenang dalam memperingati kelahiran Yesus yang dipercayai sebagai Juruselamat. Dan keyakinan itulah yang membimbing untuk mengenal Tuhan dan Allah yang sesungguhnya.

“Ada perdamaian Tuhan Allah dengan manusia dengan mengirim Yesus Kristus lahir dan akhirnya disalibkan, mati, dan bangkit kembali sebagai pemenang,” ujar dia.

Pun, menurut John, Refleksi Natal menginstruksi kepada orang percaya bahwa kelahiran Yesus Kristus itu adalah salah satu pesan yang kokoh dimana telah lahir bagimu Juruselamat.

“Dan dipesankan dan ditegaskan kepada kita jangan takut. Selama syaratnya adalah hati kita tetap terpelihara. Sebab selalu dipesankan di Injil, ‘Peliharalah hatimu karena dari situlah terpancar kehidupan’, tegas dia.

Dan orang-orang yang tak terpelihara hatinya, lanjut John, mereka itulah yang paling sering menghina seperti di televisi. Bahkan, mereka merasa paling benar dan terkadang kemanusiaannya hilang.

“Kita tidak boleh ikut dalam hal itu. Malah kita harus menyebarkan kabar kesukaan dan damai sejahtera. Orang Kristen itu wajib hukumnya menyebarkan kabar sukacita dan damai sejahtera. Mau orang perang dan saling pukul, tapi kita tidak ikut seperti mereka. Hati kita harus terpelihara. Pun, kalau ada umat Kristen yang terjatuh saat ini, maka dia harus berubah ke arah yang lebih baik. Sebab sesungguhnya iman Kristen itu adalah berubah ke arah yang lebih baik, tapi tidak seperti makan cabai langsung pedas,” tandasnya.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
UA-102499644-1
%d blogger menyukai ini: