Jakarta, OnlineKristen.com — Banjir yang melanda sebagian wilayah Sumatera Utara pada akhir tahun lalu tidak hanya menyisakan genangan air dan lumpur, tetapi juga menenggelamkan asa di ruang-ruang kelas.
Banyak sekolah lumpuh. Perangkat ajar rusak terendam, membuat proses belajar-mengajar terhenti.
Namun, di tengah keterbatasan pasca-bencana, sebuah jembatan kebaikan terbangun untuk menyemai kembali harapan bagi para siswa.
Salah satu potret perjuangan itu terlihat di SD 1 Sibolga, sebuah sekolah di bawah naungan Sinode Gereja HKBP.
Di sekolah ini, puluhan perangkat komputer rusak total diterjang banjir. Kebutuhan mendesak akan 20 unit laptop menjadi syarat mutlak agar anak-anak bisa kembali belajar dengan layak.
Baca juga: MPK Indonesia Perkuat Sinergi dalam Sidang MPL PGI 2026 di Merauke, Menyemai Terang dari Ufuk Timur
Merespons panggilan kemanusiaan ini, Majelis Pendidikan Kristen (MPK) di Indonesia tak tinggal diam.
Melalui platform crowdfunding internal bernama “Kembang Kasih”, MPK menggalang solidaritas umat.
Langkah ini kemudian disambut hangat oleh PT Synpulse Indonesia Management Consulting yang turut mengulurkan tangan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis di Jakarta. Country Head PT Synpulse Indonesia Management Consulting, Ir. Inge Halim—yang juga mengemban peran sebagai Pembina Kembang Kasih dan anggota Bidang VII Komisi C Transformasi Ekonomi MPK Indonesia—menyerahkan bantuan kepada David Iskandar, SE, Pengurus Harian MPK Indonesia Bidang VII sekaligus Pembina Kembang Kasih, yang mewakili Ketua Umum MPK Indonesia, Handi Irawan D., MBA., M.Com.
Baca juga: Refleksi Pelayanan MPK 2025: Dari Duc In Altum Menuju Fructus In Altum
Dari Korporasi Global untuk Pelosok Negeri
PT Synpulse Indonesia bukanlah nama sembarangan. Merupakan perusahaan konsultan manajemen global yang berpusat di Swiss, Synpulse telah eksis di 22 negara dengan lebih dari seribu konsultan, melayani klien perbankan raksasa di Indonesia seperti BRI, Mandiri, dan BNI.
Tahun ini, bertepatan dengan perayaan ulang tahun globalnya yang ke-30, mereka memilih untuk menengok jauh ke pelosok Sumatera.
Sebanyak 7 unit laptop disumbangkan langsung oleh PT Synpulse untuk melengkapi kebutuhan 20 laptop di SD 1 Sibolga, dimana 13 unit lainnya dipenuhi dari dana umat melalui Kembang Kasih.
“Pemberian ini mungkin kecil. Tapi biarlah pemberian yang kecil ini menjadi tanda kasih bagi pihak yang membutuhkan, dan memberikan harapan bagi mereka bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa ada orang lain yang peduli, dan lewat gotong royong kita bisa melakukannya bersama,” ungkap Inge Halim.
Baca juga: MPK Bedah Tata Kelola Anggaran Pendidikan 2026 & Dampak Putusan MK
Kembang Kasih, Bukti Nyata Kepedulian Umat
Kisah di balik pemenuhan sisa 13 laptop tersebut tak kalah inspiratif. Kembang Kasih adalah sebuah wadah urunan dana yang baru saja digagas oleh Bidang VII MPK pada semester kedua tahun lalu.
Tujuannya sangat spesifik yaitu menjembatani transformasi dan ekonomi sekolah-sekolah Kristen, terutama di pelosok yang kerap luput dari perhatian.
“Kita melihat bahwa sekolah Kristen itu banyak yang membutuhkan uluran tangan. Lingkaran pertama yang seharusnya membantu adalah umat Kristen sendiri, sebelum kita berharap pada campur tangan negara. Ini pembuktian bahwa umat Kristen juga peduli terhadap bencana,” jelas David Iskandar.
Respons umat ternyata luar biasa. Saat bencana banjir Sumut dan Aceh terjadi pada Oktober 2025, Kembang Kasih menargetkan donasi sebesar Rp 500 juta dalam dua bulan. Tanpa disangka, pada bulan Desember 2025, kampanye ditutup dengan raihan Rp 565 juta—melampaui target yang diharapkan.
Dana inilah yang kemudian diwujudkan menjadi laptop, serta diproyeksikan untuk kebutuhan sarana prasarana jangka panjang lainnya seperti printer, meja, kursi, lemari, hingga tas sekolah bagi anak-anak SD yang terdampak.
Transparansi Tanpa Potongan
Satu hal yang membuat gerakan ini begitu masif adalah tingkat kepercayaannya. Hendri Budi Prabowo, S.T., anggota Bidang VII Komisi B Transformasi Ekonomi Sekolah yang turut hadir, menegaskan bahwa potensi filantropi umat Kristen sangat besar karena ajaran untuk senantiasa berbagi. Namun, penyalurannya harus tepat sasaran.
“Setiap penerima bantuan yang kita tampilkan itu semuanya kita verifikasi. Kita pastikan kebutuhannya berapa dan dipakai untuk apa. Setelah dana disalurkan, kami meminta bukti realisasinya, sehingga donatur yang menyumbang mulai dari Rp 10.000 hingga tak terbatas bisa mendapatkan laporan yang sesuai,” papar Hendri.
Inge Halim menambahkan satu garansi penting yang membedakan Kembang Kasih dengan platform urunan dana lainnya.
“Jika crowdfunding lain dipotong biaya admin, kami tidak. Seratus persen donasi disalurkan, dan kami pastikan uang itu dipakai dengan baik. Apalagi dalam suasana menyambut Paskah ini, Kembang Kasih bisa menjadi salah satu saluran nyata untuk berempati dan bertindak peduli,” bebernya.
Baca juga: HUT Ke-75, MPK Luncurkan Perkumpulan Guru Kristen Indonesia
Ke depan, langkah MPK tidak akan berhenti pada pemulihan bencana. Saat ini, MPK tengah mematangkan “Benih Harapan”, sebuah platform donasi berkonsep gamification dari siswa untuk siswa yang baru saja diperkenalkan secara soft-launching pada perayaan HSKI lalu.
Melalui kolaborasi PT Synpulse Indonesia dan MPK lewat Kembang Kasih, sebuah pesan kuat telah dikirimkan ke Sibolga dan seluruh pelosok negeri, bahwa di tengah ujian terberat sekalipun, solidaritas dan kasih akan selalu menemukan jalan untuk memulihkan keadaan.(Victor)

















