MANUSIA FANA MEMERLUKAN AGAMA

Weinata Sairin
Weinata Sairin

MANUSIA FANA
MEMERLUKAN AGAMA

 

di sekolah rakyat di sebuah kampung di jakarta timur tahun lima puluhan
hanya akulah sendiri yang beragama kristen
kawan-kawan lain
sekitar dua puluhan orang
beragama islam
relasi kami sangat baik di zaman itu
akronim sara belum lagi lahir
yang memenjara kami
dalam ghetto-ghetto tanpa makna
dizaman itu takpernah muncul
diksi minoritas, kafir
dan sebagainya
kami merasa sebagai saudara
kawan-kawanku
acap mengajakku
kesurau
saat memperingati maulid nabi
kami semua menyatu di surau itu

di sekolah rakyat itu bahkan hingga level sma aku mengikuti pelajaran agama islam
guruku baik sekali
mereka kagum karena dalam mata pelajaran agama islam aku mendapat
nilai rata-rata tujuh
mata pelajaran agama yang kuterima
yang berbeda dengan imanku
membuat paradigma berfikir menjadi lebih luas
realitas itu amat membantu ketika studiku terfokus pada ilmu agama-agama
dan bermakna signifikan dalam memperkuat jaringan kolaboratif komunitas lintas agama

ku masih ingat persis guru pengajar agama di sekolah rakyat
ia berkata bahwa agama itu berasal dari bahasa sansekerta yang berarti ‘tidak kacau’
dengan beragama maka kita memiliki sistem keteraturan dalam kehidupan kita
kita takakan.mengalami kekacauan




negeri ini bukan negara agama
dalam arti sebuah negara yang diatur, dikelola, dibangun berdasarkan hukum atau syariat sebuah agama tertentu
negeri ini adalah negeri beragama
dalam arti sebuah negeri yang seluruh penduduknya
menganut berbagai agama

kita bersyukur bahwa the founding fathers
memiliki pemikiran
strategis, cerdas bernas dalam membangunNKRI
yang solid bersatu
dengan menetapkan Pancasila sebagai dasar negara, yang memberi ruang bagi agama-agama
negeri ini tidak memiliki agama resmi
negeri ini memiliki kementerian agama
kedua realitas itu sejatinya berdayaguna dalam membangun kehidupan beragama di negeri ini
yang makin baik

manusia fana membutuhkan agama
mereka memerlukn tuntunan hidup
ada juga terjadi orang-orang yang berpindah agama
karena mndapat hidayah
dan ingin mendapat tuntunan lebih jelas
biarlah proses perpindahan itu terjadi mandiri
dan profesional
takusah menjadi kegaduhan
sejauh perpindahan
itu adalah keputusan eksistensial
dari sebuah perjalanan ziarah yang panjang

jauhkan dari sikap menghakimi, menghujat atau bermusuhan
kita bangun dunia yang damai apresiatif
menghargai ham
menghormati kebebasan pribadi
demi NKRI yang damai, adil, berkeadaban

Jakarta, 1 November 2021/ pk. 15.10
Weinata Sairin

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.