REFLEKSI ALKITAB, “MENAMPILKAN KEKRISTENAN ELEGAN”

"Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu." (Kolose 3:8)

KRISTEN TV || Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: JANGAN ADA TIM SUKSES

Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: Jangan Ada Tim Sukses
Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: Jangan Ada Tim Sukses
REFLEKSI ALKITAB, "MENAMPILKAN KEKRISTENAN ELEGAN"
REFLEKSI ALKITAB, "MENAMPILKAN KEKRISTENAN ELEGAN"

OnlineKristen.com  | Pada masa awal-awal sejarahnya, kekristenan (baca: umat Kristen) berhadapan dengan resistensi kuat dari masyarakat. Bukan saja dunia sekuler zaman itu menggugat teologi yang dikembangkan kekristenan, karena isinya yang berbeda dengan yang dianggap baku dan sesuai standar di zaman itu, melainkan juga praksis hidup kekristenan dipersoalkan, dicemooh, dan dihujat.

Dari literatur yang dapat kita baca misalnya, bagaimana komunitas Kristen yang berhimpun untuk merayakan Perjamuan Kudus sering kali ditafsirkan sebagai komunitas rahasia yang “memakan tubuh dan meminum darah”.

Bertolak dari realitas zaman itu, penulis Surat Kolose pun mendorong umat agar menampilkan kekristenan yang elegan, cantik, berkarakter dan civilized (beradab), yang mampu menghadirkan sebuah citra positif di tengah sejarah.


Baca juga:

MEMAKNAI ULANG KEBAHAGIAAN

Karakter kekristenan diingatkan harus menjungkirbalikkan realitas kehidupan negatif yang sedang menjadi tren dalam kehidupan masyarakat. Umat memang berasal dari realitas itu, tetapi tatkal mereka telah dinapasi roh kristiani, mereka tidak boleh terbelenggu pada roh kelampauan.

Gaya hidup barbar, sekuler, dan uncivilized tidak bisa lagi menguasai kedirian umat Kristen. Umat Kristen harus hidup dalam era “kesekarangan” bukan kelampauan kita.

Kata “Tetapi sekarang …” mengingatkan warga Gereja untuk melawan kelampauan, kejahiliahan. Tatkala masih saja ada dari antara kita – umat yang sudah diselamatkan Kristus – yang tertangkap tangan oleh KPK, dikenai pidana, melakukan pembohongan publik, tidak sudi bayar pajak dan melakukan berbagai perbuatan melawan hukum, bagaimana kekristenan bisa hadir menciptakan sejarah baru yang lebih berkeadaban dan manusiawi?


Baca juga:

PGI Setuju Penundaan RUU HIP, Ini Alasannya

Mari menampilkan kekristenan “kesekarangan” yang cantik dan elegan di ruang-ruang sejarah.
Takada pilihan lain, kecuali jika kita memang menginginkan bahwa kekeristenan hanya menjadi fosil dalam sejarah, nir makna!.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God bless.

(Oleh: Weinata Sairin)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.