Beranda / GEREJA DAN MINISTRY / Saat Langit dan Bumi Tergoncang, Dimana Kita Berpijak? Pesan Reflektif Pdt. Mulyadi Sulaeman

Saat Langit dan Bumi Tergoncang, Dimana Kita Berpijak? Pesan Reflektif Pdt. Mulyadi Sulaeman

Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman

Gembala GSPDI Jemaat Filadelfia Bellezza Permata Hijau, Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman bersama istri usai disematkan ulos

Jakarta, OnlineKristen.com – Di tengah hiruk-pikuk kawasan Permata Hijau yang elegan, sebuah pesan mendalam bergema dari Gembala Sidang GSPDI Jemaat Filadelfia Bellezza.

Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, seorang figur yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk pelayanan, berdiri dengan sorot mata tajam namun teduh.

Ia sedang memberikan peringatan sekaligus navigasi bagi umat yang tengah mengarungi samudera zaman yang kian bergejolak.

“Dunia sedang diguncang,” ujarnya dengan nada tenang namun penuh penekanan.

Mengutip Ibrani pasal 12, Pdt. Mulyadi mengingatkan kegoncangan ini bukanlah fenomena permukaan, melainkan sebuah getaran ilahi yang menjangkau bumi hingga langit.

Namun, dibalik narasi yang tampak menggetarkan itu, terselip sebuah janji yakni kegoncangan ada untuk memisahkan apa yang fana dari apa yang kekal.


Baca juga: 21 Tokoh Kristiani Inspiratif 2025, Keteladanan yang Menyala dari Majalah NARWASTU 

Racun dalam Genggaman, Tantangan Era Digital

Salah satu sorotan tajam Pdt. Mulyadi adalah infiltrasi pemikiran dunia yang masuk melalui pintu-pintu digital.

Ia menggunakan istilah klasik dunia komputer, “Garbage in, garbage out”—apa yang masuk ke pikiran, itulah yang akan membentuk karakter.

“Sekarang ada pengaruh 15 detik,” tuturnya merujuk pada fenomena video singkat seperti TikTok.

“Kelihatannya sebentar, tapi tanpa terasa tiga jam berlalu. Itu sangat kuat membentuk mindset. Jika kita terus mengonsumsi sampah dunia, maka prinsip hidup Kristen kita akan perlahan tergerus.”

Pdt Mulyadi juga menyentuh fenomena pergeseran kebiasaan rohani. Di tangannya, Alkitab fisik bukan sekadar buku, melainkan ruang perjumpaan yang intim.

Ia merasa prihatin melihat Alkitab fisik mulai ditinggalkan demi layar gawai.

“Alkitab di handphone itu jarang dibaca kecuali kalau perlu. Tapi dengan buku, kita bisa mencoret, merenung, dan berinteraksi secara mendalam dengan firman Tuhan. Ini pergeseran nyata yang harus kita sadari,” ungkapnya.


Baca juga: HSKI 2026, Doa Serentak Nasional Setengah Juta Siswa Kristen di 14 Kota 

Gereja, Antara Perpecahan dan Panggilan Persatuan

Di skala global, Pdt. Mulyadi melihat awan gelap yang menyelimuti peta dunia—mulai dari krisis kesehatan, cuaca ekstrem, resesi, hingga bayang-bayang perang besar.

Namun, kegoncangan yang paling menyedihkan baginya adalah ketika “tubuh Kristus” sendiri tampak retak.

“Gereja seharusnya merapatkan barisan, bukan pecah karena perbedaan pengajaran,” tegas Mantan Ketua Umum Sinode GSPDI selama tiga periode ini,” urainya.

Baginya, persatuan gereja bukan sekadar seremoni, melainkan syarat mutlak untuk menghadirkan kekuatan Tuhan di tengah dunia yang sedang goyah.


Baca juga: Natal yang Bekerja, Dari Renovasi 100 Gereja Hingga Beasiswa Pendidikan untuk Anak Pelosok 

Memulihkan Benteng Terakhir, Keluarga

Sebagai penutup pesan narasinya, Pdt. Mulyadi membawa fokus kembali ke unit terkecil namun paling vital yaitu keluarga.

Ia memandang miris angka perceraian yang tinggi, bahkan di wilayah-wilayah mayoritas Kristen. Strategi iblis, menurutnya, tidak pernah berubah sejak zaman Kain dan Habel—yakni merusak keluarga.

“Kepala keluarga harus kembali kepada peran sejatinya. Menjadi pemimpin, pelindung, dan imam. Jika keluarga kuat, gereja akan kuat. Dan dari gereja yang kuat, bangsa ini akan memiliki fondasi yang kokoh,” pesannya dengan penuh kasih.

Pesan Pdt. Mulyadi Sulaeman bukan hanya menjadi pengingat akan badai yang sedang terjadi, melainkan menjadi sauh bagi setiap hati yang rindu untuk tetap teguh.

Bahwa di tengah dunia yang tergoncang, mereka yang berpijak pada Kristus tidak akan pernah goyah.(Vic)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses