Beranda / GEREJA DAN MINISTRY / Menemukan Kembali Api Pelayanan di Kaki Langit Bogor, Langkah 81 Parhalado HKBP Kramat Jati Menjawab Tantangan Zaman

Menemukan Kembali Api Pelayanan di Kaki Langit Bogor, Langkah 81 Parhalado HKBP Kramat Jati Menjawab Tantangan Zaman

hkbp kramat jati

Pembekalan Parhalado HKBP Resort Kramat Jati yang berlangsung di Wisma Kinasih Caringin, Bogor, 19-21 Februari 2026.

BOGOR, OnlineKristen.com – Kesejukan udara pagi di kawasan Kinasih Resort & Conference, Bogor, Jawa Barat, seolah menjadi penawar yang tepat bagi raga yang terbiasa dihantam bisingnya ibu kota.

Sejak Kamis, 19 Februari 2026, 81 orang pelayan gereja (parhalado) HKBP Ressort Kramat Jati tampak memenuhi aula pertemuan.

Mereka duduk bersama, bukan sekadar untuk lari dari rutinitas Jakarta, melainkan untuk sebuah ziarah spiritual bernama “Pembekalan Parhalado“.

Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, di mana manusia sering kali kehilangan arah akibat gempuran ketidakpastian, gereja ditantang untuk tidak sekadar menjadi menara gading.

Di sinilah urgensi perjumpaan selama tiga hari dua malam itu menemukan maknanya. Mengusung tema besar dari 1 Petrus 5:2-3, kegiatan ini menggema kuat dengan satu seruan: Sukarela dan Pengabdian Diri.

Adapun pemateri yang hadir, antara lain, Prof Dr Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App. Sc (Materi Psikologi: Asesmen dan Pemberdayaan Diri Dalam Pelayanan) dan Pdt. Prof. Binsar Jonathan Pakpahan, PhD (Materi Peluang, Tantangan, Strategi & Optimalisasi Pelayanan Di Era Digital).

Selain Pendeta Ressort HKBP Kramat Jati, Pdt. Dr. Martongo Sitinjak, hadir juga empat pendeta fungsional yakni Pdt Filemon F Sigalingging, STh, Pdt Eben Sihardo Simanjuntak MTh, Pdt Parningotan Siahaan dan Pdt Pontius Ch Siregar MDiv.


Baca juga: TPL Ditutup, Ephorus HKBP Serukan Tanggung Jawab Iman, Tekankan Perlindungan Pekerja dan Lingkungan 

hkbp kramat jati
Dari Kiri: Atiek Siahaan br Silalahi, Septa Patrianando Sirait, Wilson Sitorus, Pdt Martonggo Sitinjak, St. H.D. Sirait, St. L Simanungsong dan St. S. Situngkir.

Mengisi “Bohal” Sebelum Menggembala

Bagi masyarakat Batak, ada sebuah tradisi tua yang sarat makna ketika seseorang hendak pergi menggembalakan domba atau kerbau di padang luas.

Mereka tak pernah berangkat dengan tangan kosong. Mereka membawa Bohal, atau bekal makanan dan minuman, karena hari-hari di padang penggembalaan amatlah panjang dan melelahkan.

Filosofi Bohal inilah yang diangkat oleh Pendeta Ressort HKBP Kramat Jati, Pdt. Dr. Martongo Sitinjak.

“Dalam Pembekalan Parhalado saat ini, kita sedang melakukan proses mempersiapkan bekal untuk melanjutkan tugas pelayanan di tengah-tengah gereja,” urainya dengan nada kebapakan yang tenang namun tegas.

Pdt Martonggo yang baru enam bulan melayani di ressort tersebut menyadari betul bahwa para sintua (penatua) adalah ujung tombak.

Untuk itu, tiga Bohal utama disiapkan dalam koper rohani mereka. Bekal pertama adalah sentuhan psikologi—mengajak para pelayan masuk ke dalam relung diri mereka sendiri, memetakan kelemahan, dan merangkul potensi karunia yang dititipkan Tuhan.

Bekal kedua adalah kacamata untuk membaca tanda zaman. Dunia hari ini adalah rimba digitalisasi yang bising. Era ini telah mengubah budaya, menggeser mindset, dan tidak jarang mencetak kecemasan kolektif.

“Masyarakat sekarang serba ragu, takut, cemas karena kehidupan yang tidak pasti. Kecemasan ini adalah budaya baru, dan ia menerpa siapa saja, tak terkecuali para pelayan Tuhan di gereja,” jelas Pdt. Martongo.

Bekal ketiga, dan yang paling esensial, adalah membasuh kembali altar panggilan atau tohonan sintua itu sendiri.

Pelayanan gerejawi, sebagaimana ditekankan, tidak bekerja dengan logika sekuler. Ia bukanlah soal jenjang karier atau eksistensi diri, melainkan murni panggilan Ilahi.


Baca juga: Ribuan Jemaat Penuh Sukacita Rayakan HUT Ke-60 dan Pesta Gotilon HKBP Kramat Jati 

Me-Restart Mesin Pelayanan

Menjadi seorang sintua di kota metropolitan bukanlah perkara mudah. Terhimpit antara jam kerja sekuler yang padat, masalah keluarga, dan panggilan mengurus umat yang beragam karakter, seorang sintua bisa saja mengalami kelelahan spiritual (burnout).

Hal ini juga disadari betul oleh St. H.D. Sirait, Ketua Pembelian Lahan HKBP Kramat Jati. Dengan analogi yang jenaka namun menohok, ia mengibaratkan pembekalan ini sebagai upaya “turun mesin” dan restart.

“Kalau diri kita di-restart ulang, itu berarti kita mulai dari nol lagi. Mulai masuk dari gigi satu, lalu masuk gigi dua. Kalau dibiarkan bertahun-tahun tanpa pembekalan, pelayanan itu bisa melemah. Kasarnya, bisa jadi agak malas,” tuturnya tersenyum.

Pelayanan sejati memang menuntut harga yang mahal: waktu, tenaga, pikiran, dan materi. Tidak boleh ada kata setengah hati. Oleh karena itu, melalui pembekalan ini, ingatan mereka disegarkan kembali pada

Tujuh Tohonan Sintua” yang mungkin sempat memudar di tengah tebalnya debu rutinitas. Dalam diskusi-diskusi kelompok kecil mereka kembali membedah pasal demi pasal dari tugas imamat mereka.


Baca juga: Pdt Dr Anna CH Vera Pangaribuan Luncurkan Buku dan Nyatakan Siap Maju Kadep Marturia HKBP 

TOTAMA, Langkah Konkret di Tengah Jemaat

Ada satu racikan resep pastoral yang menjadi jantung pergerakan HKBP Kramat Jati selepas dari Bogor, yang diringkas dalam akronim berbahasa Batak yakni TOTAMA (Topot, Tangihon, Tangianghonma).

Pdt. Martongo menjelaskannya sebagai fondasi yang solid. Topot berarti mendatangi atau mengunjungi. Seorang sintua tidak boleh hanya menunggu di balik pintu gereja; ia harus hadir di ruang-ruang tamu jemaatnya.

Tangihon berarti mendengarkan. Di era di mana semua orang ingin bicara dan didengar di media sosial, seorang sintua hadir memberikan telinganya untuk menampung pergumulan jemaat.

Puncaknya adalah Tangianghonma—mendoakan mereka, membawa segala air mata dan tawa umat ke hadapan takhta kasih karunia Tuhan.

“Semua jemaat harus dikunjungi. Yang baru, yang sakit, yang berduka. Waktu, tenaga, pikiran harus ikhlas diberikan. Make it clear, buatlah jelas, jangan ragu-ragu dalam menjalankan pelayanannya,” tegas St. H.D. Sirait menyambung nilai dari TOTAMA tersebut.


Baca juga: Revival Worship HSKI 2026, Gema Pujian dari Sepuluh Penjuru 

Sinergi Kesehatian 

Keindahan lain dari pembekalan ini adalah rajutan persaudaraan. HKBP Ressort Kramat Jati tidak berjalan sendirian; mereka menggandeng gereja pagarannya, HKBP Gedong.

St. L. Simangunsong, selaku Ketua Majelis Perbendaharaan & Administrasi (MPA), memandang momen ini sebagai perayaan kesehatian. Menghadapi 20 wijk (sektor) yang tersebar luas, sinergi adalah kunci.

“Sejak keberangkatan kemarin, kebersamaan itu sudah sangat terasa. Kami sebagai sintua adalah benteng yang terjun ke lapangan. Kami yang paling tahu bagaimana dinamika kehadiran jemaat. Pembekalan ini memastikan agar derap langkah pelayanan kami tetap serempak,” ujarnya.

Tentu saja, sebuah karya yang besar tidak lahir dari ruang hampa. Ada keringat panitia yang mengucur di baliknya.

Septa Patrianando Sirait, yang mewakili panitia, mengisahkan betapa dinamisnya persiapan selama hampir sebulan terakhir.

Meski membutuhkan alokasi dana yang tidak sedikit, semangat gotong royong antar jemaat dan peserta membuat semuanya menjadi ringan.

“Pimpinan gereja menyadarkan kami bahwa sintua-sintua ini adalah ujung tombak gereja. Kami sangat yakin, jerih lelah panitia untuk memfasilitasi 81 peserta ini tidak ada yang sia-sia.”


Baca juga: Siapa Dalang Sesungguhnya di Balik Seruan ‘Ganti Ephorus’? HKBP Ungkap Intervensi Pihak Luar di Tengah Isu TPL 

Pulang Membawa Terang

Pada akhirnya, ketika pembekalan ini ditutup dengan ibadah oleh Pdt Basa Rohana Hutabarat, MTh, pada hari Sabtu, 21 Februari 2026, ke-81 parhalado itu tidak akan turun dari kawasan Bogor dengan tangan hampa.

Kecemasan zaman akibat dunia digital yang tak menentu memang tidak akan serta merta lenyap. Masalah ekonomi, tantangan keluarga, dan gesekan di tengah jemaat akan tetap ada di Jakarta.

Namun, sesuatu di dalam batin mereka telah berubah. Mereka telah di-restart. Mereka telah dibekali dengan Bohal yang bergizi.

Mereka siap memproduksi ide, merumuskan langkah secara mandiri tanpa harus selalu didikte, dan berani berkata pada dirinya sendiri, “I can do it.

Mereka turun dari Kinasih Resort untuk kembali memeluk kawanan domba Allah, tidak lagi dengan paksa, melainkan dengan sukarela dan pengabdian diri.

Dengan semangat TOTAMA yang bergelora di dada, mereka siap menyongsong fajar baru pelayanan di HKBP Kramat Jati.

Usai pembekalan Parhalado, ada tiga goal program besar di HKBP Kramat Jati menanti, yaitu Jambore Sekolah Minggu, Gondang Naposo dan Festival Musik.(Victor)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses