buku sapta baralaska siagian

Buku berjudul "Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Untuk Mengantisipasi Radikalisasi Agama dalam Perspektif Kekristenan" karya Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian, M.Th.

Jakarta, OnlineKristen.com – Persoalan radikalisasi agama bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aparat keamanan semata.

Gereja, sebagai institusi rohani sekaligus bagian dari masyarakat sipil, memiliki panggilan etis untuk berdiri di garis depan dalam merawat keberagaman di Indonesia.

Pesan kuat inilah yang mengemuka dalam buku terbaru Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian, M.Th., berjudul “Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Untuk Mengantisipasi Radikalisasi Agama dalam Perspektif Kekristenan”.

Melalui karya ini, Dr. Sapta mengingatkan bahwa iman Kristen dan nasionalisme Pancasila adalah dua pilar yang saling menguatkan.



Baca juga: Menyemai Kembali Harapan di Sibolga, Kolaborasi MPK Indonesia dan PT Synpulse Pulihkan Pendidikan Pasca-Bencana 

Gereja Sebagai Garam dan Terang Bangsa

Dalam perspektif yang diuraikan Dr. Sapta, Kekristenan memiliki dasar teologis yang sangat kuat untuk mendukung Pancasila.

Ajaran kasih yang inklusif—sebagaimana teladan Yesus Kristus—adalah penawar paling ampuh terhadap virus kebencian dan eksklusivisme yang sering dibawa oleh paham radikal.

Gereja dipanggil untuk menjalankan peran pedagogis, yaitu mendidik jemaat agar tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga cerdas secara sosial.

“Umat Tuhan harus mampu menjadi agen perdamaian yang dialogis, yang mampu membangun jembatan persahabatan dengan sesama anak bangsa tanpa kehilangan jati diri imannya,” tulis Dr. Sapta dalam bukunya.


Baca juga: Tangkal Burnout Pelayanan, Pakar UI Latih 81 Parhalado HKBP Ressort Kramatjati Deteksi Kesehatan Jiwa 

Pancasila, Perisai Ideologi dan Etika

Buku yang diedit oleh Kolonel Caj Lusak Andrews Muda Butar Butar, S.Th., M.Th. ini menggarisbawahi bahwa Pancasila adalah filter yang sangat efektif. Sila-sila di dalamnya mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan Alkitab:

  • Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Selaras dengan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai citra Allah (Imago Dei).
  • Persatuan Indonesia: Mencerminkan semangat kesatuan dalam keberagaman yang juga ditekankan oleh Rasul Paulus.



Baca juga: Mimbar Gereja di Tengah Invasi Algoritma, Tantangan Profetik Pdt. Prof Binsar Pakpahan untuk Parhalado HKBP Ressort Kramatjati 

Langkah Konkret Antisipasi Radikalisme

Dr. Sapta menawarkan langkah-langkah strategis yang bisa diambil oleh lembaga keagamaan:

  1. Penguatan Ketahanan Ideologi: Menanamkan nilai Pancasila melalui khotbah, sekolah minggu, dan pembinaan pemuda.
  2. Dialog Lintas Iman: Membangun komunikasi yang jujur dengan kelompok agama lain untuk meruntuhkan tembok prasangka.
  3. Keterlibatan Sosial: Gereja harus hadir membawa solusi nyata bagi persoalan sosial-ekonomi masyarakat, karena kemiskinan dan ketidakadilan seringkali menjadi pintu masuk radikalisme.



Baca juga: MPK Indonesia Perkuat Sinergi dalam Sidang MPL PGI 2026 di Merauke, Menyemai Terang dari Ufuk Timur 

Sinergi untuk Indonesia

Melalui resensi buku ini, kita diingatkan bahwa pencegahan radikalisasi memerlukan sinergi yang kokoh antara negara, lembaga pendidikan, dan tokoh agama.

Gereja tidak boleh eksklusif atau menutup diri, melainkan harus proaktif berkolaborasi demi tegaknya NKRI yang berdasarkan Pancasila.

Bagi Anda yang rindu melihat Indonesia yang lebih damai dan toleran, buku Dr. Sapta Baralaska ini memberikan peta jalan yang jelas bagi setiap warga gereja untuk berkontribusi secara nyata.(*)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses