Beranda / GEREJA DAN MINISTRY / Mimbar Suci di Tengah Invasi Algoritma, Tantangan Profetik Pdt. Prof Binsar Pakpahan untuk Parhalado HKBP Kramat Jati

Mimbar Suci di Tengah Invasi Algoritma, Tantangan Profetik Pdt. Prof Binsar Pakpahan untuk Parhalado HKBP Kramat Jati

Pembekalan parhalado HKBP Kramat Jati

Pdt. Prof. Binsar Jonathan Pakpahan, Ph.D, memberikan pemaparan dalam Pembekalan Parhalado HKBP Kramat Jati di Wisma Kinasih Caringin, Bogor, Jumat (21/2/2026).

BOGOR, OnlineKristen.com – Hawa sejuk yang mendekap kawasan Wisma Kinasih, Caringin, Bogor, Jumat, 20 Februari 2026, seolah menjadi ruang kontemplasi yang sempurna.

Di dalam aula yang tenang, puluhan parhalado (pelayan gereja) HKBP Ressort Kramat Jati duduk dengan saksama mengikuti Pembekalan Parhalado.

Hari itu, mereka diajak melintasi batas waktu, mengintip sebuah masa depan yang tak lagi berjarak, melainkan telah mengetuk keras pintu-pintu gereja.

Di tengah ruangan, Pdt. Prof. Binsar Jonathan Pakpahan, Ph.D., berdiri membentangkan peta navigasi spiritual. Makalah yang dibawakannya bertajuk tajam: “Peluang, Tantangan, Strategi & Optimalisasi Pelayanan di Era Digital“.

Dengan gaya tutur yang reflektif dan menggugah, Prof Binsar membedah realitas pelayanan di Jakarta pascapandemi yang melaju serba cepat, cair, dan tak jarang mengasingkan manusia dari akar spiritualnya.


Baca juga: Menemukan Kembali Api Pelayanan di Kaki Langit Bogor, Langkah 81 Parhalado HKBP Kramat Jati Menjawab Tantangan Zaman 

Gereja di Persimpangan Generasi

Prof. Binsar memulai narasinya dengan memetakan lanskap jemaat yang kini kian beraneka ragam. Gereja masa kini tak lagi dihuni oleh satu warna ekspektasi.

Terdapat bentangan generasi yang luas: mulai dari Baby Boomers yang idealis, Generasi X yang cenderung materialistis dan kompetitif, Generasi Y yang mengusung nilai global, hingga Generasi Z yang kerap bergumul dengan pencarian identitas diri.

Melalui kacamata Jobs Theory, sang teolog melontarkan sebuah pertanyaan eksistensial yang membuat seisi ruangan merenung: “Kenapa saya harus bergereja ke tempat ini?”.

Ia menjelaskan jemaat modern sejatinya tidak sekadar mencari rutinitas ritual, melainkan mencari sarana (progress) untuk menjawab pergumulan hidup mereka.

Jika gereja gagal memberikan jawaban yang relevan, perlahan namun pasti, umat—khususnya kaum muda—akan menggeser pencariannya ke tempat lain.


Baca juga: TPL Ditutup, Ephorus HKBP Serukan Tanggung Jawab Iman, Tekankan Perlindungan Pekerja dan Lingkungan 

Invasi Kecerdasan Buatan (AI) di Mimbar Suci

Narasi kemudian bergeser ke sebuah fenomena disrupsi yang paling masif di abad ini: Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Prof. Binsar tidak bermaksud menakut-nakuti, melainkan membuka mata para pelayan. Ia memaparkan betapa AI kini berlari kencang mengambil alih banyak profesi manusia yang bersifat repetitif.

Bahkan, altar gereja pun tak luput dari invasi algoritma. Ia membagikan kisah nyata tentang sebuah ibadah di Fürth, Jerman, yang dipimpin dan dirancang oleh mesin AI (AI-powered church service), yang ironisnya, berhasil menarik kerumunan besar jemaat.

Ada pula fenomena chatbot Katolik yang diprogram untuk menjawab doktrin gereja secara presisi, hingga eksperimen “AI Jesus” yang dirancang untuk mendengarkan pengakuan dosa.

Namun, di tengah kemegahan teknologi itu, Prof. Binsar menarik sebuah garis demarkasi yang tegas. “AI mungkin bisa ‘mendengarkan’ pengakuan, tetapi ia tidak bisa memberikan pengampunan dosa,” kutipnya, menegaskan adanya ruang sakral yang selamanya tak tertembus oleh mesin.


Baca juga: Seminar Natal Nasional 2025, Maruarar Sirait: Dalam Setiap Persoalan Keluarga, Allah Hadir untuk Menyelamatkan 

Harga Mahal Sebuah Kemudahan, Tergerusnya Nalar Kritis

Gemerlap AI memang menawarkan efisiensi instan, tetapi selalu ada harga mahal yang harus dibayar. Merujuk pada riset terbaru dari MIT Media Lab, Prof. Binsar memperingatkan tentang ancaman cognitive cost akibat terlalu bergantung pada kecerdasan buatan seperti ChatGPT.

Penelitian tersebut menemukan bahwa kemudahan akses informasi dari AI perlahan menumpulkan keinginan manusia untuk berpikir secara kritis.

Ketergantungan ini menciptakan “kepasifan mental“, di mana cara berpikir manusia modern tak lagi dibentuk oleh nurani dan daya nalar, melainkan disetir oleh tebakan probabilitas matematis ciptaan perusahaan teknologi.


Baca juga: Ribuan Jemaat Penuh Sukacita Rayakan HUT Ke-60 dan Pesta Gotilon HKBP Kramat Jati 

Menjadi Sahabat Sejati di Tengah Kesepian Digital

Lantas, bagaimana gereja dan para parhalado harus bersikap? Apakah harus menolak teknologi mentah-mentah? Tentu tidak.

Prof. Binsar menyarankan agar gereja harus melatih diri dan menyiapkan aturan-aturan etis dalam merengkuh teknologi sebagai alat bantu pelayanan.

Namun, strategi utama gereja tidak terletak pada kecanggihan perangkat kerasnya, melainkan pada kembalinya esensi kemanusiaan itu sendiri.

Prof. Binsar menekankan jenis pekerjaan yang tidak akan pernah tergantikan oleh AI adalah pekerjaan yang berakar pada empati, kecerdasan emosional, dan sentuhan personal.

Di balik layar smartphone umat, tersimpan sebuah ironi yang menyayat hati: epidemi kesepian. “Mereka yang mencari jawaban akan human companion (sahabat) pada AI akan justru semakin terjauhkan dari manusia lain,” ungkap Ketua STFT Jakarta ini dengan nada prihatin.


Baca juga: Hadirnya Terang di Sembilan Kota, Panitia Natal Nasional 2025 Memperkuat Fondasi Keluarga Indonesia 

Sebagai pungkasannya, Pdt. Prof. Binsar melemparkan sebuah tantangan profetik kepada seluruh pelayan HKBP Kramat Jati.

Apakah gereja siap menjadi sahabat yang mendengar dengan respons yang tulus ketika AI juga memberi respons?“.

Menjelang siang, ketika sesi itu usai, sebuah kesadaran baru terbit di hati para pendengarnya. Teknologi boleh saja meramu khotbah yang tanpa cela dalam hitungan detik.

Namun, pelukan empati di kala duka, tawa kebersamaan yang nyata, dan ketulusan hati seorang gembala yang mendengarkan keluh-kesah jemaatnya—itu semua adalah keajaiban roh yang tak akan pernah bisa diprogram oleh mesin manapun di muka bumi.(Victor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses