Jakarta, OnlineKristen.com – Membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) sebuah bangsa tak pernah cukup hanya dengan retorika di atas mimbar.
Ia membutuhkan pergulatan panjang, telinga yang peka terhadap realita di lapangan, dan keberanian untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.
Kesadaran akan kompleksitas inilah yang mencuat di Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, pada Jumat (13/3/2026).
Hari itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., resmi melantik jajaran anggota Dewan Pendidikan Nasional (DPN) periode 2026–2031.
Di antara wajah-wajah tokoh yang hadir, nama Handi Irawan D. turut dikukuhkan, memanggul amanah baru yang tak bisa dibilang ringan.
Bagi Handi Irawan, dunia pendidikan bukanlah medan yang asing. Sebagai CEO Frontier sekaligus Ketua Umum Majelis Pendidikan Kristen (MPK) di Indonesia, jejak langkahnya telah melintasi berbagai ekosistem pendidikan.
Namun, pelantikan ini membawa kiprahnya ke arena yang lebih luas: meja perumusan kebijakan pendidikan nasional.
Menembus Tembok Birokrasi
Ada sebuah pengakuan jujur dan menarik yang dilontarkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam sambutannya.
Ia menyadari bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendirian, apalagi hanya mengandalkan laporan dari balik meja kerja.
“Banyak hal yang tidak kami ketahui dari belakang meja. Banyak hal yang tidak kami ketahui dari media sosial dan media massa. Karena itu, kami membutuhkan masukan yang benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan,” ungkap Mu’ti di hadapan para tokoh yang baru dilantik.
Baca juga: MPK Indonesia Perkuat Sinergi dalam Sidang MPL PGI 2026 di Merauke, Menyemai Terang dari Ufuk Timur
Pernyataan ini seolah menjadi undangan terbuka bagi Handi Irawan dan anggota DPN lainnya untuk menjadi “mata dan telinga” kementerian.
Amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mendasari pembentukan DPN ini, kini menemukan pijakan nyatanya untuk menjawab Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto: memperkuat pembangunan SDM melalui pendidikan.
Kolaborasi Lintas Batas
Terpilihnya Handi Irawan membawa angin segar, terutama dalam menghadirkan perspektif dari akar rumput lembaga pendidikan swasta dan keagamaan.
Rekam jejaknya yang padat—mulai dari anggota Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) Kemendiktisaintek, Dewan Penasihat BKPTKI, hingga Dewan Kehormatan BMPTKKI—menjadikannya jembatan strategis antara pemerintah dan realita pendidikan di daerah.
Kepercayaan yang diberikan kepada Handi Irawan bukan sekadar pencapaian individu, melainkan momentum penting bagi ekosistem pendidikan secara keseluruhan.
Baca juga: Refleksi Pelayanan MPK 2025: Dari Duc In Altum Menuju Fructus In Altum
Ini adalah panggilan untuk mempererat kolaborasi segitiga: lembaga pendidikan, gereja, dan pemerintah.
Tantangan pendidikan di Indonesia masih membentang luas—mulai dari disparitas fasilitas, kualitas pengajar, hingga akses bagi anak-anak di pelosok negeri.
Kehadiran tokoh lapangan seperti Handi di DPN menumbuhkan harapan bahwa setiap kebijakan yang lahir nantinya akan lebih membumi, memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh hak konstitusionalnya untuk mengecap pendidikan yang bermutu.
Kini, langkah baru telah diayunkan. Kiranya di setiap lorong pembuatan kebijakan kelak, dedikasi dan pengabdian ini terus menjadi terang, membawa berkat yang nyata bagi wajah pendidikan Indonesia.(Victor)

















