MERUMUSKAN ULANG MAKNA “BAHAGIA”

"Beati, qui habitant in domo tua, Domine! Tuhan, berbahagialah orang yang diam di rumahMu"

KRISTEN TV || Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: JANGAN ADA TIM SUKSES

Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: Jangan Ada Tim Sukses
Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: Jangan Ada Tim Sukses
MERUMUSKAN ULANG MAKNA "BAHAGIA"

OnlineKristen.com | Tatkala kita menghadiri pesta pernikahan seseorang, pidato-pidato atau ucapan yang ditujukan kepada kedua mempelai biasanya amat standar (dan klise) yaitu “semoga anda berdua mengalami kebahagiaan dalam menempuh hidup yang baru”.

Kata “bahagia” atau “kebahagiaan” adalah kata yang amat sering bahkan yang selalu digunakan dalam konteks pernikahan. “Bahagia” senantiasa dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga, kehidupan perkawinan/pernikahan seorang perempuan dan laki-laki.

Baca Juga: REALITAS HIDUP UMAT YANG TELAH DITEBUS

KBBI memberikan arti “bahagia” itu “kesenangan dan ketenteraman hidup lahir batin, keberuntungan, kemujuran yang bersifat lahir batin”. Kebahagiaan yang dialami seseorang dalam perkawinannya memberikan spirit dan energi bagi orang itu untuk mewujudkan kehidupan yang makin baik dan berkualitas.


Acapkali orang membagi-bagikan kebahagiaan itu kepada orang lain sebagai tanda syukurnya kepada Tuhan. Menurut Buddha, ribuan lilin dapat dinyalakan dari satu lilin dan nyala lilin itu tidak berkurang. Kebahagiaan itu juga tidak akan pernah berkurang walau dibagi-bagi.

Kebahagiaan tidak setara dengan kesenangan, yang biasanya lahir dan hadir temporer. Kebahagiaan adalah keadaan sejahtera yang relatif permanen yang dicirikan oleh emosi yang berkisar dari rasa puas hingga sukacita yang dalam serta kuat ketika menjalani kehidupan dan hasrat alami agar kesejahteraan itu terus berlanjut. Dalam “bahagia” ada aspek permanennya, sementara pada “kesenangan” lebih mengedepan dimensi sesaat, dimensi temporernya.

Baca Juga: KEMAUAN BAIK MESTI DIWUJUDKAN DALAM PERBUATAN BAIK

Tentang “kebahagiaan” seorang Charles Darwin pernah berucap begini : “Bila aku nemiliki hidup yang bisa kujalani sekali lagi, aku akan nembuat aturan untuk diriku agar membaca beberapa buah puisi dan mendengarkan beberapa buah lagu setidak-tidaknya sekali dalam seminggu. Harapanku agar bagian otakku yang mengidap atrophia akan menjadi aktif kembali dengan menggunakan cara tersebut. Hilangnya selera pada hal-hal ini menyebabkan juga hilangnya kebahagiaan yang bisa saja berbahaya bagi orang-orang pintar dan mungkin juga membahayakan karakter moral karena bisa melemahkan sifat alamiah kita yang penuh perasaan”.


Charles Darwin memandang “bahagia” dari angle yang berbeda dari apa yang biasa banyak orang memahaminya. Hal menarik yang ia nyatakan adalah bahwa membaca beberapa buah puisi dan mendengarkan beberapa buah lagu dalam seminggu bisa menimbulkan kebahagiaan. Ia tidak menghubungkan kebahagiaan dengan faktor-faktor kebendaan dan atau prestasi yang dicapai seseorang dalam kehidupannya.

Walaupun kata “bahagia” lebih sering digunakan dalam kaitan dengan pernikahan atau pernikahan namun tak jarang juga kita mendengar seseorang menyatakan bahwa ia amat bahagia karena telah berhasil merampungkan penulisan tesisnya sebagai karya keilmuan yang ia garap mandiri. Atau orang menyatakan bahagia bekerja di di kantor baru dengan bos baru dan gaji yang amat memadai, tanpa harus bekerja keras.

Baca Juga: REFLEKSI PASKAH: DIUTUS UNTUK MEMBUAH DI KANCAH WABAH

Tentu saja setiap orang memiliki ‘kriteria’ sendiri untuk menyebut apakah itu bahagia. Generasi milenial mungkin bisa saja menyatakan bahwa ia bahagia karena ia berhasil membangun “supermarket on line” dan meraup keuntungan besar; atau bahagia karena mempunyai follower ribuan orang di salah satu akun nya!


Mereka yang bergerak dibidang hukum bisa saja menyatakan bahagia karena selalu memenangkan perkara besar, memenangkan pra-peradilan; akademisi menyatakan bahagia karena sesudah puluhan tahun menunggu ia bisa dikukuhkan sebagai profesor! Setiap orang dari berbagsi latar belakang bisa dan dimungkinkan.untuk merumuskan apa yang disebut “bahagia”.

Menarik pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini menyatakan “berbahagialah orang yang diam di rumahMu”. Orang yang bahagia adalah mereka yang diam di rumah Tuhan. Diam dirumah Tuhan berarti hidup setia kepada perintah Tuhan.

Baca Juga: PEMIMPIN ITU BERTINDAK MEMIMPIN, BUKAN DIAM MENIKMATI POSISI

Hidup taat dan setia kepada perintah Tuhan artinya hanya melakukan perbuatan baik, beramal saleh, berbuat kebajikan dan menjauhkan diri berbagai perbuatan yang melawan hukum serta bertentangan dengan kaidah, norma moral. Mari kita berupaya menjalankan perintah Tuhan dengan setia, disanalah terdapat kebahagiaan sejati.


Di zaman ini kita sebagai bangsa akan merasa sangat bahagia apabila kita sudah mampu mengalahkan Covid 19 dan mengusirnya dari seluruh wilayah NKRI. Mari kita mohon kepada Tuhan agar kita dianugerahkan kebahagiaan sejati dan bukan kebahagiaan semu, kebahagiaan artificial, pseudo kebahagiaan.

Selamat Berjuang.
God bless!

(Oleh: Weinata Sairin)

2 Comments

  1. Terima kasih atas tulisan renungan Merumuskan Ulang Makna Bahagia. Saya ijin share ya . Terima kasih. GBU

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.