Beranda / OPINI / Guru Kristen: Masih Relevankah di Zaman Ini?

Guru Kristen: Masih Relevankah di Zaman Ini?

Peran guru Kristen

Peran Guru Kristen: Masih Relevankah di Zaman Modern?

Guru Kristen: Masih Relevankah di Zaman Ini?

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”

 

Peribahasa klasik ini tentunya tidak asing di telinga setiap kita. Sebuah frasa yang menggambarkan betapa pentingnya peran guru yang tidak hanya sebagai seorang role- model, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab besar yang diemban dalam mendidik muridnya. Jika seorang guru berlaku baik, maka muridnya akan berlaku baik, begitu pula sebaliknya. Kisah dari Jepang setelah berakhirnya Perang Dunia II membuktikan peran vital guru dalam membentuk masa depan sebuah bangsa. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, alih-alih mengerahkan militer untuk memulihkan keadaan, yang dilakukan oleh Kaisar Hirohito ternyata adalah mengumpulkan para guru untuk membantu memulihkan moral masyarakat Jepang. Ia percaya bahwa guru adalah tulang punggung dalam membangun sumber daya manusia Jepang. Untuk membuktikan bagaimana guru berperan dalam mendidik siswa, survei yang dilakukan oleh APC (Asia Philanthropy Circle) menunjukkan bahwa peran guru sangat penting dalam meningkatkan prestasi siswa. Hasil dari survei menyatakan jika siswa di kelas 8 mendapatkan guru yang baik, maka di kelas 11 atau 3 tahun kemudian, siswa tersebut akan berada dalam 10 persen siswa dengan prestasi terbaik. Akan tetapi, siswa dengan kualifikasi yang sama dan kemudian mendapatkan guru yang berkinerja buruk, maka pada kelas 11, dia akan memiliki prestasi jauh di bawah anak yang didampingi oleh guru berkinerja baik. Hal ini kembali menegaskan pentingnya peran guru di dalam membentuk diri seorang siswa.

Namun, pertanyaan yang muncul sekarang adalah bagaimana dengan guru Kristen? Apa yang membedakan guru Kristen dengan guru non-Kristen? Apakah guru dengan label Kristen masih diperlukan mengingat peran guru secara umum terbukti berdampak bagi hidup siswa? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin juga kita tanyakan ketika kita melihat realitas yang ada di lapangan jika guru Kristen pada umumnya tidak berbeda dengan guru non-Kristen. Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu makna guru Kristen yang sesungguhnya. Yakobus 3:1 memperingatkan kita semua yang berperan sebagai guru atau pendidik untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik karena pertanggungjawaban yang lebih besar akan disematkan kepada kita. Ayat ini menjadi sebuah pengingat agar guru Kristen dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang sudah diberikan dengan sungguh-sungguh karena guru Kristen yang adalah salah satu wakil Allah dalam trisentra pendidikan Kristen (keluarga, sekolah dan gereja) berperan penting dalam menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus.

Van Brummelen di dalam bukunya yang berjudul Walking with God in the Classroom juga menegaskan bahwa tugas guru Kristen adalah mendidik siswa menjadi murid Yesus yang

responsif sehingga peran guru Kristen tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membawa siswa untuk memiliki iman kepada Kristus, serta membimbing mereka dalam proses pengudusan agar semakin menyerupai Kristus. Di dalam buku yang sama, Van Brummelen menggambarkan peran penting guru Kristen dalam metafora yang membentuk kerangka utuh tentang bagaimana seharusnya guru Kristen menjalankan panggilannya. Beberapa metafora tersebut yaitu guru sebagai: seniman (mendesain pembelajaran dengan kreatif dan menarik), teknisi (memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan profesinya), fasilitator (membimbing dan memotivasi siswa dalam proses pembelajaran), pencerita (membawa metanarasi Alkitab dalam pelajaran di kelas), pengrajin (mengevaluasi pembelajaran dan terus mengembangkan diri), pelayan (melayani siswa dengan kasih), imam (mengajarkan Kekristenan lewat keseharian dan pembelajaran) dan gembala (membimbing siswa untuk dapat mengembangkan talenta). Delapan metafora tersebut menunjukkan bahwa guru Kristen menjalankan peran holistis yang mengintegrasikan kompetensi profesional, pembentukan karakter, pemupukan iman, serta pelayanan kepada siswa. Oleh karena itu, keunikan guru Kristen terletak pada cara guru memaknai profesinya sebagai panggilan khusus untuk membentuk siswa secara holistik.

Akan tetapi, apakah konsep tersebut hanyalah idealisme pendidikan Kristen? Tidak bisa dipungkiri jika tantangan zaman masa kini jauh lebih berat. Siswa tidak hanya dihadapkan pada tantangan krisis identitas, sosial, keluarga dan lingkungan, melainkan juga perkembangan teknologi yang begitu cepat. Ketidaksiapan siswa dalam menerima perubahan tersebut dapat membawa dampak negatif bagi berbagai aspek kehidupan siswa. Bilangan Research Center (BRC) pada tahun 2018 melakukan survei terhadap 4.095 generasi muda Kristen di 42 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Survei tersebut berkenaan dengan masalah sosial yang dihadapi oleh remaja, seperti keinginan untuk bunuh diri, lari dari rumah dan mengonsumsi obat-obatan terlarang. Hasil survei menemukan bahwa guru berperan dalam menolong siswa saat mereka menghadapi masalah yang berat. Siswa yang tidak merasa bahwa setidaknya ada seorang guru yang selalu siap menolong akan 2 kali lebih mungkin untuk berpikir bunuh diri, 2 kali lebih mungkin untuk mencobanya, dan 2 kali lebih mungkin untuk mengonsumsi obat terlarang. Penelitian lain yang dilakukan oleh ACSI, Cardus dan Denver Seminary pada akhir tahun 2024 mengenai persepsi kesehatan mental dan well-being di sekolah Kristen menyimpulkan bahwa guru adalah front liner yang langsung bersinggungan dengan siswa sehingga diasumsikan bahwa guru adalah sosok yang lebih dekat dan lebih mengenal kondisi siswa dibandingkan warga sekolah yang lain. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa kehadiran guru sebagai figur dewasa yang dapat dipercaya dan memberikan dukungan memiliki arti penting bagi kehidupan siswa. Dalam konteks sekolah

Kristen, guru Kristen dipanggil untuk membentuk siswa menjadi pribadi seutuhnya dengan memperhatikan kebutuhan spiritual, emosional, mental serta sosial.

Setelah kita melihat beberapa fakta dan data di atas, dapat disimpulkan bahwa perbedaan guru Kristen dengan guru non-Kristen tidak terletak semata-mata pada identitas keagamaannya, tetapi pada iman kepada Kristus yang menghidupi cara mereka memandang siswa, menjalankan profesi, menggunakan ilmu, dan membentuk karakter siswa. Dikutip dari artikel yang ditulis oleh Alfred F.J. Kranz di Ministry Magazine, ia mengatakan rahasia keberhasilan mengajarkan firman Allah terletak pada bagaimana guru menerapkan kebenaran firman Allah dalam kehidupannya sendiri, lalu mempelajari cara menanamkan kebenaran tersebut ke dalam kehidupan murid-muridnya. Ia kemudian menambahkan bahwa guru yang hebat memiliki ciri-ciri berikut: kekuatan karakter Kristen, kepribadian yang kuat, penguasaan materi, keyakinan yang teguh, serta teknik mengajar yang bervariasi. Survei yang dilakukan BRC pada tahun 2023 mengenai persepsi terhadap kualitas sekolah Kristen di Indonesia menunjukkan bahwa kualitas guru adalah salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh orang tua ketika ingin menyekolahkan anaknya di sekolah Kristen. Kualitas guru menjadi pertimbangan setelah pembinaan karakter yang kemudian diikuti oleh beberapa parameter lainnya. Survei dari BRC memperlihatkan bahwa kehadiran guru Kristen menjadi variabel penting bagi siswa. Maka dari itu, dibutuhkan guru-guru Kristen yang menghidupi panggilannya dan di sinilah letak keistimewaan guru Kristen. Guru Kristen adalah guru yang tentunya harus unggul dalam ilmu karena ini adalah bentuk profesionalisme profesinya dan keyakinan Kekristenan bahwa tidak ada dikotomi antara iman dan pengetahuan. Selain itu, guru Kristen harus unggul dalam iman karena mereka sudah ditebus oleh Yesus sehingga iman yang ditunjukkan adalah iman yang hidup, serta unggul dalam karakter di mana guru Kristen adalah role-model yang memberi teladan bagi siswanya.

Pada akhirnya, pertanyaan mengenai relevansi guru Kristen pada zaman ini bukan mengenai apakah guru masih dibutuhkan, melainkan guru seperti apa yang dibutuhkan. Di tengah dunia yang semakin kompleks, siswa tidak hanya membutuhkan guru yang mampu mengajar dengan baik, tetapi juga yang mau mengerti dan membimbing mereka menjadi manusia seutuhnya. Sebab seperti peribahasa di awal, guru sebenarnya sedang mengajarkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, guru Kristen dipanggil untuk menjadi sosok yang unggul dalam ilmu, berakar dalam iman, dan berkarakter kuat. We teach who we are.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses