Beranda / NASIONAL / Menyalakan Pelita di Lorong Sunyi Kemanusiaan: Epik Keteladanan dalam Malam Penganugerahan PIKI Awards 2026

Menyalakan Pelita di Lorong Sunyi Kemanusiaan: Epik Keteladanan dalam Malam Penganugerahan PIKI Awards 2026

PIKI Awards 2026

Foto bersama Penerima PIKI AWARD 2026 dengan Pimpinan DPP PIKI

OnlineKristen.com – Di bawah pendaran cahaya keemasan yang menyorot lembut dari langit-langit Grand Studio Metro TV pada Minggu malam, (25/10/2026), sebuah harmoni kebangsaan tengah dirajut.

Suasana yang tadinya riuh oleh sapaan para tamu undangan mendadak hening ketika bait-bait nyanyian PIKI Choir mengalun syahdu, merayap masuk ke celah-celah sanubari.

Panggung kemudian dihentak oleh gerak ritmis tarian Nusantara persembahan Fabala Soul, sebuah rentak yang mengingatkan pada keberagaman zamrud khatulistiwa.

Namun, kemegahan malam itu bukanlah sekadar selebrasi visual yang memanjakan mata. Di balik gemerlap layar kaca dan gema tepuk tangan yang disiarkan langsung ke jutaan ruang keluarga di seluruh penjuru negeri, tersimpan sebuah narasi panjang tentang pengorbanan, air mata, keteguhan hati, dan jalan sunyi pengabdian.

Malam itu, Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) menggelar hajatan besarnya: PIKI Awards 2026. Mengusung tema sakral yang dipetik dari kedalaman spiritualitas Surat Efesus 4:15, “Terang Allah Membawa Kebenaran,” perhelatan ini adalah sebuah undangan terbuka bagi segenap anak bangsa.

Sebuah ajakan untuk merenung sejenak, menarik napas dari hingar-bingar modernitas, dan bertanya kepada diri sendiri: di tengah krisis keteladanan yang mendera, masih adakah pelita yang sudi menyala di tengah pekatnya kegelapan?

PIKI Awards 2026
Jimmy Oentoro dan Binsar Pakpahan

Doa yang Menggugat Nurani

Roh dari perhelatan malam itu langsung terasa manakala Pendeta Jimmy Untoro, Wakil Ketua Umum DPP PIKI, melangkah ke atas panggung untuk melangitkan doa pembuka. Kata-katanya tidak sekadar memohon berkat, melainkan sebuah refleksi tajam yang menggugat realitas zaman.

“Dunia semakin terang oleh teknologi, namun tidak selalu semakin terang oleh nurani. Informasi semakin melimpah, namun kebenaran sering kehilangan suara. Pengetahuan semakin tinggi, namun kebijaksanaan tidak selalu mengikutinya,” ucap Pendeta Jimmy dengan nada lirih namun menembus relung hati.

Di hadapan para hadirin yang tertunduk khusyuk, ia mengingatkan sebuah paradoks kebaikan. Bahwa berpegang teguh pada kebenaran harus selalu dibalut dengan kasih.

“Kebenaran tanpa kasih dapat melukai, dan kasih tanpa kebenaran dapat kehilangan arah,” lanjutnya.

Kalimat itu seolah menjadi benang merah yang mengikat seluruh kategori penghargaan malam itu; bahwa kehebatan seorang tokoh tidak hanya diukur dari seberapa nyaring ia bersuara, tetapi seberapa tulus ia mengasihi sesamanya.

Refleksi ini diperdalam oleh Pendeta Binsar Pakpahan selaku Ketua Panitia. Dalam renungannya, ia menyoroti betapa mahalnya harga sebuah keteladanan hari ini.

“Menjadi teladan berarti siap menjadi pionir yang rentan disalahkan, rentan jatuh, namun dituntut untuk terus berdiri,” katanya.

Di negeri yang diklaim sangat religius ini, lanjut Pdt Binsar tantangan korupsi dan kerusakan lingkungan masih menjadi bayang-bayang kelam.

“Oleh karena itu, kehadiran para peraih PIKI Awards bagaikan oase di tengah gurun kehausan moral bangsa,” pungkasnya.

PIKI Awards 2026
Ketua Umum DPP PIKI Maruarar Sirait

Kebangkitan Sang Raksasa Intelektual

Bagi PIKI, penganugerahan ini bukan sekadar tradisi membagikan piala atau seremonial elitis. Ini adalah napak tilas sejarah dari sebuah raksasa yang kembali bangkit.

Lahir dari rahim pergumulan kebangsaan pada 19 Desember 1963 di sekretariat Universitas Kristen Indonesia (UKI), PIKI didirikan oleh raksasa-raksasa pemikir Kristen seperti Johannes Leimena, Todung Sutan Gunung Mulia, Radius Prawiro, dan Sabam Sirait.

Mereka adalah kaum intelektual yang menolak mengurung diri di menara gading gereja, melainkan memilih turun ke gelanggang untuk ikut mendesain arsitektur negara yang baru merdeka.

Sempat mengalami pasang surut yang mengikuti turbulensi politik nasional, organisasi ini dibangkitkan kembali pada Juni 1987. Dan kini, di bawah kepemimpinan Maruarar Sirait sebagai Ketua Umum DPP PIKI masa bakti 2026-2031, sayap-sayap organisasi ini kembali terkepak luas merangkul bentangan Nusantara.

Maruarar, dengan gaya bicaranya yang meledak-ledak penuh energi namun tetap membumi, menyapa satu per satu pasukannya dari atas panggung.

Ia tidak hanya menyapa tokoh-tokoh elite di Jakarta, melainkan matanya mencari para pengurus daerah di barisan belakang.

Ia menyapa DPC PIKI Pontianak, menyemangati mereka di tengah bencana kebakaran hutan. Ia menyapa DPC Samosir, NTT, hingga perwakilan PIKI dari tanah Papua dan jejaring PIKI di Amsterdam, Belanda.

“Ini jadi momentum bahwa apa yang kita kerjakan selama empat bulan ini… bagaimana kita bisa berdiri di atas kekuatan sendiri, di kaki sendiri dengan mengandalkan Tuhan Yesus. Itu spirit yang kita bangun. Kita dididik Tuhan jadi kepala bukan ekor, baik kepala dalam iman, dalam pekerjaan, dan apapun itu,” tegas Maruarar yang akrab disapa Ara, disambut gemuruh tepuk tangan.

Ara memaparkan bukti nyata bahwa PIKI bukan sekadar wadah berwacana. Hanya dalam tempo kurang dari setengah tahun pasca pelantikan, organisasi ini telah berlari kencang.

Mereka menggelar Simposium Energi Nasional di UPH Karawaci, berkolaborasi dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di mana rekomendasi PIKI terkait pembangunan PLTN dan aliran listrik untuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) langsung diserap menjadi pijakan kebijakan negara.

Di ranah keadilan, Seminar Nasional Hukum PIKI menghasilkan rekomendasi krusial mengenai penyelesaian kolektif korban tindak pidana melalui mekanisme kepailitan—sebuah gagasan brilian yang diterima dengan tangan terbuka oleh Jaksa Agung ST Burhanuddin.

PIKI juga menjejakkan kakinya di wilayah bencana, mengantarkan bantuan untuk korban banjir Sumatera Utara, gempa Flores, hingga kepungan asap Karhutla di Palangka Raya.

“Perjuangan kita bukan hanya untuk umat Kristen, tetapi juga untuk semua masyarakat. Saya ingin PIKI mencapai masa keemasan dalam 5 tahun ke depan. Ukurannya: dapat dipercaya, berdampak, berani bicara, dan bisa melahirkan SDM berkualitas,” tandas Ara, merajut kembali harapan untuk melahirkan sosok-sosok sekaliber Leimena di era modern.

Sepuluh Pelita di Tengah Kegelapan Zaman

Inti dari malam penganugerahan itu adalah pengakuan terhadap mereka yang menolak menyerah pada pesimisme. Melalui proses penjaringan terbuka dan penjurian ketat yang menggandeng lembaga survei independen Indikator, proses ini melibatkan lebih dari 30 juri kredibel.

Menggunakan empat dimensi penilaian yang objektif—Integritas, Inovasi, Berdampak, dan Keberlanjutan—delapan tokoh dan dua lembaga dianugerahi PIKI Awards.

Kisah mereka adalah kisah tentang orang-orang yang memilih berjalan di lorong sunyi kemanusiaan, jauh dari hiruk-pikuk pencitraan.

PIKI Awards 2026
PIKI Awards 2026: Mengukir Jejak Kebaikan dan Merayakan Teladan Bintang Penjuru Bangsa

Di kategori Tokoh Toleransi, nama Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag., menggema memenuhi ruang studio. Datang dari Maluku, wilayah yang bertahun-tahun silam pernah luluh lantak dikoyak konflik komunal atas nama agama, Abidin memilih menjadi ‘provokator perdamaian’. Saat menerima plakat dari Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Jacky Manuputty, Abidin berujar dengan suara yang menyiratkan ketegaran panjang.

“Perjuangan ini adalah jalan sunyi dan berisiko, tapi ini adalah manifestasi iman saya kepada Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan ini adalah jihad saya untuk perdamaian,” ucapnya.

Ia tak mengambil piala itu untuk dirinya sendiri, melainkan mempersembahkannya bagi mereka yang pernah menjadi korban atas nama apa saja.

Dari ruang laboratorium yang kedap suara, Prof. (H.C.) Dr. Carina Citra Dewi Joe, B.Sc., M.Sc., Ph.D., diganjar penghargaan Tokoh Riset dan Inovasi. Srikandi lulusan SMA BPK Penabur Jakarta ini adalah pahlawan tanpa jubah yang menemukan formula produksi massal vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Karyanya tidak berbicara lewat orasi di mimbar, melainkan lewat jutaan botol kecil yang disuntikkan ke lengan manusia, membebaskan dunia dari cengkeraman maut pandemi.

“Ilmu pengetahuan lahir dari ketekunan, kerja sama, dan niat tulus untuk berguna bagi sesama,” ungkapnya singkat namun padat makna.

PIKI Awards 2026
PIKI Awards 2026: Mengukir Jejak Kebaikan dan Merayakan Teladan Bintang Penjuru Bangsa

Dedikasi melampaui nalar manusiawi ditunjukkan oleh dr. Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D., Sp.B., Sp.BTKV, penerima penghargaan Tokoh Kesehatan. Melalui Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE), dr. Lie melakukan hal yang bagi banyak orang dianggap gila: ia menjual rumah pribadinya demi membangun rumah sakit apung swasta pertama di Indonesia pada 2013.

Ia menerjang ganasnya ombak samudra demi menjahit luka dan mengobati penyakit masyarakat di pulau-pulau terdepan Nusantara yang tak pernah tersentuh pisau bedah medis.

Di bidang pelestarian identitas dan akar peradaban, Dr. Bambang Noorsena dianugerahi Tokoh Kebudayaan.

Sepanjang hidupnya, ia mendedikasikan waktu untuk menggali kekayaan warisan iman dan tradisi lintas bangsa, menjadi jembatan pemahaman yang kokoh di tengah masyarakat yang kerap dikotak-kotakkan oleh dogma yang sempit.

PIKI Awards 2026
PIKI Awards 2026: Mengukir Jejak Kebaikan dan Merayakan Teladan Bintang Penjuru Bangsa

Sementara itu, dari pesisir Sendangbiru, Malang, Jawa Timur, muncul nama Saptoyo sebagai Tokoh Lingkungan Hidup. Sejak 1998, kedua tangannya berlumur lumpur demi menanam mangrove dan melindungi terumbu karang.

Jalan pelestarian yang ia tempuh sangat terjal, bahkan ia sempat merasakan dinginnya lantai penjara pada 2015 karena intrik mempertahankan alam. Namun, kecintaannya pada rahim bumi mengalahkan rasa takutnya pada represi.

Ekonomi kerakyatan juga mendapat panggung kehormatannya. Gusti Ngurah Anom, atau yang lebih tersohor dengan panggilan akrab Ajik Krisna, dinobatkan sebagai Tokoh Pemberdayaan UMKM (Ekonomi).

Melalui imperium bisnis oleh-olehnya di Bali, Ajik Krisna bukan sekadar meraup pundi-pundi keuntungan pribadi. Ia menggunakan ruang bisnisnya sebagai kawah candradimuka yang mengangkat derajat ribuan perajin lokal, ibu-ibu pedesaan, hingga kawan-kawan disabilitas, memberi mereka martabat melalui kemandirian ekonomi.

PIKI Awards 2026
Butet Manurung

Momen paling menggetarkan dan menguras air mata malam itu terjadi ketika Saur Marlina Manurung, yang lebih lekat dipanggil Butet Manurung, naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan Tokoh Pendidikan.

Pendiri Sokola Rimba ini tak kuasa menahan isaknya. Menatap piala di tangannya, ingatannya melayang jauh menembus tembok studio, menuju rimbunnya pedalaman hutan Jambi dan pesisir-pesisir terpencil Nusantara.

“Maaf saya emosional ya… karena saya ingat banyak kebakaran hutan. Ketika masyarakat adat terus tersingkir,” isaknya tertahan di depan mikrofon, suaranya pecah oleh kepedihan.

Air matanya adalah sebuah gugatan peradaban atas kaum adat yang terus terusir dari tanah leluhurnya atas nama pembangunan, sementara ia terus berjuang memerdekakan pemikiran mereka melalui pendidikan kontekstual.

PIKI Awards 2026
PIKI Awards 2026: Mengukir Jejak Kebaikan dan Merayakan Teladan Bintang Penjuru Bangsa

Penghargaan Tokoh Anti-Korupsi (anumerta) disematkan kepada mendiang Prof. Dr. Artidjo Alkostar. Mantan Hakim Agung ini adalah antitesis sejati dari kemewahan dan kerakusan pejabat publik.

Kesederhanaannya—bahkan hingga akhir hayatnya—berbanding terbalik dengan nyalinya yang membuat para koruptor kakap gemetar di ruang sidang. Sang istri, Sri Wid Ningsih, menerima piala tersebut dengan raut haru, mengenang suaminya yang telah mewakafkan seluruh integritasnya demi membersihkan Republik ini dari parasit korupsi.

PIKI Awards 2026
PIKI Awards 2026: Mengukir Jejak Kebaikan dan Merayakan Teladan Bintang Penjuru Bangsa

Di luar delapan kategori utama, PIKI memberikan dua apresiasi khusus yang tak kalah bergengsi. Yayasan Buddha Tzu Chi menerima penghargaan Lembaga Filantropi atas kerja-kerja kemanusiaannya yang buta terhadap warna kulit, suku, maupun agama.

Ketika bencana datang, ketika orang sakit tak mampu berobat, rompi biru-putih khas relawan Tzu Chi selalu hadir membawa pelukan hangat kemanusiaan.

Apresiasi khusus kedua jatuh kepada Gugun Gumilar, Ph.D., sebagai Penggiat Kebebasan Beribadah. Di tengah ancaman intoleransi yang masih sering meletup di tingkat akar rumput, Gugun berdiri layaknya batu karang yang menahan gempuran ombak.

“Saya tidak membela gereja atau umat tertentu, saya membela keadilan. Kalau dia benar dan sesuai dengan amanat konstitusi, saya akan bela!” serunya lantang, mengingatkan bangsa ini bahwa negara harus hadir menjamin kebebasan warganya untuk memanjatkan doa.

Panggilan Menjadi Warga Negara yang Utuh

Puncak perenungan spiritual kebangsaan malam itu disempurnakan oleh pidato penutup dari Pdt. Dr. Jacky Manuputty. Dengan artikulasi yang tenang, jernih, dan menghunjam kedalaman rasionalitas, tokoh yang menjabat sebagai Ketua Umum PGI sekaligus Dewan Kehormatan DPP PIKI itu membedah filosofi kewarganegaraan menurut kacamata iman Kristiani.

PIKI Awards 2026
PIKI Awards 2026: Mengukir Jejak Kebaikan dan Merayakan Teladan Bintang Penjuru Bangsa

“Bagi para pendiri PIKI, menjadi orang Kristen di Indonesia berarti menjadi warga negara yang sepenuhnya hadir, sepenuhnya peduli, sepenuhnya beriman, dan sepenuhnya menjadi alat kepentingan bagi bangsa dan kemanusiaan,” tuturnya.

Ia menggarisbawahi bahwa di tengah keriuhan politik pragmatis jangka pendek, PIKI telah mengambil jalan sunyi dengan mengangkat mereka yang bekerja dengan tekun di luar sorotan kamera.

Mengutip nasihat Rasul Paulus dalam Roma 12:12, Pdt. Jacky mengajak semua yang hadir dan pemirsa di rumah untuk tetap bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa.

“Bahwa pengharapan bukanlah angan-angan kosong, melainkan jangkar yang membuat anak bangsa terus bekerja melayani sesama, meski hasilnya tak langsung terlihat esok pagi,” tandasnya.

PIKI Awards 2026
PIKI Awards 2026: Mengukir Jejak Kebaikan dan Merayakan Teladan Bintang Penjuru Bangsa

Sebagai pamungkas penutup, Ketua Dewan Kehormatan DPP PIKI, Hasyim Djojohadikusumo, memberikan pesannya melalui tayangan video. Dengan suaranya yang berwibawa, ia menegaskan esensi dari perhelatan tersebut.

“Menghargai mereka yang mengabdi dengan integritas berarti merawat keteladanan yang dibutuhkan bangsa kita. Teruslah menjadi terang dan berkat bagi Indonesia,” pesannya.

Saat acara perlahan ditutup dan para penerima penghargaan berdiri berjajar di atas panggung untuk sesi foto bersama di bawah taburan confetti, ada satu pesan kebenaran yang tak terucap namun menggema sangat kuat di ruang studio itu.

Bangsa Indonesia mungkin sedang didera berbagai krisis yang kompleks—mulai dari patologi korupsi, perusakan ekosistem, hingga ancaman krisis toleransi.

Namun, selama bumi pertiwi ini masih memiliki sosok-sosok teguh seperti Abidin Wakano, Butet Manurung, Saptoyo, Carina Joe, dr. Lie, dan keteladanan abadi seorang Artidjo Alkostar, bara harapan itu tak akan pernah benar-benar padam.

Melalui PIKI Awards 2026, Bangsa ini kembali diajarkan sebuah realitas fundamental: pahlawan tidak melulu mereka yang berdiri di mimbar kekuasaan. Pahlawan sejati adalah mereka yang bersedia merengkuh kesunyian, meneteskan peluh di pedalaman hutan, meracik asa di dalam laboratorium medis, menantang maut di lautan lepas, dan berdiri tegak menolak suap miliaran rupiah. Di tangan mereka yang kapalan oleh kerja keras itulah, “Terang Allah” menemukan manifestasi manusiawinya yang paling murni—sebuah kebenaran yang membebaskan, memberdayakan, dan menghidupkan seluruh anak bangsa. Ad Caritas Et Veritas!

(Victor)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

error: Content is protected !!