JAKARTA, OnlineKristen.com — Pagi itu, hiruk-pikuk lalu lintas di Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, seolah mereda sejenak, berganti dengan sayup-sayup ritme gondang sabangunan yang mengalun ritmis menembus dinding-dinding beton perkotaan.
Di balik gerbang besi gereja Huria Batak Kristen Protestan (HKBP) Ressort Kramat Jati, sebuah pemandangan kontras dan memukau tersaji pada Minggu (25/10/2026).
Sekitar 1.800 warga jemaat, berbalut ulos kebanggaan dengan rona wajah penuh sukacita, berkumpul di bawah tenda raksasa yang menaungi pelataran rumah ibadah tersebut.
Hari itu bukan sekadar peribadahan Minggu biasa. Ini adalah sebuah perayaan akbar yang merajut dimensi waktu—mengenang 62 tahun berdirinya HKBP Kramat Jati, sekaligus merayakan Pesta Gotilon, sebuah tradisi agung pesta panen yang diwariskan dari tanah leluhur nun jauh di pedesaan Bona Pasogit.
Bagi masyarakat perantauan di Jakarta, Pesta Gotilon sering kali menghadapi tantangan relevansi. Bagaimana merayakan “pesta panen” di kota metropolitan yang tak lagi memiliki ladang sawah?
Pertanyaan eksistensial inilah yang dijawab dengan sangat elegan oleh HKBP Kramat Jati. Di bawah terang firman Tuhan yang terambil dari 2 Korintus 9:7, “Allah Mengasihi Orang yang Memberi Dengan Sukacita”, gereja ini menerjemahkan ulang makna hasil bumi (Parbue ni Tano) menjadi sebuah dedikasi, karya, dan gotong royong warga jemaatnya.

Bangun Jembatan Budaya
Suasana khidmat menyelimuti altar ketika barisan prosesi pelayan gereja, pembawa simbol ibadah, dan perwakilan dari 20 wijk (wilayah) melangkah perlahan. Mereka membawa persembahan yang tidak lagi hanya berwujud padi atau palawija, melainkan komitmen hati.
Ketua Panitia Pesta Gotilon, Jadiman Situmorang, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada seluruh jemaat dan pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.
“Kami dari panitia mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan berkah dan melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua,” ujar Jadiman Situmorang di hadapan para jemaat yang hadir.
Jadiman menambahkan perayaan ini bukan sekadar momen ceremonial tahunan, melainkan ajang untuk mempererat tali persaudaraan serta meneguhkan komitmen jemaat dalam mendukung program-program pelayanan gereja ke depan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama persiapan dan pelaksanaan acara terdapat hal-hal yang kurang berkenan.
“Kami menyadari dalam pelaksanaan tugas panitia mungkin ada kekurangan atau ketidaksempurnaan. Dengan rendah hati kami memohon maaf dan berharap kebersamaan ini terus terjaga,” tuturnya.
 Turut hadir memperkuat barisan kepanitiaan dan pelayanan hari itu adalah Sintua Lundin Panjaitan serta Calon Sintua Atiek Siahaan Br. Silalahi, yang terus sibuk memastikan seluruh jemaat terlayani dengan baik.
Menyelaraskan tradisi dengan kehidupan modern tidaklah mudah, namun HKBP Kramat Jati berhasil meramunya menjadi sebuah orkestrasi kebersamaan yang indah.
Panggung musik tidak diisi oleh artis bayaran dari luar. Denting kecapi, tiupan seruling, hingga dentuman sound system yang menggelegar, semuanya merupakan persembahan sukarela (swadaya) dari warga jemaat.
Para penyanyi adalah jemaat; yang memasak lauk-pauk dan menyuguhkan minuman adalah jemaat. Tak ada rupiah dari kas panitia yang dihabiskan untuk membayar keringat mereka. Semua murni persembahan (silehon-lehon).

Menghidupkan Partisipasi
Di balik kemeriahan yang menyejukkan mata ini, terdapat visi teologis dan pastoral yang kuat dari Pendeta HKBP Ressort Kramat Jati, Pdt. Dr. Martongo Sitinjak. Sebagai sosok gembala, ia menyadari bahwa perayaan gerejawi rentan terjebak pada euforia sesaat yang menghamburkan dana.
“Sejak awal, panitia saya minta secara tegas untuk menggerakkan jemaat agar berpartisipasi secara bebas. Kita tidak boleh mengandalkan dana yang dihabiskan panitia untuk konsumerisme semata,” tegas Pdt. Martongo.Â
“Seluruh rangkaian kegiatan ini benar-benar mencerminkan semangat gotong royong. Ini adalah bukti bahwa rumah ibadah bukan hanya bangunan, melainkan pusat persekutuan spiritual.”
Bagi Pdt. Martongo, Pesta Gotilon tahun ini memikul dua misi strategis yang berjalan beriringan. Misi pertama adalah mempererat rasa kekeluargaan dan ikatan emosional antarjemaat melalui kerja bersama.
Ketika seorang jemaat menyumbangkan tenaganya untuk mengangkat kursi, atau seorang ibu menyumbangkan masakannya untuk dinikmati jemaat lain, di situlah dinding-dinding individualisme khas perkotaan runtuh seketika.
Melunasi Cita-cita Puluhan Tahun
Misi strategis kedua membawa jemaat pada sebuah tantangan yang membutuhkan iman dan tindakan nyata. Selama puluhan tahun, HKBP Kramat Jati memendam kerinduan untuk memiliki fasilitas yang lebih memadai, terutama bagi anak-anak Sekolah Minggu dan akses keluar-masuk kendaraan jemaat yang kerap terkendala akibat posisi gereja yang padat.
Impian itu mulai mewujud ketika gereja berhasil membebaskan sebidang lahan seluas 970 meter persegi yang membentang strategis di jalur protokol depan kompleks gereja. Nilai transaksinya tidak main-main: Rp 13 miliar.
Namun, alih-alih bergantung pada pinjaman bank dengan bunga yang mencekik, jemaat berinisiatif mengumpulkan pinjaman lunak tanpa bunga dengan tenor tiga tahun.
“Lahan tersebut murni dibeli menggunakan pinjaman lunak dari warga HKBP Kramat Jati sendiri,” jelas Pdt. Martonggo.
“Pesta Gotilon ini menjadi momentum besar. Target kami adalah mengumpulkan dana hingga Rp. 2 miliar melalui perayaan ini untuk mempercepat pelunasan pinjaman tersebut.”
Dalam perspektif inilah, tarian tor-tor yang dilakukan jemaat di bawah tenda hari itu bukan lagi sekadar pelestarian budaya. Setiap langkah kaki dan juluran tangan dalam tarian tersebut adalah bentuk afirmasi dan doa agar beban gereja dapat dipikul bersama.
“Pembelian tanah ini adalah monumen, sebuah bukti nyata kekompakan jemaat kita yang tak lekang oleh zaman,” sambung Pdt. Martongo.
Membangun Manusia
Di tengah sorak-sorai sukacita Pesta Gotilon, HKBP Kramat Jati tidak lupa untuk menatap cakrawala masa depan. Dari sekitar 1.400 Kepala Keluarga (KK) yang terdaftar, tercatat sebanyak 800 KK sangat aktif beribadah dan mengambil peran dalam roda kehidupan gereja. Angka ini adalah aset manusia yang jauh lebih berharga daripada lahan di jalur protokol.
Menghadapi era digitalisasi yang berlari cepat, gereja menyadari bahwa pembangunan fisik harus diimbangi dengan pembinaan mental dan spiritual. Pdt. Martongo telah meletakkan cetak biru pembinaan partisipatif untuk menjawab tantangan zaman.
Gereja ini tengah merancang youth family camp yang menyasar keluarga-keluarga muda, serta camp khusus remaja yang tidak hanya berfokus pada doktrin alkitabiah, tetapi juga pada pemetaan bakat alamiah anak sejak usia dini.
“Pertumbuhan spiritual harus makin terus digiatkan. Kita tidak bisa lagi menggunakan metode lama di zaman yang serba digital ini,” pesan Pdt. Martongo, menyiratkan bahwa HKBP Kramat Jati siap bertransformasi menjadi gereja yang relevan bagi generasi Alpha.
Sore pun perlahan turun di Jakarta Timur. Suara gondang mulai mereda, namun resonansinya di dalam dada ribuan jemaat yang hadir dipastikan akan terus bergema.
Pesta Gotilon dan perayaan HUT ke-62 HKBP Kramat Jati telah usai, meninggalkan sebuah warisan cerita tentang bagaimana iman, kebudayaan kampung halaman, dan realitas urban dapat melebur menjadi sebuah mahakarya pelayanan.
Mereka tidak sekadar membangun gereja; mereka sedang membangun sebuah peradaban kasih di tengah kerasnya ibu kota. (Victor)














