GOI dan Lembaga Lintas Iman Gelar Panggung Budaya Nyepi Indonesia Tahun Saka 1943/2021

GOI dan Lembaga Lintas Iman Gelar Panggung Budaya Nyepi Indonesia Tahun Saka 1943/2021
GOI dan Lembaga Lintas Iman Gelar Panggung Budaya Nyepi Indonesia Tahun Saka 1943/2021

Setelah sukses menggelar perayaan Natal dan Haul (Alm) Gus Dur dan (Alm) Riyanto pada bulan Desember 2020, disusul dengan kegiatan perayaan Imlek Virtual 2572 Kongzili pada bulan Februari 2021, Gerakan Optimisme Indonesia (GOI) beserta jaringan lembaga-lembaga lintas iman akan menggelar “Panggung Budaya Nyepi Indonesia Tahun Śaka 1943/2021” pada Sabtu, 20 Maret 2021.

Ke depan, untuk perayaan-perayaan hari besar keagamaan dan hari nasional, juga akan digelar secara bersama.

Harapannya, anak-anak Bangsa akan bersama-sama kembangkan kegiatan kebersamaan ini untuk semakin menampilkan wajah Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika, optimis, hidup dalam harmoni, menghadirkan keadilan dan perdamaian.

Ini sekaligus menjadi model dan alternatif edukasi bagi seluruh anak-anak bangsa lintas generasi.




Hari Raya Nyepi yang dilakukan oleh masyarakat Hindu merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi kebutuhan, baik secara spiritual, rohani, maupun jasmani.

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang dilakukan melalui tatanan atau rangkaian upacara nyepi, diakui sebagai bentuk pengakuan adanya kekuatan diluar kemampuan dirinya, yang disebut dengan kekuatan supranatural.

Keyakinan ini menunjukkan bahwa pada diri seseorang tidak dapat dipisahkan dengan makrokosmos atau alam semesta.




Pelaksanaan upacara bagi masyarakat yang beragama, tentu sebuah pandangan yang biasa karena sudah sebagai pemeluk agama yang baik akan menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran-ajaran.

Sejak zaman dahulu kala, umat Hindu menghormati hari-hari keagamaan sebagai perayaan yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan).

Persembahan yang dibuat tidak lepas dari sistem upacara. Sistem upacara ini melambangkan dan melaksanakan konsep yang terkandung dalam sradha umat Hindu.




Begitu juga dengan perayaan Nyepi, berdasar Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala, bahwa perayaan Tahun Baru Śaka dirayakan dengan Hari Raya Nyepi, yang jatuh pada setiap penanggal “apisan” (tanggal satu) sasih Kedasa Menurut perhitungan tahun masehi Hari Raya Nyepi biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April setiap tahunnya. Untuk tahun ini, hari raya Nyepi dirayakan pada hari Minggu tanggal 13 Maret 2021 (1 Saka 1943).

Beranjak dari uraian di atas, GOI beserta jaringan lembaga-lembaga lintas iman pada Nyepi Tahun Śaka 1943 atau Maret 2021 akan menyelenggarakan perayaan Nyepi, untuk menjaga dan membangun keharmonisan kehidupan serta kedamaian beragama dan bernegara yang sesuai dengan tema Nyepi Nasional yakni Kolaborasi Dalam Harmoni Menuju Indonesia Maju.

GOI beserta jaringan lembaga-lembaga lintas iman akan menggelar PANGGUNG BUDAYA NYEPI INDONESIA pada Sabtu 20 Maret 2021.




Ketua Panitia, Jerry Darmawan, menjelaskan bahwa dalam Perayaan Nyepi Nasional kali ini, akan menghadirkan Sambutan dan ucapan Selamat Hari Raya Nyepi dari unsur Menteri – Kabinet Indonesia Maju yaitu Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, Anggota DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Tokoh – Tokoh Nasional Lintas Iman dari MUI, NU, Muhammadiyah, PGI, KWI, Permabudhi, MATAKIN dan Penghayat.

Tokoh-tokoh Nasional yang akan hadir, diantaranya, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, KH Taufik Damas, Jajang C Noer, Naen Suryono, Arif Harsono, Addie MS, Siti Musdah Mulia, I Gusti Kompang Raka, I Gede Ariawan, Xs Budi Santoso Tanuwibowo, Pdt Gomar Gultom, Dedi Mulyadi, Ni Luh Riniti Rahayu, serta Tokoh-tokoh lainnya.

Acara ini juga akan dihadiri para perwakilan pemerintahan beberapa komunitas dan lembaga serta Pagelaran Tari Pendet, Tari Piring, Iwenk MJC, wawancara tokoh budaya, serta doa lintas Iman dari para pimpinan lembaga dan tokoh agama-agama di Indonesia. Dan tidak kalah penting adalah akan ada rangkaian pagelaran seni dan budaya dari beragam kreasi kreatif dan memikat dari anak-anak bangsa dari seluruh Indonesia dan luar negeri.




Jerry menerangkan Panggung Budaya Nyepi Indonesia Virtual Tahun Śaka 1943/2021 akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 20 Maret 2021 dimulai Pukul 14:00 s/d 16:00 WIB, dengan lokasi panggung (onsite) di Pura Aditya Jaya, Rawamangun – Jakarta Timur. Serta akan disirakan secara virtual melalui Live Streaming Youtube Channel: Gerakan Optimisme Indonesia melalui link: https://youtube.com/channel/UCcfLXlLi3-v2lUa1zq2KNcg

“Diharapkan kegiatan ini akan mendapat dukungan dari semua pihak sebagai konsolidasi kebangsaan, serta sebagai upaya menguatkan komitmen semua pihak dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan konsensus nasional kita; Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan NKRI,” kata Jerry Darmawan, yang mewakili unsur Permabudhi.

Salah satu musisi dari luar negeri yang akan hadir dalam acara Panggung Budaya Nyepi Indonesia Tahun Saka 1943/2021 ini adalah Maria Stefanie, seorang pencipta lagu dan penyanyi asal Surabaya, Indonesia yang berdomisili di Sydney, Australia.




Maria Stefanie akan membawakan lagu ciptaanya yang berjudul “The Voice of Peace”. Sebagai salah satu Warga Negara Indonesia yang menjunjung tinggi semangat perdamaian dan kebersamaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, Maria Stefanie merasa terhormat dapat menyanyikan karyanya dalam acara yang diusung oleh Gerakan Optimisme Indonesia ini.

“Sebagai anak-anak Bangsa, dan juga sebagai bagian dari generasi muda Indonesia, saya yakin sekali bahwa semangat persatuan, semangat perdamaian, semangat kolaborasi dalam gerakan optimisme yang diwujudnyatakan oleh GOI melalui perayaan Nyepi kali ini akan berdampak luas, akan mampu menyemangati kita semua, bahwa bersatu dalam keragaman akan selalu menjadi kebutuhan sekaligus kekuatan kita bersama, tanpa terkecuali.” jelas Maria, yang juga pernah aktif dalam salah satu organisasi internasional PBB di Australia.

Menurut Maria yang baru saja meluncurkan single terbaru “Janji Suci” bulan Februari lalu dan sebelumnya single Mengerti-Mu di berbagai platform dan media di Indonesia, Ia menciptakan lagu ini sebagai bentuk solidaritas, sekaligus rasa simpati dan empati saya terhadap mereka, siapapun juga yang pernah mendapat perlakuan kurang adil karena masalah perbedaan ras. Dalam lirik lagu The Voice of Peace, Maria menaruh nilai-nilai renungan yang bersifat mendamaikan.




“Melalui lagu ini, saya mengajak pendengar dan penonton, kita semua, untuk tidak hanya bersimpati atau mengerti, tetapi terutama berani untuk berempati, merasakan penderitaan mereka, hadir untuk mereka, siapapun yang memiliki impian dan harapan tentang perdamaian. Dengan demikian saya yakin kita semua, apapun Agama, Suku, Ras kita, kita akan berani lebih lantang lagi untuk menyuarakan perdamaian di mana pun juga, terutama sebagai Warga Negara Indonesia,” urai dia.

Hingga saat ini, lanjut Maria, lagu The Voice of Peace telah menjangkau puluhan ribu orang di Indonesia dan sebagian lagi orang-orang di Australia serta Asia Pasifik.

“Tapi saya ingin lebih banyak lagi menjangkau orang-orang agar dapat lebih memahami nilai-nilai perdamaian, keadilan dan kesatuan melalui lagu ini. Untuk itu, saya ingin menyemangati kita semua untuk terus berani berkolaborasi, berani bekerja bersama secara harmonis untuk memperjuangkan dan menghidupi semangat perdamaian dengan apapun yang ada pada kita, dan tentunya dengan segenap hati kita,” ucap dia.




“Tema pelaksanaan Perayaan Nyepi 2021 ini menggerakkan saya, bahwa gerakan optimisme yang dibangun dalam semangat kolaborasi dalam harmoni menuju Indonesia Maju bukanlah mustahil. Kita harus selalu optimis tentang ini,” tutup Maria, yang juga segera meluncurkan lagu The Voice of Peace secara lebih meluas melalui kanal Youtube Channel Maria Stefanie pada tautan: https://youtube.com/channel/UCItIL92PnZokGEo9Gj0J28g dan akun resmi media sosial Instagram: @mariastefaniemusic.

Sementara Pdt Jimmy Sormin, selaku Dewan Pengarah, menjelaskan kegiatan ini diupayakan untuk berkelanjutan. Ini akan menjadi tradisi budaya gotong-royong dalam merayakan perbedaan dan keberagaman sebagai realitas bangsa Indonesia yang harus dikuatkan kembali menjadi jati diri bangsa yang tidak boleh dilemahkan, apalagi dihilangkan sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Gus Dur sebagai salah satu Guru Bangsa. Momen baik ini akan dihadiri juga oleh Ibu Negara Era Presiden Gus Dur, yaitu Dr (HC) Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, MHum yang mewakili Tokoh Agama.

Jimmy yang mewakili unsur Kristen dari PGI ini menyatakan para panitia berasal dari semua unsur agama dan budaya yang merepresentasikan kolaborasi yang harmonis antar anak Bangsa.




Dalam jajaran dewan penasihat dan pengarah terdapat para tokoh-tokoh yang mewakili berbagai unsur, diantaranya: Nia Sjarifudin /ANBTI (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika), Dr. Zastrouw Al-Ngatawi (Musik Ki Ageng Ganjur), Veronica Wiwiek Sulistyo (Pendiri Forum Masyarakat Katolik Indonesia).

Kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh Seknas ANBTI (Sekretariat Nasional – Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika), Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Yayasan Puan Amal Hayati, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Generasi Muda Konghucu Indonesia (GEMAKU), Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Semarang, Pemuda Lintas Agama (PELITA) Magelang, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah, Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC), Admin Garis Lucu Sejagad Twitter, Duta Damai Dunia Maya Regional Jawa Tengah, Forum Mahasiswa Studi Agama-agama Indonesia (FORMASAAI), Indonesian Buddhist Unity, Maria Stefanie Music (MSM), dan masih akan ada beberapa lembaga/organisasi yang akan bergabung.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.