HIDUP ITU SEJATINYA MENANTI

HIDUP ITU SEJATINYA MENANTI

- in RENUNGAN
HIDUP ITU SEJATINYA MENANTIHIDUP ITU SEJATINYA MENANTI

HIDUP ITU SEJATINYA MENANTI

 

hidup itu sebenarnya penuh sesak dengan
hasrat menanti
menanti yang kasat mata
atau menanti yang sifatnya roh
atau yang absurd
tapi kita sama sekali
tidak menanti godot
tokoh dalam dramanya samuel becket tahun 40 an
yang hingga layar ditutup
godot takpernah
datang
menunggu godot
adalah menunggu sesuatu yang takpernah datang
menunggu yang mubazir
yang akhirnya mengoyak pedih
hati nurani

menanti itu amat tergantung pada usia
konteks zaman
power politik yang tengah berkuasa
bisa juga tergantung pada kebiasaan
berhalusinasi
kebiasaan bermimpi triumphalistik
eskatologis
atau romantisme
zaman baheula

kita menanti blt
menanti bansos
menanti reshuffle
menanti
beragam payung hukum
menanti tertangkapnya dpo
menanti nkri bersih teroris, koruptor, radikalisme,
fundamentalisme
menanti pernikahan siri
menanti bulan madu
menanti dugaan korupsi pada beragam program
bumn dan birokrasi
menanti cucu lahir
menanti pagi beninghening
menanti alat bukti
bahwa pundi amal
itu untuk bantu biayai teroris
menanti sembuh dari sakit
menanti pindah ruang dari igd ke ruang perawatan
menanti banjir makin surut
menanti pandemi
makin menurun
menanti pensiun lancar lagi
menanti anak sukses dalam kariernya
menunggu maut
menjemput




hidup itu sejatinya menanti
di zaman agraris dulu
para petani menunggu hujan turun
membasahi bumi
dan tanam-tanaman
sehingga panen tidak puso
dan lumbung padi
terisi penuh
di zaman digital
para aktivis dunia digital menanti
follower makin bertambah
dan rupiah melimpahruah

para lansia menanti
insomnia, amnesia
tidak berlanjut
di jauhkan dari ca prostat atau ca ca lainnya
mereka menanti hidup sehat semangat segar
sukacita dan bahagia

kita semua hidup dalam penantian
menanti kebahagiaan lahir batin
bukan karena uang atau aset
tetapi karena Tuhan menggendong kita melewati hari-hari penuh luka dan duka yang mendera dunia
tanpa jeda!

Jakarta, 8 November 2021/pk 2.37

Weinata Sairin
Weinata Sairin

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

You may also like

SETARA: Jangan Ada Pemaksaan Jilbab, Terapkan Protokol Kebhinekaan di Sekolah Negeri

OnlineKristen.com | Serangkaian peristiwa pemaksaan penggunaan jilbab kembali