Beranda / GEREJA DAN MINISTRY / Tangkal Burnout Pelayanan, Pakar UI Latih 81 Parhalado HKBP Ressort Kramatjati Deteksi Kesehatan Jiwa

Tangkal Burnout Pelayanan, Pakar UI Latih 81 Parhalado HKBP Ressort Kramatjati Deteksi Kesehatan Jiwa

pembekalan parhalado hkbp ressort kramatjati

Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc. bersama peserta Pembekalan Parhalado HKBP Ressort Kramatjati di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor, Kamis (19/2/2026)

BOGOR, OnlineKristen.com — Ancaman kelelahan mental (burnout) hingga depresi kini semakin nyata membayangi kehidupan masyarakat luas, tak terkecuali di lingkungan pelayanan gereja.

Merespons tantangan tersebut, HKBP Ressort Kramatjati menghadirkan Pakar Keperawatan Jiwa dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc., untuk memberikan pembekalan khusus kepada 81 pelayan gereja (parhalado).

Pemaparan bertajuk “Deteksi KESWA, Karunia, dan Pemberdayaan dalam Pelayanan” ini disampaikan dalam rangkaian Pembekalan Parhalado 2026 di Wisma Kinasih Resort & Conference, Caringin, Bogor, Kamis (19/2/2026).


Baca juga: Menemukan Kembali Api Pelayanan di Kaki Langit Bogor, Langkah 81 Parhalado HKBP Kramat Jati Menjawab Tantangan Zaman 

Fakta Darurat Kesehatan Jiwa di Tengah Masyarakat

Mengawali sesinya, Prof. Budi Anna memaparkan data mengejutkan yang menyoroti urgensi kesehatan jiwa (Keswa) di Indonesia.

Mengutip hasil riset terbaru (Susanti et al., 2025) dengan rentang pengumpulan data Juli – Oktober 2023 terhadap 19.236 individu, terungkap bahwa prevalensi kecemasan mencapai 5,6%, sedangkan depresi berada di angka 4,4%.

“Faktanya, 1 dari 11 orang mengalami kecemasan, dan 1 dari 22 orang mengalami depresi. Hampir 60 hingga 61 persen kasus ini terjadi pada perempuan. Bahkan, 1 dari 17 rumah tangga memiliki setidaknya satu anggota keluarga yang mengalami kecemasan,” ungkap Prof. Budi Anna menguraikan data statistik di hadapan para sintua (penatua).

Ia menegaskan prinsip dasar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa “Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa“. Oleh karena itu, parhalado yang menjadi garda terdepan di tengah jemaat diwajibkan memiliki literasi kesehatan mental yang memadai.


Baca juga: MPK Indonesia Perkuat Sinergi dalam Sidang MPL PGI 2026 di Merauke, Menyemai Terang dari Ufuk Timur 

Metode 3L untuk Deteksi Dini Kesehatan Jiwa

Sebagai solusi aplikatif, Prof. Budi Anna memperkenalkan metode “3L” yang dapat langsung dipraktikkan oleh para pelayan gereja, keluarga, maupun sahabat untuk mendeteksi dini masalah kesehatan jiwa.

Langkah pertama adalah Look (Observasi). Parhalado dituntut peka melihat perubahan perasaan, perilaku, dan pikiran jemaat atau rekan pelayanannya.

Langkah kedua, Listen (Dengarkan). Pelayan harus proaktif mengajak diskusi tentang situasi sulit dan mendengarkan keluh kesah dengan saksama tanpa sikap menghakimi.

Langkah ketiga adalah Link (Rujuk). Jika parhalado tidak mampu memberi solusi, mereka harus mengarahkan atau merujuk jemaat tersebut ke tenaga profesional seperti kader posyandu, perawat, atau dokter Puskesmas/RSU.


Baca juga: Ribuan Jemaat Penuh Sukacita Rayakan HUT Ke-60 dan Pesta Gotilon HKBP Kramat Jati

Menyelaraskan Pelayanan dengan Karunia Rohani

Lebih lanjut, Dosen Fakultas Ilmu Keperawatan UI ini menyoroti bahwa banyak pelayan gereja mengalami kelelahan ekstrem karena memaksakan diri melayani di luar kapasitas spiritualnya. Untuk mencegah burnout, ia membedah pentingnya pengenalan akan Karunia Motivasi dan Karunia Pelayanan.

Prof. Budi Anna merincikan tujuh Karunia Motivasi yang meliputi: Pengajar (menjelaskan kebenaran), Pengorganisasi (merencanakan dan menyelesaikan tugas), Bernubuat (memproklamasikan kebenaran), Kemurahan (berbagi beban dan mengangkat kesedihan), Penasihat (mendorong pertumbuhan iman), Pelayanan (memenuhi kebutuhan praktis), dan Membagi-bagi (memaksimalkan hasil).

Selain itu, ia juga menjabarkan lima Karunia Pelayanan, yakni Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, dan Guru. Sebagai contoh, seorang pelayan yang memiliki karunia “Gembala” akan memiliki kepekaan emosi yang sangat tinggi dan keinginan hati yang kuat untuk membuat orang lain menjadi sehat, aman, serta dipedulikan.

“Mengenali karunia membuat pelayanan tidak lagi menjadi beban, melainkan sukacita. Ketika seseorang melayani sesuai karunianya, efektivitas pelayanan gereja akan meningkat tajam dan konflik internal dapat diminimalisir,” paparnya.


Baca juga: Pdt Dr Anna CH Vera Pangaribuan Luncurkan Buku dan Nyatakan Siap Maju Kadep Marturia HKBP

Teknik Pemberdayaan Diri dan Manajemen Burnout

Pada sesi puncak, Prof. Budi Anna melatih para parhalado untuk berdamai dengan diri sendiri melalui teknik Pemberdayaan Diri (Self-Empowerment).

Ia menjelaskan bahwa burnout ditandai dengan kelelahan fisik dan mental luar biasa yang berujung pada penurunan motivasi, mudah marah, hingga keinginan untuk menarik diri.

Untuk menetralisir kondisi tersebut, peserta dibekali dengan “Model ABC” guna mengidentifikasi dan mengendalikan emosi yang muncul dari tiga sisi: Autonomic (respons fisik), Cognitive (pikiran), dan Behavior (perilaku).

Pikiran negatif didorong untuk diubah menjadi afirmasi positif yang berlandaskan pada Filipi 4:8, yakni memikirkan semua yang benar, mulia, adil, suci, dan manis didengar.

Prof. Budi Anna juga mengajak seluruh parhalado mempraktikkan langsung teknik relaksasi Deep Breathing (napas dalam) dan Butterfly Hug (Pelukan Kupu-Kupu).

Butterfly Hug dilakukan dengan menyilangkan tangan di depan dada lalu menepuk perlahan lengan atas.


Baca juga: Merawat Ciptaan Tuhan, Dari HKBP di Jakarta, Seruan Iman Untuk Tutup TPL

Teknik stimulasi bilateral ini terbukti secara klinis mampu menurunkan tingkat kecemasan dengan cepat dan memberikan rasa aman bagi penderitanya.

Selain itu, ia membagikan prinsip komunikasi efektif dalam pelayanan yang disingkat THINK: True (Benar), Help (Menolong), Inspire (Memotivasi), Necessary (Diperlukan), dan Kind (Baik).

Sebagai penutup, pakar kesehatan jiwa ini menekankan bahwa sebelum melayani ke luar, seorang parhalado harus memperkuat basis spiritual di dalam keluarganya sendiri.

Ia merekomendasikan penerapan prinsip “5 B Dalam Keluarga“, yaitu: Makan Bersama, Belajar Bersama, Ibadah Bersama, Bermain Bersama, dan Rekreasi Bersama.

Melalui pemaparan holistik yang menggabungkan ilmu medis psikiatri dan teologi praktis ini, diharapkan para parhalado HKBP Ressort Kramatjati dapat melayani jemaat dengan lebih tangguh, memiliki mental yang sehat, serta terus berkarya dengan penuh sukarela tanpa dihantui ancaman kelelahan batin.(Victor)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses