RENUNGAN: KITA TAKBOLEH LUPA BAHWA KITA BISA LUPA

"Bilbendum de lethaeo gurgite. Tenggelam dalam alam lupa"

KRISTEN TV || DR John N Palinggi: Reshuffle Kabinet, Itu Hak Prerogatif Presiden Jokowi

DR John N Palinggi: Reshuffle Kabinet, Itu Hak Prerogatif Presiden Jokowi
RENUNGAN: KITA TAKBOLEH LUPA BAHWA KITA BISA LUPA

OnlineKristen.com | “Lupa” adalah problem umum yang dihadapi oleh mereka yang sudah masuk kategori lanjut usia. Problem seperti ini tidak hanya mepersulit istri/suami dari mereka yang berada dalam posisi lanjut usia, tetapi juga menyulitkan para cucu.

Konon “pertikaian” kecil dalam sebuah rumah tangga kaum lansia acap disebabkan karena faktor “lupa”. Suami atau istri ketika diminta untuk mengambil sesuatu benda yang penting untuk digunakan, tetapi benda itu tidak bisa diketemukan karena “lupa” dimana benda itu disimpan.

Pertikaian seperti ini terjadi hampir setiap hari dan terus menerus berulang-ulang, walaupun pertikaian itu tidak terlalu eksplosif dan menggelegar.

“Lupa” juga merepotkan dan menyulitkan para cucu. Cucu yang sudah sekolah biasanya bertanya kepada kakek/opahnya adalah sekitar pelajaran sekolah. Tapi kakek/opah takbisa menjawab pertanyaan cucu karena “lupa” atau memang tidak bisa.

Para cucu kemudian mengungkapkan rasa kecewa mereka kepada kakek/opah. Para cucu generasi milenial acap juga bertanya kepada kakek/opah tentang aplikasi baru, game yang ada dalam hp mereka. Lagi-lagi kakek/opah, terutama yang gaptek tidak bisa menjawab berbagai pertanyaan para cucu diseputar hand phone/gadget mereka.

Baca juga: MENANTI MALAM-MALAM PENUH HARAP



“Lupa” bisa menjadi tanda bahwa seseorang telah berangkat menjadi tua, bahkan kemudian bisa berlanjut menjadi “pikun” namun ada juga “lupa” menjadi suatu cara yang digunakan seseorang untuk menyiasati agar ia terbebas dari pertanyaan yang interogatif dalam sebuah proses peradilan.

Lupa memang berbeda dengan ‘tidak bisa’. Dalam kasus memahami teknologi, kakek/opah tentu saja sedikit-sedikit mempelajari secara cepat hal-hal penting diseputar gadget. Namun acapkali mereka sering lupa apa yang telah mereka pelajari itu.

Para cucu malah lebih mahir dalam menggunakan gadget dibanding dengan para kakek/opah. Cucu-cucu zaman milenial tidak saja mampu memainkan games yang ada di hand phone tetapi mereka malah mampu membuka dan mendownload beragam aplikasi yang ada pada handphone.

Baca juga: REFLEKSI ALKITAB: KERJA, KERJA DAN KERJA



Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan “lupa”? “Lupa adalah hilangnya kemampuan menyebut atau melakukan kembali informasi dan kecakapan yang telah tersimpan dalam memori.

Ada banyak faktor yang menyebabkan “lupa” antara lain kerusakan jaringan otak, adanya tekanan terhadap item atau materi yang lama baik di sengaja atau tidak, adanya konflik-konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam memori seseorang.

Dari pengalaman praktis kita bertemu dengan kenyataan bahwa lupa itu ada kaitan dengan usia yang makin uzur, ada hubungan dengan penyakit otak/saraf yang diderita oleh seseorang.

Baca juga: SULARSO SOPATER, BUKAN DIA YANG MEMBERI EMAS KEPADA HERODES



Acapkali juga terjadi seseorang yang belum terlalu tua, tetapi selalu menyatakan “lupa” untuk hal-hal tertentu. Seseorang ditanya dalam ruang pengadilan : “Berapa dana yang anda terima dari proyek itu?” “Saya lupa!”. “Di hotel apa anda membagi-bagikan uang itu?” Saya lupa, saya tak ingat!” “Benarkah anda yang mengusulkan agar biaya proyek itu di mark up 30 persen?” “Saya lupa!”

Sebagai umat beragama kita harus tekun berdoa agar ingatan kita selalu fresh bahkan hingga saat-saat tubuh kita makin lemah dimakan usia.

Kita ingat ajaran agama kita, kita ingat anggota keluarga besar kita, kita ingat nilai dan kaidah moral yang standar, kita ingat pilar pilar NKRI tercinta, kita ingat sejarah bangsa kita, kita ingat semuanya, kita tidak boleh lupa bahwa sekali waktu kita akan mati, kita harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita di pentas dunia. Kita tak boleh tenggelam dalam alam lupa.

Baca juga: MENYIRAMKAN AIR AGAR RUMAH TIDAK TERBAKAR



Kita harus melawan lupa. Kita takboleh lupa agama kita, orang-orang terdekat kita, diri dan kesiapaan kita, kita takboleh lupa bahwa kita bisa lupa karena usia dan atau penyakit. Kita harus melupakan lupa!!

Selamat berjuang.

(Oleh: Weinata Sairin)

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.