TAK MAU KALAH DENGAN PANDEMI COVID-19, PIKI DORONG PENGAJARAN ALTERNATIF

pendidikan tidak boleh kalah dari pandemi dan harus terus terselenggara dengan penyesuaian-penyesuaian baru

KRISTEN TV || Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: JANGAN ADA TIM SUKSES

Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: Jangan Ada Tim Sukses
Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: Jangan Ada Tim Sukses
PIKI DORONG PENGAJARAN ALTERNATIF DITENGAH PANDEMI COVID-19

OnlineKristen.com | Pandemi Corona Virus Deases 2019 (Covid-19) yang menyerang dunia mengubah tatanan kehidupan di seluruh dunia. Pendidikan merupakan salah satu yang terdampak signifikan sehingga harus segera beradaptasi. Pengajaran online mendadak menjadi metode umum yang digunakan.

“Ada 4 ribu lebih perguruan tinggi yang melayani lebih dari 8 juta mahasiswa dengan jumlah dosen lebih dari 290 ribu orang telah secara mendadak dan tanpa kecuali terpaksa mengadopsi model online teaching and learning”, kata Dr.Neil Semuel Rupidara, Rektor Universitas Satya Wacana (UKSW), Salatiga, dalam Webinar “Pendidikan Tanpa Dinding di Era Covid-19” yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI), Kamis (4/6/2020).

Baca juga: Refleksi Awal Tahun 2020 PIKI: Indonesia Quo Vadis

Menurut Neil, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengupayakan fasilitas-fasilitas pendukung.


Kerjasama dijalin dengan sejumlah pelaku usaha milik negara maupun swasta yang bergerak di bidang digital learning management system, penyedia jasa internet, dan sejenisnya untuk membantu operasi pembelajaran atau perkuliahan daring. Namun demikian, lanjutnya, tingkat kesiapan tiap perguruan tinggi berbeda dalam penyelenggaraan.

Sejumlah perguruan tinggi, menurut Neil, sebelumnya telah memiliki sistem dan menjalankan praktek pembelajaran. Tetapi tidak sedikit perguruan tinggi tidak memiliki kapasitas cukup untuk menjalankan perkuliahan secara daring.

Baca juga: DPD PIKI Jabar: Natal Tanpa Ancaman, Menanti Sikap Tegas Negara atas Tindakan Intoleransi dan Ekstrimisme di Sumatera Barat dan daerah lain di NKRI

“Kuliah atau tepatnya kegiatan pengajaran dengan ceramah online kini seolah menjadi a new normal di kalangan pendidikan tinggi Indonesia. Praktek ini kini seolah mewabah, tampak tidak mau ketinggalan dari wabah Covid-19 itu sendiri”, ujar Neil.


Namun, Neil mengingatkan, metode pengejaran daring memiliki masalah sehingga tidak mudah dilakukan seperti perangkat, jaringan internet, maupun zoombombing (interupsi ketika zoom sedang beroperasi). Karena itu, menurutnya, tidak mudah merubah dengan tiba-tiba tatanan sebelum pandemi.

“Agar hal-hal baik tertentu yang telah terbentuk selama masa pandemi ini dapat bertahan, diperlukan usaha-usaha sengaja oleh para aktor untuk mempertahakan kebiasaan-kebiasaan baru di masa pandemi itu agar tetap terus berlangsung dan menjadi kebiasaan yang lebih permanen”, ujarnya.

Baca juga: Perayaan Dies Natalis Ke-56 dan Natal PIKI, Ketum PIKI: Kebenaran Meninggikan Derajat Bangsa

Sementara itu Rektor Universitas Kristen Maranatha (UKM), Bandung, Prof. Sri Widiyantoro pada kesempatan yang sama mengatakan, pelaksanan pengajaran daring membutuhkan syarat yaitu kedisplinan, motivasi tinggi, kemandirian, capaian, dan mahalnya sistem daring. Selain itu, menurutnya, banyak dosen juga mengalami masalah dalam pelaksanaan sistem daring ini.


“Banyak dosen masih menggunakan gaya tradisional di kelas online, menjadikan online hanya untuk memberikan bahan presentasi, atau pengumuman tugas”, katanya.

Namun demikian, Sri Widiyantoro mengatakan, pandemi ini di sisi lain merupakan blessing in disguise dalam model pengajaran alternatif. Karena itu, lanjutnya, untuk pelaksanaan yang memadai dosen harus diberikan pembekalan dalam pelaksanaan pengajaran jarak jauh. Selain itu harus tersedia fasilitas yang memadai, evaluasi berkala, serta penjaminan mutu kualitas pembelajaran daring.

Baca juga: DPP PIKI Ajak Pengambil Kebijakan Kembali Pada Pemurnian Pancasila

Pendapat senada juga disampaikan Guru Besar Komputasi Layanan Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Suhardi mengatakan, sisi lain dari pandemi Covid-19 ini melahirkan inovasi-inovasi tidak bergantung pada model penjaran yang lama.


“Sisi lain pandemi ini kita tiba-tiba dipaksa untuk segera melaksanakan revolusi industri 4.0”, katanya.

Dalam pengajaran di Perguruan Tinggi, lanjutnya, pelaksanaan pengajaran online menjadi alternatif yang umum dilakukan menggantikan pola pengajaran lama.

“Perubahan sebagai dampak pandemi ini merupakan keniscayaan dan selalu ada pro dan kontra” ujarnya. Karena itu, menurutnya kenali sisi positifnya sebagai gain (hasil) dan sisi negatifnya untuk menghindar.


Dekan Fisipol Universitas Kristen Indonesia (UKI), Angel Damayati, yang juga moderator webinar dan wakil Sekjen DPP PIKI mengatakan, pelaksanaan pengajaran daring walaupun bisa diterima tetap dievaluasi secara berkala.

Pengajaran daring secara umum bisa dilakukan walaupun ada juga kendala-kendala dari dosen dan mahasiswa.

“Pandemi yang tiba-tiba ini membuat kita semua tergagap melakukan tindakan. Tetapi seiring waktu kita harus menemukan jalan keluar yang tepat. Pendidikan kita tidak boleh kalah dari pandemi”, ujarnya.


Ketua Umum Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia, Baktinendra Prawiro dalam sambutannya mengatakan pendidikan menjadi salah satu yang paling terdampak pandemi Covid-19.

“Pola pengajaran yang konvensional dengan berkumpulnya siswa atau mahasiswa dalam satu lokasi dengan interaksi erat seperti di sekolah atau kampus berpotensi memunculkan episentrum besar”, katanya.

Tetapi, lanjutnya, pendidikan tidak boleh kalah dari pandemi dan harus terus terselenggara dengan penyesuaian-penyesuaian baru.


“Apa yang sudah dilakukan saat ini dengan sistem online bisa menjadi salah satu alternatif metode pengajaran dengan segala kelebihan dan kekurangannya misalnya soal perangkat, jaringan internet, dan pengawasan mutu ajar”, terangnya.

Situasi ini saat ini bisa menjadi momentum menemukan pola belajar alternatif sebagai pendamping pola belajar konvensional.

Kita semua perlu sadar sepenuhnya bahwa gedung sekolah dengan ruang kelas hanya penopang dan sesungguhnya rumah (keluarga) dan lingkungan adalah ruang belajar sesungguhnya.


Pelaksanaan ini menurut Ketua Panitia Webinar, Arijon Manurung mengatakan, pelaksanaan webinar menjadi bentuk keterlibatan Intelektual Kristen dalam persoalan yang dihadapi dunia.

“Seluruh dunia saat ini terfokus menghadapi pandemi. Tetapi kita juga tidak boleh mengabaikan faktor pendidikan”, katanya.

Webinar ini, sambungnya, menolong kita turun dalam suasana pendidikan melalui para praktisi pendidikan yang juga pengambil kebijakan pendidikan di sekolah tinggi.


Pendidikan tanpa dinding, pendidikan yang tidak tersekat pada tembok-tembok sekolah menjadi alternatif pilihan. Bagaimanapun pandemi ini tidak boleh menghambat proses penyediaan sumber daya manusia.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.