Yudi Latif: RINTIHAN HEROIK

Apresiasi atas Lamentasi-Lamentasi dari Bumi Pandemi

KRISTEN TV || Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: JANGAN ADA TIM SUKSES

Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: Jangan Ada Tim Sukses
Periodisasi di GKPI, Haposan Hutagalung: Jangan Ada Tim Sukses
Yudi Latif: RINTIHAN HEROIK
Yudi Latif: RINTIHAN HEROIK

OnlineKristen.com | Lamentasi-Lamentasi dari Bumi Pandemi karya Pdt. Weinata Sairin adalah kumpulan puisi kesaksian dan rintihan. Kesaksian dan rintihan atas tragedi dan misteri yang ditimbulkan wabah korona.

Tragedi sendiri memang bak puisi. “Puisi kegelapan”. Peristiwa disruptif yang mengguncang kemapanan dan pemahaman, dengan awan nestapa yang menyelimutinya. Sebuah teks ambigu yang tak kunjung selesai diurai. Ibarat labirin tanda tanya yang setiap ujung simpulnya selalu sisakan misteri.

Tragedi menyentuh kedalaman emosi, membangkitkan daya-daya mitis-estetis dari alam bawah sadar manusia. Dengan itu, nestapa membantu mengasah dan membangkitkan ekspresi puitik dari jiwa manusia. Ekspresi puitik yang keluar dari kekuatan mitis itu semacam mantra yang bisa mengungkapkan hal-hal yang tak terjelaskan.


Baca juga:

KAMBING HITAM ITU MENGHITAMKAN KEHIDUPAN

Kekuatan mitos sebagai kerangka penjelas terhadap hal-hal yang sulit dijelaskan sejak lama menjadi sarana keagaamaan. Carl Gustav Jung, dalam Psychology and Religion (1938), mengajukan pertanyaan retoris: ”Mengapa manusia primitif perlu berpanjang kata untuk melukiskan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa dalam alam kehidupan, seperti timbul-tenggelamnya matahari, bulan dan musim?”

Ia percaya bahwa peristiwa-peristiwa alam itu dituangkan ke dalam kisah dan mitos  bukan sekadar cara untuk menjelaskannya secara fisik. Akan tetapi, ”dunia luar” itu digunakan untuk memberi pengertian terhadap ”dunia dalam”. Jung menyatakan bahwa kekayaan simbol dari manusia primitif itu—seni, agama, mitologi—untuk ribuan tahun lamanya membantu manusia memahami misteri kehidupan.

Dengan penjelasan itu, Jung menegaskan bahwa agama bukan hanya merupakan fenomena historis-sosiologis, tetapi juga memiliki signifikansi psikologis. Dalam konteks ini, ia berpandangan bahwa agama sebaiknya dipahami dengan menghubungkannya dengan apa yang disebutnya sebagai collective unconsciusness (ketidaksadaran kolektif), realitas psikik yang dialami bersama oleh semua manusia.


Baca juga:

REFLEKSI ALKITAB: MENIKMATI HIKMAT ORANG BERHIKMAT

Collective unconscious ini diekspresikan melalui archetypes, yakni bentuk-bentuk pemikiran universal, atau imaji mental yang memengaruhi perasaan dan tindakan orang. Menghubungkan konsepnya dengan pemikiran Lévy-Bruhl, ia menegaskan bahwa kekuatan uncouncious mind itu tampak pada masyarakat pra-aksara (preliterate). Pemikiran orang-orang pra-aksara bersifat pra-logis. Implikasinya, pemikiran pra-aksara melibatkan ”partisipasi mistikal” dari peristiwa dan ide, suatu modus pemikiran kosmologis yang menghubungkan segala entitas, yang oleh pemikiran rasional akan dipisahkan.

Dalam elaborasinya tentang uncounscious mind yang terkandung dalam berbagai archetypes, Jung tiba pada aneka bentuk simbol dan mitos yang memadukan kisah dan spiritualitas. Di antara yang paling penting dari bentuk-bentuk archetypes dalam sastra lisan yang berdimensi spiritualitas ini adalah ”orang tua bijaksana, ibu bumi (earth mother), anima dan animus (aspek feminin dan maskulin dari laki-laki dan perempuan); salib, mandala, quaternity (elemen keberempatan), pahlawan, anak Tuhan, kedirian (self), tuhan, dan persona (Jung 1964: 67).


Baca juga:

Pekan Kerukunan Nasional HASILKAN DEKLARASI MANADO, TETAPKAN SULUT SEBAGAI LABORATORIUM KERUKUNAN NASIONAL

Sejalan dengan pemikiran Jung, Mircea Eliade menegaskan bahwa seluruh studi tentang agama pada dasarnya merupakan studi tentang simbolisme. Untuk memahami mitos, shamanisme, atau ritus inisiasi adalah usaha menguraikan ’struktur simbolik’ keagamaan, yang mewujud dalam pola-pola archetypes. Lebih lanjut Eliade menyatakan bahwa seluruh ritus dan simbol keagamaan terkait dengan mitos-mitos kosmogenik tentang penciptaan dan tentang penstrukturan kosmos kehidupan dari realitas primordial atau kekacauan (Eliade, 1958, 1968).

Demikianlah, dalam kumpulan puisi ini bisa kita temukan kekayaan simbolisme sebagai ekspresi mitologis: pagi putih, langit putih, dipeluk malam, hotline dengan Tuhan, dekapan Tuhan, ghetto, metanoia, do’a tanpa jeda, menunggu godot, dan seterusnya. Semua simbolisme metaforik itu menghubungkan “dunia luar” dengan “dunia dalam”; untuk membantu memberi pengertian atas peristiwa di “dunia luar” yang tak bisa sepenuhnya dipahami secara rasional, dengan menggunakan simbolisme puitik dari “dunia dalam” yang bersifat supra-rasional.


Baca juga:

BERDOA DI DEPAN PUBLIK DALAM SPIRIT PANCASILA

Adapun kandungan puisi-puisi itu sendiri berisi kesaksian. Kesaksian tentang kemungkinan historis yang jauh lebih luas dan lebih “absurd” daripada kalkulasi-kalkulasi rasional. Tentang ibunda dan kerabat terkasih yang seketika dipanggil “pulang”, tentang korban-korban wabah yang mengalami penolakan, pun tentang para petugas medis yang siap bertaruh nyawa demi menolong sesama, tentang klaim kehebatan agama-agama yang dibuat tak berkutik, tentang tata cara peribadatan yang harus disesuaikan, tentang kekuatan politik yang dilucuti efektivitasnya, tentang kerentanan ketahanan nasional yang tak bisa ditutupi dengan pencitraan.

Singkat kata-kata, puisi-puisi dalam buku ini memberi kesaksian tentang hitam-putih korona, sikap paradoks dari jiwa manusia, keluhan dan harapan, kelemahan dan kekuatan kita sebagai bangsa. Bahwa pada setiap gumpalan awan hitam, selalu ada pendar cahaya keperakan. Every cloud has a silver lining. Dengan demikian, apapun tragedi yang dialami, jalan kehidupan yang dilalui tidaklah berarti menuju jalan buntu. Saat satu pintu tertutup, masih ada pintu lain yang terbuka. Tragedi memberi pelajaran hidup bersahaja: hidup dengan optimisme realistis– bukan optimisme buta; bukan pula pesimisme mati pengharapan.


Baca juga:

Pemuda Lintas Agama Gelar Webinar Menjaga Pancasila dari Bahaya Propaganda Komunis, Orde Baru, dan Khilafah

Dalam melakukan kesaksian, puisi-puisi dalam buku ini bernada rintihan. Rintihan tentang ketakberdayaan, kemalangan, kenestapaan dan absurdinatas hidup. Meski demikian, rintihan yang terpancar tidaklah berarti suatu kecengengan infantil, melainkan suatu rintihan heroik; yang mencerminkan kepasrahan dengan ikhtiar secara berbaik sangka dalam penyelenggaraan Ilahi. Bahwa suka dan duka adalah pasangan “yin” dan “yang”; bagian dari misteri kehidupan yang harus diterima sebagai cara merayakan kehidupan. Bahwa ‘kairos’ Allah (Yang Abadi) pada akhirnya akan mengatasi yang ‘kronos’ (yang fana).

Tanpa kemampuan berdamai dengan tragedi dan misteri, kehidupan keberagamaan menjadi mandul, kering dan keras; tak memiliki sensitivitas-kontemplatif, conscious-intimacy, daya-daya kuratif serta hubungan-hubungan transformatif dengan yang suci dan yang profan. Tanpa kepasrahan (penerimaan pada absurdinas), orang akan kehilangan apa yang disebut penyair John Keats sebagai negative capability, yakni kesanggupan untuk berdamai dengan ketidakpastian, misteri dan keraguan dalam hidup. Tanpa menghikmati misteri, manusia memaksakan absolutisme sebagai respons ketakutan atas kompleksitas kehidupan dunia, yang menimbulkan penghancuran ke dalam dan ancaman keluar.


Baca juga:

Ketum DPP GAMKI 2007-2011, Dating Palembangan: TITIK NOL MENUJU TATANAN KEHIDUPAN BARU, NEW NORMAL

Pada akhirnya, kepasrahan dengan ikhtiar untuk keluar dari tragedi itulah yang menjadi jalan kebahagiaan. Hal ini mengingatkan kita pada psikolog Viktor Frankl, yang lewat refleksi dirinya sebagai penyintas yang nyaris bunuh diri di kamp konsentrasi Nazi, mengajukan pandangan yang menggugah. Bahwa pencapaian kebahagiaan tertinggi itu terengkuh bukanlah dalam keberhasilan, kesenangan dan kekuasaan, melainkan dalam keberanian untuk menghadapi kenyataan dengan segala pahit getirnya. Frankl percaya pada kehendak untuk menemukan makna hidup (the will to meaning), lewat kemampuan berdamai dengan kenyataan dan pengorbanan untuk menjadi lebih besar dari diri sendiri, merupakan sumber kebahagiaan tertinggi.

Membaca buku kumpulan puisi ini, kita akan merasa terwakili dalam setiap bait kesaksian dan rintihannya. Pdt Weinata Sairin membantu mengartikulasikan apa-apa yang tersembunyi dalam relung jiwa kita semua. Wabah korona seperti yang terungkap dalam kesaksian ini memperlihatkan bahwa sesusungguhnya setiap kita saling tersambung: antar-pribadi saling tular-menular; antar-bangsa saling papar-memapar; antar-agama saling tembus-menembus. Bila semua kita terhubung dengan musibah, kita juga bisa bangkit bersama dengan membuka diri penuh cinta untuk yang lain.


Selamat atas terbitnya buku ini!

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.