Jakarta, OnlineKristen.com — Di bawah terik matahari Jakarta yang mulai melembut pada Kamis sore, Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) tidak menampilkan wajahnya yang biasa.
Belum ada sorak-sorai gemuruh suporter sepak bola ataupun dentuman megah tata suara panggung konser musik.
Yang mengalun di sana justru seberkas gumam doa yang lirih namun bertenaga, membubung tenang di antara barisan puluhan ribu kursi kosong yang melingkari stadion legendaris itu.
Sore itu, 21 Mei 2026, jajaran pimpinan pusat bersama panitia nasional Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) tengah menyisir setiap jengkal venue.
Langkah ini bukan sekadar urusan logistik atau teknis belaka, melainkan sebuah ikhtiar spiritual untuk mempersiapkan altar syukur raksasa: Ibadah Raya HUT ke-165 HKBP yang dijadwalkan bergemuruh pada 18 Oktober 2026 mendatang.
Baca juga: Diikuti 38 Provinsi, Kebangkitan Doa Nasional 2 Serukan Sinergi Lintas Gereja di Tengah Krisis
Langkah kaki Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, tampak mantap saat menapaki area lingkar dalam stadion.
Di sampingnya, Ketua Umum Panitia Nasional, Dr. Effendi Muara Sakti Simbolon, M.I.Pol, mendampingi dengan saksama.
Pandangan mata rombongan ini menyapu ke sekeliling interior bangunan—mulai dari titik penempatan altar utama, jalur evakuasi dan akses keluar-masuk jemaat, manajemen multimedia, hingga kesiapan infrastruktur penyiaran langsung televisi nasional.
Ada tanggung jawab besar yang tersirat dari raut wajah mereka.
Bagaimanapun juga, mengoordinasi dan mengarahkan gelombang massa yang ditargetkan mencapai 100 ribu jemaat di episentrum olahraga Indonesia merupakan tantangan monumental.
Baca juga: Polemik Pernyataan Jusuf Kalla, GAMKI Minta Publik Fokus pada Substansi Hukum dan Hindari Polarisasi
Peninjauan dilakukan agar seluruh proses persiapan dan pelaksanaan ibadah raya berjalan lancar serta mendapat tuntunan Tuhan.
“Kami sengaja datang ke GBK ini karena sudah direncanakan akan dilaksanakan ibadah pengucapan syukur 165 tahun HKBP. Kami datang untuk melihat tempat ini sekaligus berdoa bersama semua panitia,” ujar Pdt. Victor Tinambunan memecah keheningan.
Bagi siapa pun yang mengira perhelatan ini adalah panggung unjuk kemegahan duniawi yang riuh, asumsi tersebut akan segera luruh.
Di sinilah letak keunikan narasi perjalanan iman ini.
Di tengah tren zaman modern yang kerap mengukur kesuksesan sebuah perayaan keagamaan dari kemewahan visual, HKBP justru memilih arah yang kontras.
Baca juga: GAMKI dan Aliansi Ormas Ambil Sikap Tegas Pidanakan Jusuf Kalla, Bersatu Lawan Distorsi
Mereka merayakan usia lebih dari satu setengah abad dengan komitmen kesederhanaan yang mutlak dan khidmat.
“Ibadah ini merupakan pengucapan syukur, bukan pesta besar-besaran yang meriah. Yang lebih ditekankan adalah ibadah pengucapan syukur, mengingat bagaimana Tuhan mengutus para misionaris dulu hingga HKBP bisa sampai sekarang,” tegas Pdt. Victor.
Jejak Sejarah dan Topangan Sukarela
Mundur sejenak ke belakang, 165 tahun bukanlah waktu yang pendek.
Semuanya bermula dari langkah berani para misionaris yang membawa obor Injil menembus Tanah Batak.
Dari sebutir benih kecil di tengah tantangan zaman, kini HKBP telah bertransformasi menjadi salah satu gereja terbesar di Indonesia dan menjadi pilar penting dalam persekutuan gereja-gereja Lutheran dunia (Lutheran World Federation).
Menatap ribuan kursi di GBK sore itu, jajaran panitia seakan melihat rekam jejak jutaan umat.
Visi luhur itu pula yang ditekankan oleh Dr. Effendi Simbolon.
Sebagai nakhoda panitia nasional, ia menggarisbawahi bahwa kemegahan sejati dari perayaan ini bersandar pada kemandirian dan ketulusan hati jemaatnya.
Baca juga: FKKN: Menembus Batas Denominasi, Membangun Kesadaran Politik Umat Kristiani dari Akar Rumput
Ia memaparkan fakta menyentuh mengenai aspek pendanaan. Seluruh biaya operasional dihimpun sepenuhnya melalui partisipasi sukarela jemaat dan para relawan.
“Pendanaannya dari kita untuk kita. Semua dilakukan sukarela tanpa paksaan,” katanya.
Prinsip ini menjadi bukti sahih bahwa ikatan spiritual mampu menggerakkan kepedulian yang konkret.
Menembus Batas Benua dan Sekat Perbedaan
Tantangan terbesar yang sedang dihadapi panitia adalah memastikan kesiapan sakramen Perjamuan Kudus bagi 100 ribu orang yang hadir secara fisik.
Melayani ritual sakral dalam jumlah massa sedemikian besar menuntut manajemen yang luar biasa presisi agar keheningan spiritual tetap terjaga.
Namun, gaung pengucapan syukur ini dipastikan tidak akan terisolasi di dalam dinding beton Senayan saja.
Dengan menggandeng tiga stasiun televisi nasional, rangkaian ibadah raya ini akan disiarkan secara langsung.
“Kita akan menyiarkan secara langsung agar bisa diikuti sekitar 8 juta umat HKBP di seluruh dunia,” ungkap Effendi.
Perayaan ini pun dirancang inklusif. Selain perwakilan dari seluruh 32 distrik HKBP dan pimpinan gereja dunia, tokoh-tokoh lintas agama di Indonesia turut dijadwalkan hadir.
Panitia juga secara resmi menaruh harapan agar Presiden Prabowo Subianto dapat hadir.
Kehadiran para tokoh lintas agama dan negara membawa pesan kuat: di usia 165 tahun, eksistensi HKBP adalah bagian integral dari rajutan sejarah bangsa.
“Kami memaknai momen ini sebagai rasa syukur sekaligus memohon penyertaan Tuhan untuk generasi mendatang dan juga bangsa Indonesia,” tuturnya.
Altar di Bawah Langit Jakarta
Saat lembaran kalender berganti ke tanggal 18 Oktober 2026, atmosfer GBK dipastikan akan mulai bergetar sejak pukul dua siang.
Rangkaian pra-ibadah akan dibuka dengan semarak seni rohani, mulai dari paduan suara hingga pertunjukan angklung yang dimainkan oleh para jemaat lansia.
Kehadiran lansia ini membawa pesan mendalam bahwa pengabdian iman tidak mengenal masa pensiun.
Begitu matahari Jakarta condong ke barat, ibadah utama dan Perjamuan Kudus akan dimulai.
Di bawah temaram lampu stadion dan beratapkan langit terbuka, seratus ribu jiwa akan menundukkan kepala dalam kerendahan hati yang dalam.
Peninjauan panitia sore itu pun ditutup dengan keyakinan yang utuh. Sesuai arahan Ephorus, acara akan tetap berjalan sederhana.
“Intinya tetap ibadah,” ucap Effendi menutup percakapan.
Langkah menyisir GBK hari itu menegaskan satu hal: 165 tahun HKBP adalah tentang merawat ingatan akan kebaikan Tuhan, dan bersiap melangkah ke masa depan dengan membawa pesan persatuan bagi bangsa.
(Victor)

















