Jakarta, OnlineKristen.com – Udara pagi di kawasan Jakarta Timur terasa berbeda di penghujung Juni. Memasuki pelataran Gereja HKBP Ressort Kramat Jati yang berlokasi di Jalan Raya Bogor, pemandangan yang tersaji bukanlah deretan kendaraan jemaat seperti pada kebaktian Minggu biasa.
Lahan gereja itu telah bersalin rupa menjadi sebuah kawah candradimuka. Lima tenda peleton hijau pekat berukuran raksasa milik Dit Bekang TNI AD berdiri kokoh, menantang terik matahari ibu kota.
Di bawah kanvas tebal tenda-tenda itulah, sejak Selasa (30/6/2026) hingga Jumat (3/7/2026), sebanyak 113 Anak Sekolah Minggu (ASM) tengah menjalani sebuah lakon kehidupan yang baru.
Sesuai dengan aturan tegas — No Phone (tanpa gawai)—laju dunia digital yang serba cepat sejenak dibekukan.
Anak-anak ini meninggalkan zona nyaman mereka, berpisah dari pelukan orang tua, tidur beralaskan velbed (tempat tidur lipat) berteman putaran kipas angin, dan belajar memaknai kemandirian dalam arti yang sesungguhnya.

Acara bertajuk Jambore ASM HKBP Kramat Jati 2026 ini bukan sekadar agenda pengisi liburan sekolah.
Dengan mengusung tema “We Are Wonderful Creations of God” (Kejadian 1:26-27), kegiatan ini merupakan pengejawantahan dari Tema Orientasi Pelayanan HKBP 2026, yakni “Transformasi: Pengajaran Iman di Tengah Keluarga”. Di tempat ini, karakter diretas, iman diteguhkan, dan fondasi moral dibangun bata demi bata.
Membangun Sense of Belonging, Bukan Sekadar Rekreasi
Mengapa harus di halaman gereja? Mengapa tidak membawa anak-anak ini ke bumi perkemahan yang asri di pinggiran kota?
Pertanyaan itu dijawab dengan sebuah filosofi mendalam oleh Pendeta Ressort HKBP Kramat Jati, Pdt. Dr. Martongo Sitinjak.
Dengan tatapan yang memancarkan visi jauh ke depan, Pdt. Martongo menuturkan pemilihan lokasi ini adalah sebuah keputusan strategis untuk membangun ikatan emosional anak dengan rumah ibadahnya.
Baca juga: Ribuan Jemaat Penuh Sukacita Rayakan HUT Ke-60 dan Pesta Gotilon HKBP Kramat Jati

“Tidak ada yang buruk dengan bumi perkemahan seperti Cibubur. Itu bagus. Tapi ketika mereka dibawa ke sana, mereka menjadi senang dengan tempat itu. Tanpa sengaja, kita membawa roh mereka keluar, dan mereka menjadi mencintai yang di luar sana,” ungkapnya.
Pdt Martonggo menyadari, ada sebuah paradigma yang harus diubah. “Kesadaran mereka mencintai gereja inilah yang harus saya bangun. Menciptakan sense of belonging. Walaupun sederhana, tidak bermewah-mewah, dan mungkin terbatas, memori yang tersusun selama empat hari di sini adalah memori kecintaan terhadap gereja ini. Nanti ketika mereka dewasa, mereka akan bercerita, ‘Dulu kami berkemah di halaman gereja ini.’ Itu yang akan mereka ingat.”
Di bawah filosofi pelestarian ciptaan yang tertuang dalam tema “We Are Wonderful Creations of God”, Pdt. Martongo menekankan anak-anak juga diajak menyadari kesetaraan, saling menghormati antara laki-laki dan perempuan, serta menghargai alam.
Mereka diajarkan bahwa manusia diberi wewenang oleh Tuhan bukan untuk merusak, melainkan untuk memelihara keharmonisan kehidupan.

Menjembatani Missing Link: Peran 22 Konselor Remaja
Sebuah gereja sering kali menghadapi tantangan hilangnya rantai pembinaan—missing link—antara masa anak-anak di Sekolah Minggu menuju masa remaja dan pemuda (Naposo).
Jambore ASM HKBP Kramat Jati 2026 merespons hal ini dengan sangat brilian. Kepanitiaan tidak menyerahkan tongkat estafet pengawasan murni kepada orang dewasa, melainkan kepada 22 remaja gereja yang didaulat sebagai konselor.
“Kita punya target mengkader remaja ini,” jelas Pdt. Martongo.
“Kita latih mereka beberapa bulan terakhir agar bisa mengatur waktu, menuntun adik-adiknya bergerak bersama, dan saling mengasihi. Kita melatih kepemimpinan (leadership) mereka bukan lewat ceramah di kelas, melainkan lewat praktik nyata mengatur kebersamaan di dalam tenda.”
Dengan formasi tiga tenda untuk putri dan dua tenda untuk putra, para remaja ini memikul tanggung jawab besar.
Di tenda putri, setidaknya ada dua konselor yang mendampingi belasan anak, sementara di tenda putra disiagakan tiga konselor.
Melalui interaksi 24 jam ini, anak-anak Sekolah Minggu belajar menghormati kakak-kakaknya, dan para remaja belajar memimpin dengan keteladanan—sebuah efek ganda (multi-effect) yang merestorasi rantai generasi gereja.
Pendidikan Holistik, Dari Piring Kotor hingga Gempa Bumi
Ketua Panitia Jambore, Ida Rotua Siregar, merancang kegiatan ini layaknya sebuah simfoni yang memperhatikan setiap detail kehidupan anak.
Alih-alih menyebut diri sebagai ‘panitia’, Ida dan rekan-rekannya lebih memilih sebutan ‘Tim Kerja‘, sebuah cerminan semangat pelayanan tanpa pamrih, di mana tidak ada yang mencari panggung atau keuntungan.
Asupan gizi menjadi perhatian utama Tim Kerja. Di tengah gempuran makanan instan, jambore ini mengambil garis tegas.
“Kita tidak menyediakan fast food, kita sediakan real food. Harus ada sayur dan protein seperti tahu atau tempe. Kita juga meminta mereka membawa tumbler sendiri, tidak ada botol plastik sekali pakai,” terang Ida.
Lebih dari itu, anak-anak diajarkan kemandirian yang paling purba: mencuci piring. Berbekal alat makan bernempelkan stiker nama masing-masing, antrean anak-anak membasuh sisa makanannya sendiri menjadi pemandangan harian yang mengharukan.
Baca juga: Pdt Dr Anna CH Vera Pangaribuan Luncurkan Buku dan Nyatakan Siap Maju Kadep Marturia HKBP
Untuk memastikan keselamatan jasmani, kolaborasi erat dijalin dengan tim medis gereja. Dr. Vanda dan dr. Loyce Risnauli—yang juga merupakan Guru Sekolah Minggu—bergantian melakukan pemantauan (on-call) dan memberikan edukasi kesehatan bertajuk “Anak Hebat, Hadiah Tuhan Sehat & Kuat”.
“Kemarin saya sudah memvideokan cara menggunakan oksigen jika dibutuhkan, dan obat-obatan sudah dicatat rapi. Orang tua juga kami minta transparan jika anak mereka memiliki kebutuhan obat khusus,” tambah Ida.
Puncak dari edukasi yang mendobrak kebiasaan gerejawi terjadi pada Selasa pagi (30/6/2026). Di sesi penyuluhan awal, hadir Michael Sitanggang, S.STP., M.Si., Ketua Subkelompok Logistik dan Peralatan BPBD Provinsi DKI Jakarta.
Bukan sekadar berteori, Michael mengajak ratusan anak itu merangkak, menyimulasikan penyelamatan diri dari gempa bumi.
“Di sini ada contoh kursi. Caranya, adik-adik berlindung di bawahnya,” seru Michael, mengarahkan anak-anak menutupi kepala dan batang leher mereka.
Simulasi ini menanamkan mantra keselamatan universal di benak mereka: “Drop, Cover, and Hold on” (merunduk, berlindung, dan bertahan).
Tak hanya bencana alam, bencana digital pun dimitigasi. Lewat pembinaan moral dari dr. Lahargo Kembaren, SpKJ dengan topik “Gunakan Gadget dengan Bijak, Kunci Jiwa Tetap Sehat”, anak-anak dipersiapkan agar tidak menjadi korban hoaks, melainkan menjadi tuan atas teknologi.
Pelayanan dalam Senyap, Menyucikan Ruang Terdalam
Di balik megahnya acara, ada pelayanan-pelayanan sunyi yang jarang tersorot lampu kamera. Sintua Dosmauli br Napitupulu dan para Parhalado (Majelis) mengambil peran sebagai benteng pertahanan kebersihan dan kenyamanan.
“Pelayanan itu bukan hanya soal firman, tetapi juga dari hal yang terkecil, seperti kebersihan kamar mandi. Itu adalah bagian dari pelayanan,” tutur St. Dosmauli dengan mata berbinar.
Jauh sebelum tenda berdiri, area gereja telah disterilkan dan disemprot disinfektan antinyamuk demam berdarah. Untuk memfasilitasi 113 anak, 24 toilet gereja dipersiapkan secara khusus.
Empat bilik dikhususkan untuk anak perempuan, empat untuk anak laki-laki, sementara sisanya dikelola untuk umum. St. Dosmauli mengatur sistem piket pagi dan malam untuk memastikan setiap jengkal lantai kamar mandi aman dan tidak licin.
“Setiap anak yang ke kamar mandi selalu kami awasi. Kami sangat menjaga agar jangan sampai ada yang tergelincir,” ungkapnya, menegaskan bahwa cinta kasih gereja juga mewujud dalam lantai toilet yang disikat hingga bersih.
Suara dari Dalam Tenda
Lantas, bagaimana para peserta cilik ini memaknai petualangan mereka? Keraguan yang sempat membayangi para orang tua perlahan sirna melihat ketangguhan anak-anak mereka.
Nathaniel Putra Alexander Sitompul (Niel), siswa kelas 6 SD Santa Maria Fatima, awalnya membayangkan jambore ini tak ubahnya perkemahan sekolah dengan tenda-tenda dome kecil.
“Ternyata tendanya besar memanjang. Aku kira paling sebentar, ternyata sampai tiga malam. Mamaku justru takut aku tidak bisa mengurus diri sendiri,” ceritanya dengan polos, menyiratkan kebanggaan karena berhasil menaklukkan kekhawatiran sang ibu.
Di sudut lain, Quadragesima Fiennicya Sinaga (Quadra), siswi kelas 6 Sekolah Bina Gita Gemilang, menemukan harmoni di tengah hiruk-pikuk acara yang diisi dengan Bible Camp, Pengenalan Budaya Batak, hingga tarian Modern Dance, Tortor, dan Tumba di malam hari.
“Menurut aku jambore ini seru banget, nge-mix. Ada kesenangan, keseimbangan rohani, kita bisa lebih dekat dengan Tuhan dengan cara yang seru. Aku sudah cukup sering ikut jambore, jadi Mama dan Opung tidak terlalu khawatir,” tutur Quadra tangkas.
Menyemai Legacy yang Tak Lekang oleh Waktu
Menjelang akhir rangkaian kegiatan, yang rencananya akan ditutup dengan semarak kembang api (Fire Works) di halaman depan pada Jumat malam (3/7/2026), kelegaan mulai terpancar dari wajah para pelayan Tuhan.
Pdt. Pontius Ch. Siregar, M.Div, Pendeta Fungsional HKBP Kramat Jati yang juga Uluan di HKBP Kampung Gedong, tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Walaupun Jambore skala Ressort ini baru pertama kali diadakan, pencapaian 113 peserta adalah sebuah rekor kepercayaan yang luar biasa.
“Catatan terpentingnya adalah para orang tua mempercayakan dan melepas anaknya kepada kami di sini selama 4 hari 3 malam. Kalau soal kecerdasan, kita tidak memaksakan itu. Tapi minimal, mereka pulang membawa disiplin dan sukacita,” refleksinya.
Pdt. Pontius meyakini, hari-hari di bawah tenda peleton ini akan menjelma menjadi warisan (legacy) abadi.
“Seumur hidupnya mereka akan mengingat momen ini. Mereka akan terus menceritakannya, bahkan kelak ketika kami, para pendeta, sudah pindah melayani di gereja lain.”
Jambore ASM HKBP Kramat Jati 2026 yang diinisiasi sejak era pelantikan Pdt. Martongo Sitinjak ini membuktikan satu hal mutlak: gereja tidak boleh hanya menjadi gedung yang pasif.
Di bawah kanvas tenda hijau itu, HKBP Kramat Jati telah menjelma menjadi rumah, sekolah kehidupan, dan rahim tempat generasi penerus yang mandiri, berkarakter, dan beriman tangguh dilahirkan.
Ke depan, angin segar pembaharuan ini bersiap menyapa generasi pemuda lewat program Gondang Naposo dan Festival Musik, membentangkan layar pelayaran gereja ini semakin jauh mengarungi zaman.
(Victor)

















