Jakarta, OnlineKristen.com – Hari itu, Minggu, 5 Juli 2026, cuaca di sekitar Jalan Jambul Lama KPAD Kodam Jaya, Cililitan, Jakarta, terasa sedikit berbeda.
Di sebuah gedung gereja sederhana yang selama ini menjadi pusat spiritualitas bagi Persekutuan Oukoumene Umat Kristen (POUK) Hosana Cililitan, terukir sebuah momen sejarah yang menguras air mata dan menggetarkan hati. Ini bukan sekadar rutinitas Ibadah Minggu Biasa ke-14.
Ini adalah hari di mana seorang gembala yang telah delapan tahun merajut kasih, menabur firman, dan menemani jemaat dalam tangis serta tawa, harus mengembalikan mandat administratifnya.
Di bawah tema ibadah “Hidup dalam Kelembutan dan Keadilan” yang terambil dari kitab Zakharia 9:9-12, Pdt. Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian berdiri di mimbar dengan tatapan yang teduh. Suaranya mengalun tenang, namun menusuk relung sanubari setiap umat yang hadir.
Baca juga: Jambore ASM HKBP Kramat Jati 2026: Edukasi Iman, Kesehatan, hingga Mitigasi Bencana
Potret Kelembutan di Tengah Dunia yang Keras
Dalam khotbahnya, Pdt. Sapta membuka realitas dunia yang tengah sakit. Ia mencontohkan sebuah kasus viral tentang seorang pemuda bernama Taufik Hidayat yang tega menyekap dan menganiaya kekasihnya selama berbulan-bulan hingga trauma berat. Kisah tragis itu dijadikan sebuah cermin retak dari realitas masyarakat modern.

“Dunia yang kita hidupi saat ini dipenuhi dengan persaingan, kekerasan, ketidakadilan, dan keinginan untuk saling menguasai,” ucap Pdt. Sapta dengan nada prihatin.
Di tengah masyarakat yang sering kali menganggap kelembutan sebagai sebuah kelemahan, ia justru mendobrak stigma tersebut.
Mengutip Zakharia 9, ia mengingatkan jemaat akan sosok Raja yang datang bukan dengan kereta perang yang gagah, melainkan dengan menunggang seekor keledai muda yang sarat akan kerendahan hati.
“Keagungan Yesus tidak ditunjukkan melalui kekuasaan. Kehadiran Yesus ditunjukkan melalui kasih, melalui pengorbanan, melalui ketenangan hati. Pemimpin sejati bukanlah yang ingin dilayani, tetapi pemimpin sejati adalah yang mau melayani,” tegasnya.
Pesan ini bukan sekadar retorika teologis, melainkan sebuah autokritik bagi tatanan sosial, termasuk birokrasi di Indonesia, di mana keegoan sering kali mengalahkan semangat melayani.
Bagi Pdt. Sapta, menjadi pengikut Kristus berarti mempraktikkan kelemahlembutan yang revolusioner—seperti saat Yesus menolak merajam perempuan yang berzina, dan memilih untuk memberikan pengampunan serta kesempatan kedua.
Di akhir khotbahnya, dengan suara yang sedikit bergetar, ia merendahkan hatinya di hadapan jemaat.
“Selama 8 tahun kita bersama, tidak selalu berada dalam zona aman dan nyaman. Bila ada tutur kata atau sikap saya yang menyinggung, bila pelayanan saya belum optimal, saya tanpa malu harus mengatakan: saya mohon maaf.”
Permintaan maaf yang tulus itu menyiratkan sebuah integritas. Kelembutan, seperti yang ia ajarkan, bukanlah kepasrahan yang lemah, melainkan kemampuan mengendalikan diri di bawah pimpinan Roh Kudus.
Baca juga: 30 Tahun Internasionalisasi UEM, GKPS Tuan Rumah Harmonious Concert “Faith Beyond Fear” di Jakarta
Bukan Perpisahan, Melainkan Sebuah Pelepasan
Usai perayaan Perjamuan Kudus yang khidmat, suasana berubah menjadi kian haru. Rangkaian ibadah dilanjutkan dengan seremonial pelepasan Pdt. Sapta Baralaska Utama Siagian sebagai Pendeta Tenaga Utusan Gereja (TUG).
Pnt. Taripar Panjaitan, selaku Sekretaris Majelis, maju ke depan dengan langkah yang terasa berat.
Dalam sambutannya, ia menegaskan acara hari itu adalah sebuah “pelepasan“, bukan “pisah sambut” seperti pada umumnya, apalagi “perpisahan“.
Belum ada gembala pengganti yang akan meneruskan tongkat estafet di gereja kecil tersebut.
Peraturan dari PGI Wilayah DKI Jakarta membatasi masa tugas Pendeta TUG maksimal dua periode (8 tahun), sebuah regulasi administratif yang memaksa langkah kaki Pdt. Sapta untuk beranjak dari status resminya di POUK Hosana Cililitan terhitung sejak Juni 2018 hingga Juni 2026.
Mata Pnt. Taripar berkaca-kaca. Tangannya perlahan menyeka air mata dengan sehelai sapu tangan saat ia mengenang perjalanan panjang mereka.
Baca juga: Fructus In Altum: Menjemput Mukjizat Transformasi Sekolah Kristen di Usia Ke-76 MPK
“Gereja POUK Hosana Cililitan yang kecil ini belum bisa memberikan sewajarnya apa yang dibutuhkan oleh hamba Tuhan. Sehingga di tengah pelayanan, Bapak Pendeta sampai harus berjuang melayani di tempat lain,” ungkapnya dengan suara parau.
Ia menyadari sepenuhnya betapa sulitnya mencari hamba Tuhan yang bersedia dengan setia menggembalakan jemaat kecil di tengah berbagai tantangan dan keterbatasan.
Namun, ia bersyukur, Pdt. Sapta telah berjanji untuk tidak meninggalkan mereka dan akan terus membantu melayani sebagai pendeta undangan.
Kesaksian tentang Ketabahan dan Integritas
Kesan mendalam tidak hanya dirasakan oleh majelis, tetapi juga oleh berbagai pihak yang menjadi saksi perjalanan pelayanan Pdt. Sapta.
Mayor Inf. Welman Silitonga, S.Th., dari Disbintalad TNI AD, mewakili jemaat menyampaikan rasa terima kasihnya.
Ia menyingkap sedikit tabir tentang betapa beratnya tantangan internal yang pernah melanda gereja tersebut.
Baca juga: Persiapan Ibadah Raya HUT ke-165 HKBP di GBK: Fokus pada Syukur dan Kesederhanaan
“Dalam membangun gereja yang kecil ini, kita mendapat intimidasi juga dari intern… Tapi terbukti hingga saat ini, Bapak Pendeta dengan sabar terus membina kita di gereja ini. Tuhan lebih berkuasa,” tuturnya.
Keteguhan Pdt. Sapta dalam menghadapi gelombang penolakan dan intimidasi adalah bukti nyata dari khotbahnya tentang kelembutan yang dikendalikan oleh kuasa Roh Kudus.
Di sisi lain, kekecewaan terhadap regulasi yang kaku sempat disinggung oleh Prof. Dr. Lijan Sinambela, Ketua II Pengurus Harian Badan Pekerja POUK DKI Jakarta.
“Saya secara pribadi kurang berterima dengan aturan PGIW ini… Yang saya sayangkan adalah mengapa tidak ada dialog. Tapi sekali lagi, kita harus tunduk. Saya sangat diberkati oleh integritas Pak Sapta,” ucap Prof. Lijan.
Ia mengapresiasi dedikasi Pdt. Sapta yang sebelumnya juga telah berkontribusi besar di POUK Lenteng Agung.
Baca juga: Diikuti 38 Provinsi, Kebangkitan Doa Nasional 2 Serukan Sinergi Lintas Gereja di Tengah Krisis
Gereja Boleh Kecil, Tapi Jiwa Harus Besar
Sebuah pesan penguatan yang sangat menggetarkan datang dari Pdt. Brigjen Dr. Yermia Hendarwoto, S.H., M.H., M.Th., mewakili Sinode Gereja Kristen Protestan Injili Indonesia (GKPII).
Ia mengingatkan jemaat agar tidak berkecil hati menghadapi kenyataan bahwa mereka kini adalah kawanan domba tanpa gembala tetap.
“Pelayanan itu tidak harus ditentukan oleh ada atau tidaknya pendeta,” seru Jenderal bintang satu itu dengan lantang.
“Gereja ini boleh kecil secara ukuran gedung, tapi jiwanya harus besar. Pelayanan ini untuk Tuhan, bukan untuk menyenangkan manusia. Yang kecil di sinilah kemuliaan Tuhan akan berbuah membesar hingga ke luar sana.”
Pdt. Yermia membagikan kesaksian pribadinya, bagaimana imannya diuji saat menghadapi tekanan dan intimidasi dalam tugasnya sebagai prajurit militer dan hamba Tuhan.
Baca juga: FKKN: Menembus Batas Denominasi, Membangun Kesadaran Politik Umat Kristiani dari Akar Rumput
Ia mengingatkan bahwa gelar, pangkat, dan pendidikan tinggi tidak ada artinya jika iman goyah saat dihempas badai. Kesadarannya bahwa segala perlindungan hanya datang dari Tuhan adalah kunci untuk bertahan.
Pesan senada disampaikan oleh Pdt. Letda Inf. A. Nababan, Perwira Rohani dari Bintaldam Jaya. Mendengar semua sambutan yang sarat akan rasa kehilangan, ia menarik sebuah kesimpulan yang indah: “Pak Sapta sangat dicintai di tempat ini.”
Tak Terbatas oleh Waktu dan Regulasi
Sebagai penutup dari segala rangkaian haru tersebut, Pdt. Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian kembali angkat bicara.
Suaranya mencerminkan kelegaan sekaligus rasa syukur yang mendalam. Baginya, 8 tahun di POUK Hosana Cililitan bukan sekadar masa tugas, melainkan sebuah rumah tempat ia menemukan kasih sejati dari jemaat.
“Kalau bicara tentang keegoan, saya nyaman dan senang di sini,” ungkapnya jujur.
Namun, sebagai seorang akademisi yang mengajar ilmu politik dan Pancasila, serta sebagai hamba Tuhan yang taat asas, ia menyadari pentingnya meninggalkan legacy (warisan) ketaatan pada aturan yang ada.
Ada satu momen yang membuat tenggorokan siapa pun yang mendengarnya akan tercekat. Dengan penuh kelembutan, Pdt. Sapta menyampaikan rasa terima kasih terbesarnya kepada jemaat.
Bukan karena materi atau fasilitas, melainkan karena kebesaran hati jemaat menerima keadaan keluarganya.
“Yang tidak akan saya lupakan, Bapak Ibu jemaat dan majelis bisa menerima mama saya apa adanya. Mama saya yang sudah demensia. Perjuangan berat bagi saya untuk mengurus mama saya, namun jemaat bisa menerimanya. Saya selalu bangga ketika hadir di sini,” ucapnya dengan mata yang berbinar penuh haru.
Di akhir sambutannya, ia memastikan bahwa meskipun secara administratif masa tugasnya telah usai, panggilannya sebagai gembala tidak akan pernah terputus.
“Segala sesuatu ada waktunya, setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya,” pungkas Pdt. Sapta.
Ibadah pelepasan di POUK Hosana Cililitan hari itu ditutup bukan dengan titik, melainkan dengan sebuah koma.
Sebuah penanda bahwa kisah kasih, kelembutan, dan keadilan yang telah ditanamkan oleh Pdt. Sapta Baralaska Utama Siagian akan terus bertumbuh, merambat keluar dari dinding-dinding gereja yang kecil itu, dan menjadi berkat yang hidup bagi dunia yang merindukan damai sejahtera. Sebuah warisan tak benda yang akan selalu hidup di hati jemaat POUK Hosana Cililitan.
(Victor)

















