Beranda / GEREJA DAN MINISTRY / 30 Tahun Internasionalisasi UEM, GKPS Tuan Rumah Harmonious Concert “Faith Beyond Fear” di Jakarta

30 Tahun Internasionalisasi UEM, GKPS Tuan Rumah Harmonious Concert “Faith Beyond Fear” di Jakarta

30 tahun internasionalisasi UEM

Harmonious Concert: Perayaan 30 Tahun Internasionalisasi UEM di Jakarta

Jakarta, OnlineKristen.com – Suara hentakan keras dan bentakan memecah keheningan gedung Smesco Convention Hall, Jakarta.

Di atas panggung, seorang aktor perempuan berteriak pilu, “Aku punya rumah, tapi aku takut untuk pulang!” Di sudut lain panggung, pendar cahaya gawai menampilkan wajah putus asa seorang pemuda yang terjerat buaian judi online.

Tak jauh darinya, sekelompok jemaat diusir paksa saat tengah melantunkan doa di rumah ibadah mereka.

Lampu panggung meredup. Ruangan itu sejenak dikuasai oleh potret kelam realitas hari ini: kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, krisis ekonomi, kecanduan, hingga intoleransi.

Dunia sedang sakit, dan manusia di dalamnya dijangkiti satu wabah yang tak kasat mata: Ketakutan.

Baca juga: Fructus In Altum: Menjemput Mukjizat Transformasi Sekolah Kristen di Usia Ke-76 MPK

30 tahun internasionalisasi UEM
Harmonious Concert: Perayaan 30 Tahun Internasionalisasi UEM di Jakarta

Namun, di tengah kegelapan teatrikal malam itu, Sabtu, 20 Juni 2026, sebuah narasi besar sedang dibangun.

Ribuan pasang mata yang hadir tak dibiarkan larut dalam keputusasaan. Kegelapan di panggung perlahan diusir oleh harmoni ratusan suara yang menyatu, membawakan pesan yang membuncah ke seluruh penjuru ruangan.

Pesan itu merangkum jiwa dari perayaan akbar malam tersebut: Faith Beyond Fear—Iman yang Melampaui Ketakutan.

Malam itu, Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) berdiri sebagai tuan rumah yang merangkul 16 sinode gereja anggota United Evangelical Mission (UEM) di Asia, bersama delegasi dari Afrika dan Eropa.

Mereka hadir untuk merayakan 30 Tahun Internasionalisasi UEM, sebuah tonggak sejarah yang mengubah wajah misi gereja global selamanya.

Baca juga: Persiapan Ibadah Raya HUT ke-165 HKBP di GBK: Fokus pada Syukur dan Kesederhanaan

Beranjak dari Masa Lalu, Berjalan dalam Kesetaraan

Jika memutar waktu lebih dari satu setengah abad silam, narasi gereja di Indonesia tak lepas dari nama-nama misionaris Jerman seperti Ludwig Ingwer Nommensen atau August Theis.

Mereka menyeberangi samudera, menembus hutan, membawa terang Injil ke tanah asing yang belum mereka kenal.

Namun, sejarah tidak berhenti pada heroisme masa lalu. Tahun 1996 menjadi titik balik.

“UEM tidak lagi dipahami sebagai lembaga misi dari Jerman, melainkan sebagai persekutuan internasional yang menghapus sekat-sekat antara pemberi dan penerima, antara gereja tua dan gereja muda,” ujar Pendeta Dr. Andar Parlindungan Pasaribu, orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal UEM, dengan suara bergetar menahan haru.

Di hadapan ribuan hadirin, Pdt. Andar menegaskan bahwa malam itu bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan proklamasi teologis. Bahwa hari ini, gereja-gereja di Asia dan Afrika mampu berdiri sejajar dengan Eropa.

“Lebih berbahagia memberi daripada menerima. Setiap gereja dipanggil bukan hanya untuk menerima, tetapi juga untuk memberi. UEM adalah kita, dan kita adalah UEM,” tegasnya.

Baca juga: Diikuti 38 Provinsi, Kebangkitan Doa Nasional 2 Serukan Sinergi Lintas Gereja di Tengah Krisis

Kesetaraan itu terasa kental dalam sambutan Pdt. Dr. Jenny R.C. Purba, M.A., Ketua Panitia. Dengan senyum keibuan namun menyimpan ketegasan, ia menyambut para tamu dengan Demban—sirih khas Simalungun yang menjadi simbol ketulusan dan keterbukaan hati.

“Kita mau beranjak dari perjalanan misi yang sangat kuno, menuju kolaborasi yang sangat unik. Melalui kebersamaan ini, kita akan mengalahkan ketidaksetaraan di dunia. Ketidaksetaraan antara perempuan dengan laki-laki, antara yang kaya dengan yang miskin,” ujar Pdt. Jenny.

Ia membuktikan ucapannya; perayaan malam itu didanai bukan dari uluran tangan Eropa, melainkan murni dari donasi dan gotong royong jemaat di Asia yang menembus angka setengah miliar rupiah dalam waktu singkat.

Gereja yang Merangkul Luka Dunia

Menjadi gereja di abad ke-21 bukan sekadar urusan mimbar dan kidung pujian. Ephorus GKPS, Pdt. John Christian Saragih, S.Th., M.Sc., menggarisbawahi hal ini dalam khotbahnya yang tajam. Mengutip surat Paulus dalam 2 Timotius 1:7, ia mengingatkan esensi panggilan umat percaya.

“Dunia dengan kuasa yang ada padanya kerap dipakai untuk menindas. Tapi sebagai gereja yang lahir dari misi, Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan penguasaan diri,” pesannya mantap.

Ia mengajak jemaat untuk tak sekadar berlindung di balik tembok gereja yang nyaman, tetapi keluar menyentuh realitas.

Polemik Pernyataan Jusuf Kalla, GAMKI Minta Publik Fokus pada Substansi Hukum dan Hindari Polarisasi

Realitas yang menakutkan itu terpampang nyata ketika Wakil Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Dr. Otto Hasibuan, S.H., M.M., naik ke mimbar.

Alih-alih memberikan pidato seremonial yang normatif, tokoh hukum ini justru membuka data kelam bangsa Indonesia.

Dengan nada prihatin, Prof. Otto membeberkan fakta overcapacity penjara di Indonesia yang mencapai lebih dari 82%.

Yang paling menyayat hati: 57 persen dari narapidana itu adalah korban dan pelaku kasus narkotika.

Di Pematang Siantar, pusat pelayanan GKPS, anak-anak SMP pun telah terpapar barang haram tersebut.

“Pemerintah tidak sanggup sendiri untuk menyelesaikan persoalan ini. Mimbar gereja, menurut saya, adalah mimbar yang paling penting untuk bisa menyelamatkan generasi bangsa,” tantang Prof. Otto kepada para pimpinan sinode.

Baca juga: Kongres VII PIKI 2026 di Jakarta: Dari Isu Ketahanan Pangan, Bursa Ketum, hingga Harapan pada Presiden

Pernyataannya menjadi tamparan sekaligus panggilan diakonia yang nyata: bahwa Faith Beyond Fear harus diejawantahkan dengan turun tangan menyelamatkan anak bangsa dari jurang maut narkotika dan penyakit sosial lainnya.

Solidaritas dan keberanian untuk melangkah bersama juga digarisbawahi oleh Sekretaris Jenderal GKPS, Pdt. Dr. Janhotner Saragih. Ia merefleksikan bahwa ketakutan adalah hal yang manusiawi, namun kebersamaan dalam iman adalah solusinya.

“Menjadi sebuah refleksi bersama buat kita bahwa ternyata dalam keberimanan pun rasa takut masih ada. Tapi jangan pernah takut untuk berjalan bersama. Selebrasi 30 tahun ini menjadi sebuah komitmen bersama bahwa di tengah-tengah keberadaan kita yang berbeda, Tuhan sudah memanggil kita untuk melangkah bersama dalam pekebaran injil di dunia ini,” tutur Pdt. Janhotner.

Simfoni Lintas Budaya dan Nyala Terang Harapan

Di tengah beratnya beban dunia yang dibicarakan, “Harmonious Concert” hadir menyuntikkan kelegaan. Sepanjang malam, Smesco disulap menjadi kanvas budaya yang memukau.

Panggung bergetar ketika Parade Budaya 17 Sinode Gereja berjalan berdampingan, membawa identitas Nusantara dari Sabang hingga Papua.

Baca juga: FKKN: Menembus Batas Denominasi, Membangun Kesadaran Politik Umat Kristiani dari Akar Rumput

Tarian Dayak dari Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) bercerita lewat gerak tubuh—dari kehidupan yang damai, koyak karena ego manusia yang memicu perang berdarah, hingga akhirnya kasih Tuhan turun memulihkan lewat tarian burung anggang pembawa damai.

Di susul kemudian keanggunan Tari Somba Simalungun, tarian Nias (BNKP), hingga lompatan riang tarian dari Tanah Papua (GKI TP).

Paduan suara Sola Gracia GKPI Menteng hingga Men’s Choir HKBP Menteng bergantian menggetarkan udara dengan harmoni suara tingkat tinggi.

Semua perbedaan suku, bahasa, dan tradisi itu melebur, membuktikan bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan mahakarya penciptaan jika diikat dengan kasih Agape.

Puncak emosi malam itu terjadi ketika para pimpinan gereja dari tiga benua naik ke atas panggung. Lampu kembali dipadamkan.

Satu demi satu, nyala lilin dihidupkan, berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, merambat ke seluruh penjuru ruangan hingga seluruh jemaat memegang cahayanya masing-masing.

Di tengah lautan cahaya lilin itu, deklarasi komitmen bergema dalam berbagai bahasa—Indonesia, Inggris, hingga Tagalog: Kami bukan generasi yang tanpa luka, namun kami adalah generasi yang dipulihkan… Kami percaya masa depan bukan untuk ditakuti, melainkan dijalani bersama Tuhan.

Sebagai penutup yang menyentuh sanubari, seorang gadis muda berusia 20 tahun, Geby Saragih, melangkah ke tengah panggung.

Dengan suaranya yang jernih dan tulus, ia melantunkan “Bless the Lord My Soul“*. Geby, yang telah bernyanyi memuji Tuhan sejak kecil, membuktikan bahwa di tengah zaman yang penuh ketidakpastian, pujian kepada Sang Pencipta tak boleh berhenti bergaung.

Ketika acara usai dan ribuan langkah kaki beranjak keluar menuju dinginnya malam Jakarta, ada sesuatu yang berubah. Mereka tidak pulang dengan tangan kosong.

Mereka pulang membawa nyala lilin yang tak kasat mata—sebuah keberanian baru. Bahwa selama 30 tahun UEM telah membuktikan penyertaannya, dan untuk dekade-dekade berikutnya, gereja akan terus berjalan menembus badai dunia.

Bukan tanpa rasa takut, tetapi dengan iman yang jauh melampaui ketakutan itu sendiri.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

error: Content is protected !!