Jakarta, OnlineKristen.com – Minggu pagi, 5 Juli 2026, udara di kawasan Cililitan, Jakarta Timur, terasa sedikit berbeda. Di balik hiruk-pikuk ibu kota yang tak pernah benar-benar tertidur, jemaat Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK) Hosana melangkah memasuki ruang ibadah dengan langkah yang diselimuti perasaan campur aduk.
Hari itu bukan sekadar Ibadah Minggu Biasa ke-14 atau Minggu Trinitatis. Hari itu adalah sebuah titik temu antara perenungan spiritual dan perpisahan emosional.
Di balik mimbar gereja, Pdt. Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian berdiri dengan ketenangan yang telah menjadi ciri khasnya selama delapan tahun terakhir.
Sorot matanya menyapu seluruh ruangan, menatap satu per satu wajah jemaat yang telah ia gembalakan melewati berbagai musim kehidupan.
Ketika ia mulai berbicara, suaranya tidak menggelegar layaknya orator yang mencari panggung, melainkan mengalun tenang, mengetuk pintu hati setiap pendengarnya.
Tema khotbah hari itu terasa sangat mendesak sekaligus abadi: Hidup dalam Kelembutan dan Keadilan.
Cermin Retak Sebuah Zaman
Mengawali khotbahnya, Pdt. Dr. Sapta Siagian tidak langsung melambung ke awan teologi yang rumit. Ia membumikan firman Tuhan ke tanah realitas yang sedang dipijak oleh jemaatnya.
Ia menceritakan sebuah tragedi kemanusiaan yang baru-baru ini viral—kisah seorang pemuda bernama Taufik Hidayat dari Bandung yang menyekap, membelenggu, dan menganiaya kekasihnya selama berbulan-bulan hingga menyisakan trauma yang mendalam.
“Inilah gambar contoh kecil… yang melakukan kekerasan, yang menganiaya dan melakukan tindakan kriminal. Dan masih banyak tindakan-tindakan yang tidak terekspos dalam media,” ucapnya, suaranya menyiratkan keprihatinan yang pekat.
Melalui kisah tragis tersebut, Pdt. Sapta menyodorkan sebuah cermin retak kepada jemaat untuk melihat wajah dunia saat ini.
Sebuah dunia yang dipenuhi dengan persaingan yang saling mematikan, kekerasan yang dinormalisasi, ketidakadilan yang merajalela, dan hasrat purba untuk saling menguasai.
Baca juga: Jambore ASM HKBP Kramat Jati 2026: Edukasi Iman, Kesehatan, hingga Mitigasi Bencana
Lebih menyedihkannya lagi, ia menunjuk pada realitas kelam yang sering kali disembunyikan di balik pintu-pintu tertutup, termasuk di dalam rumah tangga Kristen.
Dengan kejujuran yang menampar, ia mengungkap maraknya Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Fakta bahwa ada anak yang sanggup memukuli orang tuanya, atau sebaliknya, ayah yang tega membanting darah dagingnya sendiri hingga tewas di sudut-sudut wilayah Jakarta.
“Hidup ini adalah hidup penuh dengan kekerasan,” tegasnya.
Di tengah peradaban yang memuja kekuatan otot dan dominasi ego, kelembutan sering kali disalahartikan sebagai sebuah kelemahan.
Mereka yang lembut dianggap rapuh. Mereka yang mengalah dianggap pecundang. Namun, dari atas mimbar POUK Hosana Cililitan, Pdt. Sapta mendekonstruksi pemahaman duniawi tersebut dengan merujuk pada sebuah nubuat kuno yang menggetarkan.
Baca juga: 30 Tahun Internasionalisasi UEM, GKPS Tuan Rumah Harmonious Concert “Faith Beyond Fear” di Jakarta
Raja yang Menunggang Keledai
Ia mengajak jemaat membuka lembaran dari Kitab Zakharia 9:9-12. Sebuah nubuat tentang kedatangan sang Raja bagi Putri Sion dan Putri Yerusalem.
Berbeda dengan ekspektasi manusia yang mendambakan figur tiran penakluk yang datang dengan kereta perang, kuda yang berderap, dan busur panah yang mematikan, Raja yang dinubuatkan ini justru datang dengan cara yang amat sunyi dan rendah hati.
“Lihat Raja-Mu datang kepadamu. Ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan menunggang seekor keledai. Seekor keledai yang muda, anak keledai betina.”
Nubuat yang diucapkan ratusan tahun sebelum Masehi ini, urai Pdt. Sapta, digenapi secara sempurna ketika Yesus Kristus memasuki kota Yerusalem.
Orang-orang Yahudi pada masa itu berharap Yesus akan menjadi Mesias politik—seorang panglima perang yang akan menghunus pedang untuk mengusir penjajah Romawi.
Baca juga: RSU Tarutung Digugat! HKBP Bongkar Bukti Arsip Jerman dan Surat Menkes 1954
Namun, Yesus memilih seekor keledai tunggangan, simbol kedamaian, bukan kuda perang yang identik dengan agresi militer.
“Keagungan Yesus tidak ditunjukkan melalui kekuasaan,” pungkas Pdt. Sapta.
“Kehadiran Yesus ditunjukkan melalui kasih, melalui pengorbanan, melalui ketenangan hati. Pemimpin sejati bukanlah yang ingin dilayani, tetapi pemimpin sejati adalah yang mau melayani.”
Sebagai seorang akademisi yang juga mengajar ilmu politik dan Pancasila, Pdt. Sapta menyelipkan sebuah refleksi kebangsaan yang tajam.
Ia membayangkan sebuah utopia yang mungkin terjadi: bilamana para birokrat dan pejabat di Indonesia memiliki hati seorang hamba—hati yang rindu melayani rakyat, bukan gila hormat untuk dilayani—maka bangsa ini niscaya akan menjadi negara yang jauh lebih mapan dan jaya.
Baca juga: Fructus In Altum: Menjemput Mukjizat Transformasi Sekolah Kristen di Usia Ke-76 MPK
Lebih lanjut, ia menjabarkan bahwa kelembutan (meekness) dalam kacamata iman bukanlah sikap feminin yang lemah tanpa daya.
Kelembutan adalah sebuah kekuatan mahadahsyat yang dikendalikan secara penuh di bawah pimpinan Roh Kudus.
Ia mencontohkan respons Yesus ketika dihadapkan pada perempuan yang kedapatan berzina. Saat massa yang marah siap melempari perempuan itu dengan batu (hukuman rajam), Yesus tidak terpancing oleh histeria massa.
Ia menghadapi kekerasan dengan kelembutan yang mematikan ego: “Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu…”
Yesus tidak menghakimi dengan kekerasan, melainkan merangkul dengan kelembutan yang membawa pertobatan: “Pulanglah, dan jangan berbuat dosa lagi.”
Panggilan Menjadi Pembawa Keadilan
Pesan kedua yang ditekankan oleh Pdt. Sapta adalah tentang keadilan. Mengutip kembali Zakharia, ia mengingatkan bahwa Raja yang datang itu bukan hanya lemah lembut, tetapi juga “adil dan jaya”.
Keadilan Allah tidak hanya berputar pada poros hukum yang kaku, melainkan tentang memperlakukan sesama manusia dengan kasih, kejujuran, dan kebenaran mutlak.
Dengan retorika yang menukik tajam ke ruang privat jemaat, ia melontarkan serangkaian pertanyaan reflektif yang menembus hati nurani.
“Apakah kita sudah menjadi pribadi yang adil? Atau kita menjadi pribadi yang otoriter, yang menang sendiri, yang hanya mau didengar?” tanyanya, membiarkan keheningan sejenak menguasai ruang gereja.
Ia meminta jemaat mengevaluasi diri di dalam keluarga masing-masing. Apakah seorang suami sudah adil terhadap istrinya? Apakah orang tua sudah adil terhadap anak-anaknya? Bahkan, apakah majikan sudah adil terhadap Asisten Rumah Tangga (ART) mereka? Di tempat kerja, apakah prinsip kejujuran yang dipegang teguh, ataukah mentalitas “Aji Mumpung” yang masih mendominasi?
Baca juga: Persiapan Ibadah Raya HUT ke-165 HKBP di GBK: Fokus pada Syukur dan Kesederhanaan
Gereja pun tak luput dari kritikannya. Ia memperingatkan agar jemaat tidak membeda-bedakan sesama berdasarkan kedudukan sosial atau kelas ekonomi.
Pesan ini bukan sekadar teori teologis, melainkan cerminan dari Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang menjadi dasar negara Pancasila.
Sebuah Pelepasan, Bukan Perpisahan
Di pertengahan khotbahnya, nuansa ruang ibadah berubah menjadi lebih melankolis. Hari itu bukanlah Minggu biasa; hari itu adalah ibadah pelepasan bagi dirinya setelah delapan tahun mengabdi sebagai gembala di POUK Hosana Cililitan.
Pdt. Sapta menunjukkan kelasnya sebagai seorang pemimpin spiritual yang sejati. Bukannya membanggakan pencapaian selama delapan tahun, ia justru membungkuk dalam kerendahan hati. Di hadapan jemaat yang ia kasihi, ia meminta maaf.
“Bila ada tutur kata saya yang menyinggung perasaan jemaat, dari hati yang paling terdalam, saya mohon maaf. Kalau ada sikap saya yang tidak rendah hati terhadap jemaat, sekali lagi saya tanpa malu harus mengatakan saya mohon maaf. Bila dalam pelayanan saya belum optimal selama 8 tahun, dan saya harus jujur mengatakan itu… saya minta maaf.”
Baca juga: Diikuti 38 Provinsi, Kebangkitan Doa Nasional 2 Serukan Sinergi Lintas Gereja di Tengah Krisis
Kelembutannya kembali diuji oleh godaan zona nyaman. Ia mengakui, secara manusiawi dan ego pribadi, ia merasa sangat nyaman dan kerasan melayani di POUK Hosana Cililitan.
Jemaatnya damai, majelisnya harmonis, nyaris tak ada konflik berarti. Namun, ia menyadari posisinya sebagai seorang hamba Tuhan yang terikat pada regulasi gerejawi.
“Saya harus tahu ada regulasi yang sudah ditetapkan… Dimanapun kita berada, kita taat, kita kritis, dan kita harus mengikuti aturan. Saya harus meninggalkan legacy yang baik kepada siapapun,” ujarnya, menegaskan komitmennya pada integritas administratif.
Meski dilepas secara struktural, hatinya berjanji untuk tetap hadir dan membantu jemaat Hosana ke depannya.
Pengharapan di Meja Perjamuan
Menuju akhir pelayanannya, Pdt. Sapta membawa jemaat pada titik puncak pengharapan Kristen. Merujuk pada Zakharia 9:11-12, ia berbicara tentang pembebasan para tawanan dari “lubang yang tidak berair“.
Baca juga: Polemik Pernyataan Jusuf Kalla, GAMKI Minta Publik Fokus pada Substansi Hukum dan Hindari Polarisasi
“Kristus membebaskan manusia dari dosa, dari ketakutan. Ia datang ke dunia untuk mencari kita yang terhilang,” serunya.
Keselamatan, yang merupakan kebutuhan primer jiwa manusia, telah diberikan bukan karena amal kebaikan atau kekayaan, melainkan semata-mata karena kasih karunia Allah (Yohanes 3:16).
Khotbah itu kemudian ditutup dengan undangan menuju Meja Perjamuan Kudus. Di sana, melalui roti yang dipecahkan dan anggur yang dituangkan, jemaat kembali mengingat pengorbanan sang Raja yang lemah lembut di kayu salib.
Pdt. Dr. Sapta Siagian mungkin tidak lagi memegang tongkat gembala secara struktural di POUK Hosana Cililitan.
Namun, pertanyaannya di akhir ibadah akan terus menggema, menantang siapa saja yang berani menyebut dirinya pengikut Kristus: “Apakah perkataan saya sudah mencerminkan kelembutan? Apakah saya sudah menjadi pembawa damai, atau justru sumber peperangan?”
Di tengah dunia yang mendewakan kekerasan, warisan pelayanan selama delapan tahun itu telah membuktikan satu hal: hanya melalui kelembutan, keadilan sejati dapat ditegakkan. Sebuah warisan iman yang tidak akan pernah lapuk dimakan oleh waktu.
(Victor)

















