Beranda / GEREJA DAN MINISTRY / Gerakan Indonesia Berdoa Synergi 2026, Merajut Harapan Pemulihan Bangsa di Atas Lutut yang Bertekuk

Gerakan Indonesia Berdoa Synergi 2026, Merajut Harapan Pemulihan Bangsa di Atas Lutut yang Bertekuk

Indonesia Berdoa Synergi

Foto bersama Dalie Sutanto, FGBMFI Indonesia, bersama para pendoa

Jakarta, OnlineKristen.com – Jumat pagi di ibu kota seringkali diwarnai oleh deru ambisi dan pusaran kesibukan yang seolah tak pernah tidur. Namun, pada 10 Juli 2026, denyut nadi Jakarta terasa sedikit berbeda di salah satu sudutnya.

Di Graha Bethel Indonesia, Jakarta, para pendoa melangkah gontai namun pasti menuju keheningan altar.

Hari itu, Gerakan Indonesia Berdoa menggelar sebuah pertemuan para pendoa bertajuk “Indonesia Berdoa Synergi“.

Mengusung tema “Bersatu Dalam Doa, Berdampak Bagi Bangsa“, kegiatan ini lahir dari sebuah kesadaran kolektif yang mendalam.

Para pendoa diajak untuk mengamini satu prinsip yang tertulis dalam 2 Tawarikh 7:14: bahwa pemulihan sebuah negeri selalu dimulai tatkala umat yang menyebut nama Tuhan mau merendahkan diri dan berdoa.

Baca juga: Sinyal “Wi-Fi” Surga di Tengah Deru Ibu Kota, Refleksi Dalie Sutanto dari Indonesia Berdoa Synergi 2026

Indonesia Berdoa Synergi
Ketua Umum Gerakan Indonesia Berdoa, Cecilia Teguh Ayu Sianawati, SH memberikan piagam penghargaan kepada pembicara utama Dalie Sutanto, National President Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI) Indonesia di acara Indonesia Berdoa di Graha Bethel, Jakarta, Jumat (10/7/2026)

Melihat Bangsa dari Kacamata Realitas dan Doa

Di balik kekhusyukan acara ini, ada pergumulan panjang yang mengawalinya. Ketua Umum Gerakan Indonesia Berdoa, Cecilia Teguh Ayu Sianawati, SH, menuturkan embrio gerakan ini sebenarnya telah disemai sejak Agustus 2024.

Lalu, mengambil momentum hari kemerdekaan, deklarasi resmi pada tahun lalu (2025), diselenggarakan bersama GBI Mawar Saron dan dihadiri oleh sekitar 8.000 jemaat hingga gedung meluber.

Sejak saat itu, tuntunan untuk terus memobilisasi doa seolah tak pernah padam. Terlebih lagi, ketika memasuki tahun 2026, Cecilia melihat bangsa ini sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Sebagai seorang konsultan hukum yang terbiasa menganalisis fakta, mata batinnya menangkap berbagai anomali struktural yang meresahkan.

“Harapan saya, keadaan bangsa itu pulih kembali seperti awal-awal era kepemimpinan sebelumnya, di mana pasar modal ramai, ekonomi stabil, dan pemerintahan solid,” ungkap Cecilia dengan tatapan menerawang.

Baca juga: Menemukan Kelembutan di Tengah Bisingnya Dunia: Refleksi Pdt Sapta Siagian dari Mimbar POUK Hosana Cililitan

Namun, realitas hari ini menuntut perhatian ekstra. Ia dengan lugas menyoroti hilangnya fungsi check and balance antara pihak eksekutif dan legislatif.

Ia menyebutkan serangkaian persoalan pelik: mulai dari program MBG yang mengambil alokasi dari anggaran pendidikan yang berpotensi menabrak konstitusi, pengangkatan wakil menteri menjadi komisaris BUMN yang bertentangan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi tahun 2025, insiden meninggalnya lima orang dalam training koperasi desa, hingga tragedi ribuan anak yang keracunan MBG.

Ironisnya, di tengah rentetan krisis tersebut, lembaga perwakilan rakyat seolah membisu. “Kalau bukan Tuhan yang memulihkan, Tuhan yang melawat Indonesia, mana ada yang berani? Melalui doa-doa ini kita panjatkan kepada Tuhan,” tegas Cecilia.

Ia bermimpi gerakan doa ini dapat menciptakan gelombang pemulihan layaknya peristiwa Azusa Street di masa lampau, mengubah sejarah bangsa melalui lawatan Roh Kudus.

Jangkar Optimisme dan Integritas di Tengah Badai

Di tengah narasi krisis yang membeban, Dalie Sutanto, National President Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI) Indonesia sekaligus pembicara utama hari itu, hadir membawa jangkar optimisme.

Baca juga: Berselancar di Atas Badai, Para CEO Kristen Ungkap Rahasia Integritas dan Keberanian di Tengah Gejolak Bisnis

Indonesia Berdoa Synergi
Dari Kanan: Dennis Firmansjah, MM, (anggota Badan Penasihat FGBMFI), Dalie Sutanto, National President FGBMFI Indonesia dan Pdt. Ir. Yacob Rachmat, MBA, MTh.

Dalam pandangannya, tantangan dan hambatan adalah keniscayaan dalam lintasan sejarah sebuah bangsa, namun di balik itu selalu ada benih pertumbuhan.

“Kita sebagai anak-anak Tuhan, kita berserah saja kepada Tuhan. Karena saya percaya bahwa Tuhan dapat mengubah segala sesuatunya,” ujar Dalie dengan intonasi yang tenang namun bertenaga.

Ia membagikan sebuah prinsip sederhana yang selalu ia pegang teguh: “Banyak berdoa, banyak berkat. Sedikit berdoa, sedikit berkat. Tidak berdoa, tidak ada berkat.” 

Dalie menyadari kelesuan dan keputusasaan kerap membayangi masyarakat belakangan ini. Namun, sebagai seorang pengusaha dan hamba Tuhan, resepnya untuk bertahan tidaklah muluk-muluk: membangun keintiman dengan Tuhan.

“Kita harus menyatu dengan Pokok Anggur yang bisa memberikan kita keteduhan di tengah ketidakpastian. Tentu kita juga harus bekerja keras, penuh integritas. Saya percaya kalau itu kita lakukan, pasti Tuhan berkati kita,” tambahnya.

Baca juga: Jambore ASM HKBP Kramat Jati 2026: Edukasi Iman, Kesehatan, hingga Mitigasi Bencana

Kepada pemerintah, Dalie menitipkan harapan dan dukungan. Ia menyadari membenahi penegakan hukum dan menumbuhkan ekonomi bukanlah pekerjaan semalam; ia butuh waktu, butuh proses, dan butuh dukungan doa yang tak putus dari umat.

“Wi-Fi” Surga, Komunikasi Tercepat yang Sering Terlupakan

Gema semangat di Graha Bethel itu semakin lengkap dengan refleksi tajam dari Dennis Firmansjah, MM, anggota Badan Penasihat FGBMFI. Baginya, krisis bukanlah tanda kiamat, melainkan batu pijakan.

“Tidak ada negara yang main enak-enak saja tiba-tiba berhasil. Tantangan itu justru membuka peluang-peluang baru,” tegasnya.

Dennis menyimpulkan kerinduannya bagi Indonesia dalam dua kata yang tak terpisahkan: Sejahtera dan Adil.

“Sejahtera tapi tidak adil, itu kiamat. Adil tapi tidak sejahtera, sama saja. Jadi, Indonesia harus sejahtera dan adil,” ucapnya mantap.

Baca juga: 30 Tahun Internasionalisasi UEM, GKPS Tuan Rumah Harmonious Concert “Faith Beyond Fear” di Jakarta

Dengan retorika yang jenaka namun menohok, Dennis menyentil rasionalitas manusia modern yang kerap meremehkan kekuatan spiritual.

Ia mengibaratkan doa sebagai jaringan komunikasi yang jauh melampaui teknologi paling mutakhir sekalipun.

“Tidak ada komunikasi yang paling cepat selain doa. Kalau *Wi-Fi*, untuk dapat kecepatan tertentu kita harus bayar mahal. Makin cepat, makin mahal. Tapi doa? Tidak pakai bayar, langsung terhubung sama Yang Punya semesta,” selorohnya, memecah ketegangan.

“Masalahnya sekarang cuma satu: orang seringkali tidak percaya sama doa.”

Hari itu, di bawah atap Graha Bethel Indonesia, ketidakpercayaan itu perlahan diruntuhkan.

Lewat “Indonesia Berdoa Synergi“, para pendoa dari berbagai latar belakang, denominasi, dan profesi memilih untuk menjadi “ruang mesin” bagi negeri ini.

Mereka berlutut bukan karena menyerah, melainkan karena mereka tahu persis: doa yang dinaikkan dengan tulus dari bumi, selalu sanggup menggerakkan takhta di Surga.

(Victor)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

error: Content is protected !!