Jakarta, OnlineKristen.com – Menjadi garam dan terang dunia bukanlah sekadar untaian kata indah yang bergema di mimbar-mimbar gereja setiap hari Minggu.
Bagi kaum intelektual, panggilan ini menuntut perwujudan nyata di tengah karut-marut realitas sosial, ekonomi, dan politik bangsa.
Di usia kemerdekaan yang telah menyentuh angka 80 tahun, Indonesia masih menyimpan sebuah ironi besar: negeri yang dikaruniai limpahan sumber daya alam, namun masih menyisakan tangisan kaum papa di pinggir jalan yang belum sepenuhnya merdeka dari jerat kemiskinan.
Di titik persimpangan sejarah inilah, Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) kembali terpanggil untuk merapatkan barisan.
Organisasi yang menjadi wadah berhimpunnya para pemikir, akademisi, dan profesional Kristen ini bersiap menggelar hajat terbesarnya: Kongres VII PIKI, yang akan diselenggarakan pada 30 April hingga 2 Mei 2026 di Jakarta.
Bagi PIKI, kongres bukan sebatas arena sirkulasi kekuasaan elite. Lebih dari itu, ini adalah ruang refleksi dan kristalisasi pemikiran untuk menjawab tantangan zaman.
Ditemui di sela-sela kesibukannya pada Selasa (21/4/2026), Ketua Panitia Kongres VII PIKI, Benyamin Patondok, menguraikan visi besar, dinamika persiapan, hingga komitmen moral yang menjadi fondasi perhelatan akbar ini.
Baca juga: GAMKI dan Aliansi Ormas Ambil Sikap Tegas Pidanakan Jusuf Kalla, Bersatu Lawan Distorsi
Menjaga Marwah dengan Kemandirian Penuh
Satu hal yang sangat menonjol dan patut diteladani dari persiapan Kongres VII PIKI adalah prinsip kemandirian yang dipegang teguh oleh panitia.
Di tengah lazimnya praktik mengedarkan proposal ke berbagai instansi atau tokoh politik demi mendanai sebuah acara besar, PIKI memilih untuk berdiri di atas kaki sendiri.
“Persiapan kita saat ini sudah mencapai 80 hingga 90 persen. Kalaupun mau dilaksanakan besok, pada prinsipnya kita sudah siap. Kendala persiapan biasanya soal dana, namun kami tidak mencari dana ke mana-mana. Biaya murni ditanggung oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan panitia,” ungkap Benyamin Patondok dengan raut wajah optimis.
Sikap ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan instruksi tegas dari pucuk pimpinan untuk menjaga independensi PIKI.
“Kami dilarang menjalankan proposal oleh Ketua Umum. Ini yang dijaga oleh Ketua Dewan Pembina, Ketua Umum, dan Sekretaris Umum. Jangan sampai kita dianggap menggunakan organisasi untuk mencari sesuatu. Ini adalah prinsip yang sangat saya senangi, biar kita berjalan dengan segala keterbatasan namun tetap bermartabat,” tegasnya.
Baca juga: FKKN: Menembus Batas Denominasi, Membangun Kesadaran Politik Umat Kristiani dari Akar Rumput
Amsal 23:18 dan Paradoks Negeri Kaya
Kongres VII kali ini mengusung sebuah tema sentral yang diangkat dari Kitab Amsal 23:18: “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”
Di mata Benyamin, tema ini adalah deklarasi iman sekaligus sikap optimisme PIKI terhadap arah pemerintahan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah ketidakpastian global yang membuat banyak negara tumbang, Indonesia memiliki modal besar untuk bangkit.
“Kita percaya masa depan itu sungguh ada. Kekayaan alam kita luar biasa. Namun, setelah 80 tahun merdeka, apakah kita sudah makmur? Kenapa masih banyak peminta-minta di pinggir jalan? Kenapa masih ada rakyat yang belum menikmati listrik dan sinyal? Ini karena sumber daya yang Tuhan titipkan belum terkelola dengan maksimal untuk rakyat,” urai Benyamin merefleksikan kondisi bangsa.
Melalui kongres ini, PIKI menyatakan dukungan terhadap program-program strategis pemerintah yang berpihak pada rakyat, seperti penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.
Benyamin menyoroti betapa berbahayanya cengkeraman mafia yang membuat negara ini sulit maju. PIKI juga mendorong optimalisasi koperasi dan tata kelola tambang rakyat yang berpihak pada penduduk lokal, bukan sekadar memindahkan kekayaan daerah ke ibu kota dan menyisakan polusi serta penderitaan bagi masyarakat setempat.
Menjawab Tantangan AI dan Ketahanan Pangan
Sebagai wujud konkret sumbangsih pemikiran, Kongres VII PIKI akan didahului dengan agenda Study Meeting (seminar kajian) pada Kamis pagi, 30 April 2026, bertempat di Hotel Lumire, Jakarta. Seminar ini akan membedah tiga isu krusial: Energi, Ketahanan Pangan, dan Sumber Daya Manusia di era Artificial Intelligence (AI).
Pada sesi ketahanan pangan, panitia berencana menghadirkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman serta menteri terkait di bidang ekonomi. Isu ini dinilai sangat mendesak, terlebih dengan adanya ancaman krisis pangan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, yang tak kalah menarik adalah sorotan PIKI terhadap disrupsi AI.
“Menuju tantangan AI ini, orang-orang Kristen, gereja, dan kader-kader intelektual kita harus memikirkan langkah strategis. Intelektual kita di daerah dan di berbagai perguruan tinggi punya banyak hasil penelitian hebat. Namun karena mereka independen dan seringkali tidak berjejaring dengan partai politik, potensi mereka tidak terpakai oleh negara. Di sinilah peran PIKI sebagai fasilitator,” papar Benyamin.
Untuk itu, Study Meeting ini akan mengundang seluruh perguruan tinggi Kristen dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk STT, UKI, UKRIDA, hingga Sekolah Tinggi Filsafat.
Baca juga: Menyemai Asa Pendidikan Indonesia, Langkah Baru Handi Irawan di Dewan Pendidikan Nasional
Menanti Kehadiran Presiden dari Istana Negara
Ada kerinduan mendalam dari keluarga besar PIKI untuk mengulang sebuah momen bersejarah. Setelah sesi seminar di Lumire, peserta akan bergerak ke Hotel Grand Melia pada sore harinya untuk memulai persidangan kongres. Di momen pembukaan inilah, panitia menggantungkan harapan besar pada kehadiran Presiden Prabowo Subianto.
“Kita sangat berharap Bapak Presiden berkenan membuka acara ini, meskipun secara virtual dari Istana. Kami menyesuaikan sepenuhnya dengan waktu beliau. Ini seperti mengulang sejarah tahun 1993, saat Presiden Soeharto membuka kongres PIKI dari Istana Negara. Kami rindu PIKI bisa kembali ‘ke Istana’,” ucapnya penuh harap.
Kongres ini sendiri akan dihadiri sekitar 200 perwakilan dari 28 DPD dan 89 DPC definitif seluruh Indonesia.
Balon Ketua Umum
Kongres tak akan lepas dari hiruk-pikuk pemilihan nakhoda baru. Benyamin tak menampik bahwa organisasi ini sedang berada di puncak daya tariknya.
Banyak pihak eksternal, termasuk senior-senior dari organisasi kepemudaan Kristen lainnya, dikabarkan tertarik meramaikan bursa pencalonan.
Meski menyambut baik antusiasme tersebut, Benyamin mengingatkan bahwa PIKI memiliki marwah yang tak bisa ditawar. Adapun Bakal Calon Ketua Umum DPP PIKI yang beredar dari internal organisasi adalah Badikenita Putri Sitepu, Audy Wuisan, Iwan Butarbutar, dan Benyamin Patondok.
Siapapun yang maju kelak, panitia memberikan satu rambu merah yang pantang dilanggar: Tidak boleh ada politik uang.
“PIKI saat ini adalah satu-satunya organisasi yang tidak main uang. Peserta kongres adalah orang-orang yang diberkati. Berikanlah suara karena panggilan pelayanan, bukan karena dikasih uang atau sesuatu. Kalau sudah mulai menggunakan uang dalam konteks seperti ini, berarti kita sudah menjual hati nurani. Biarlah PIKI tetap menjadi organisasi yang murni melayani,” tegasnya dengan nada suara meninggi, menunjukkan betapa seriusnya ia mengawal integritas proses pemilihan.
Selain integritas, kriteria pemimpin yang diidamkan adalah sosok yang akomodatif, mampu bersinergi dengan pemerintah, dan bisa mendistribusikan kader-kader potensial PIKI di berbagai sektor strategis (TNI/Polri, birokrasi, dan pengusaha).
Sebagai penutup, ada satu prasyarat fisik yang sangat revolusioner yang diharapkan dapat disepakati dalam persidangan nanti. Sang Ketua Umum terpilih wajib menyediakan kantor yang menetap bagi organisasi.
“Calon pemimpin ke depan harus mampu menyiapkan kantor permanen. Jangan hanya sekadar menyewa atau menumpang di sana-sini. Ini penting untuk regenerasi. Kalau tidak punya kantor yang jelas, organisasi ini tidak akan bisa bertahan lama dan menapaki masa depan dengan kokoh,” pungkas Benyamin.

















