Breaking News

HKBP Membutuhkan Pemimpin yang Terbuka

Bedah-buku "Negara Dalam Rancangan Tuhan". Dari kanan: Pdt Saut Sirait, Pdt David F Sibuea, Pdt-Ramlan Hutahaean dan Baktinendra Prawiro

Memperingati HUT Ke-5, HKBP Bandung Reformanda Resort Bandung Tengah mengadakan Bedah Buku karya Pdt Saut Sirait, MTh sekaligus kebaktian memberangkatkan Hamba Tuhan yang mau mempersembahkan diri menjadi Pemimpin HKBP dan yang berlangsung di Gereja HKBP Bandung Reformanda, Jawa Barat, (27/3).

Acara dimulai dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt Resort HKBP Reformanda Bandung, Pdt Dr Martongo Sitinjak.

img_8981-2

Ada dua buku yang dibedah pada malam itu yaitu Biografi Pdt Saut Hamonangan Sirait, MTh yang berjudul “Antara Tuhan dan Peluru Serdadu” yang ditulis oleh Ahmad Nurcholish dan Frangky Tampubolon dan diterbitkan oleh HKBP Bandung Reformanda. Buku kedua tentang Theologia Kenegaraan berjudul “Negara Dalam Rancangan Tuhan” yang ditulis sendiri oleh Pdt Saut Sirait diterbitkan oleh HKBP Bandung Reformanda bekerjasama dengan BPK Gunung Mulia.

Empat panelis membedah Buku “Antara Tuhan dan Peluru Serdadu” yaitu Ahmad Nurcholish (penulis), Prof DR Ir Armen Langi (Rektor Universitas Kristen Maranatha), Pdt Ramlan Hutahean, MTh (Mantan Sekjen HKBP), dan Drs Baktinendra Prawiro, MSc, MH, (Ketua Umum DPP PIKI) serta dipandu oleh Pdt DR Einar Sitompul.

Sementar Buku “Negara Dalam Rancangan Tuhan” dibedah oleh empat panelis yakni Pdt Saut Sirait (penulis), Pdt Dr David Sibuea, MTh, DMin, (Praeses HKBP Distrik Kepulauan Riau), Pdt Ramlan Hutahean, MTh (Pdt Resort HKBP Tebet) dan Bakti Nendra Prawiro, MSc, MH, (Ketua Umum DPP PIKI) serta dipandu oleh Tiurmaida Tampubolon.

Ahmad Nurcholish mengatakan Buku Biografi Pdt Saut Sirait ini menarik lantaran dia merupakan pendeta yang langka. Dia lahir dari keluarga yang sederhana di Porsea, Sumatera Utara, 24 April 1962.

Ketika lahir, Saut sebetulnya mempunyai harapan hidup yang sangat kecil karena dia hanya memiliki berat 2 Kg. Mukjizat Tuhan terjadi dimana Saut betul-betul dipakai Tuhan luar biasa sampai saat ini.

Bedah Buku "Antara Tuhan dan Peluru Serdadu". Dari Kiri: Pdt Einar Sitompul, Baktinendra Prawiro Pdt Ramlan Hutahaean, Prof Armien Langie dan Ahmad Nurcholish

Bedah Buku “Antara Tuhan dan Peluru Serdadu”. Dari Kiri: Pdt Einar Sitompul, Baktinendra Prawiro Pdt Ramlan Hutahaean, Prof Armien Langie dan Ahmad Nurcholish

Dalam perjalanan hidupnya, lanjut dia, Saut menjadi aktivis yang idealis yang tidak ingin diintervensi oleh siapapun.

Ia berpihak kepada yang lemah dan anti kemapanan. Kiprahnya memotori terbentuknya lembaga pengawas pemilu KIPP (Komite Indonesia Pemantau Pemilu) mengantarkannya Saut menjadi Anggota DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu) sampai saat ini.

“Saut adalah sosok yang begitu inspiratif, tidak hanya bagi Jemaat HKBP, namun juga generasi muda pada umumnya,” pungkas Nurcholish.

Sementara menurut Pendeta Resort HKBP Tebet, Pdt Ramlan Hutahean buku biografi Pdt Saut Sirait ini menjelaskan tentang tiga keadaan peluru. Pertama, peluru yang sudah ditembakkan. Kedua, peluru yang sudah kena. Ketiga, peluru yang masih diselongsong.

Ramlan melanjutkan peluru pertama dan kedua itu adalah sejarah dan pelajaran. Sedangkan peluru ketiga itu merupakan harapan yang dilakukan kelak.

“Peluru ketiga inilah yang sedang ditembakkan oleh Pdt Saut Sirait. Saya berharap Pdt Saut mampu meneruskan tugas ini agar peluru yang ditembakkan ini menjadikan banyak orang semakin dekat dengan Tuhan,” ujar dia.

Sedangkan Prof Dr Ir Armen Langi justru mengartikan peluru dalam buku biografi tersebut sebagai simbol pusat kekuasaan.

Menurutnya, ada empat pusat kekuasaan. Pertama, pusat kekuasaan yang keras (hard power) yang pernah digunakan pada masa lalu. Kedua, Pusat kekuasaan Keuangan (Financial Power) yang terjadi pada masa kini. Ketiga, Pusat kekuasaan kekuatan opini melalui persuasi narasi yang mempengaruhi opini orang. Terakhir, The Power of Truth (Pusat Kekuasaan Kebenaran-Red) yang ditemukan Pdt Saut Sirait.

Power of Truth ini tidak akan lekang oleh waktu,” pungkas dia.

Baktinendra Prawiro menilai Pdt Saut adalah figur yang banyak mengambil berbagai peran. Ia juga dianggap punya nyali besar.

“Kecil-kecil dia punya nyali. Ada orang punya nyali tapi tidak konsisten. Namun Saut selain punya nyali, juga dia konsisten,” tegas dia.

Balon Pemimpin HKBP

Usai bedah buku, Jemaat HKBP Bandung memberangkatkan Hamba Tuhan yang mau mempersembahkan diri menjadi Pemimpin HKBP dalam Sinode Godang HKBP 2016. Ada dua bakal calon (balon) Ephorus HKBP yaitu Pdt. Saut Sirait, MTh, dan Pdt Dr David F Sibuea, DMin.

Sementara balon Sekretaris Jenderal (Sekjen) HKBP adalah Pdt Midian KH Sirait, MTh (Praeses HKBP Distrik XVII Indonesia Bagian Timur), Pdt Ramlan Hutahean, MTh, (Pendeta Resort HKBP Tebet, Jakarta) dan Pdt Dr Martongo Sitinjak (Pendeta Resort HKBP Bandung Reformanda).

Panitia dan Pendeta berfoto bersama

Panitia dan Pendeta berfoto bersama

Mewakil parhalado HKBP Bandung Reformanda, Pdt Darwin Sihombing, menjelaskan seluruh balon pemimpin HKBP diundang pada acara hari itu. Diantaranya, panitia juga mengundang Pdt Darwin Lumban Tobing, dan Pdt Marolop Sinaga yang ternyata berhalangan hadir.

Masing-masing bakal calon memaparkan visi dan misinya dalam acara tersebut. Salah satu balon Ephorus, Pdt Saut Sirait, mengusung visi: Pemaknaan Visi HKBP yakni “Menjadi Berkat Bagi Dunia”, menuntut dan mengarahkan seluruh gerak langkah dan program menuju realitas baru (The New Reality).

Sementara Misi: Sesuai dengan delapan Misi HKBP yang mencakup beribadah, pemberitaan Injil, doa dan kritik pada pemerintah, keadilan, dan organisasi yang sehat, dapat diuraikan dengan penekanan khusus tiga konsolidasi. Pertama, konsolidasi pelayan dan pelayanan. Kedua, kondisi struktural, kesejahteraan dan alam. Ketiga, konsolidasi pendidikan dan kesaksian.

Keinginan Pdt Saut Sirait menjadi balon Ephorus dilandasi oleh karena adanya gerakan spiritual. Saut sudah mencoba mengelak, namun gerakan spiritual ini begitu kuat memotivasi dirinya untuk menjadi balon Ephorus HKBP. Ia pun akhirnya berserah kepada Tuhan.

Katanya, “Terserah Engkau Tuhan. Saya akan lakukan yang maksimal (dalam pencalonan Ephorus). Apakah memang sudah waktu-Mu Tuhan atau waktuku. Kalau waktuku, aku akan gagal. Tapi kalau waktu-Mu Tuhan pasti akan berhasil,” tegas dia.

Tokoh HKBP yang juga mantan Ephorus HKBP, Pdt DR Soritua AE Nababan, LLD, yang hadir pada saat itu mengatakan pertama kali, dalam kehidupan HKBP, dimana jemaat memberangkatkan pelayan-pelayan yang menyediakan dirinya untuk melayani sebagai pimpinan HKBP.

“Ini belum pernah terjadi. Ini adalah sejarah sekaligus suatu novum sebagai alternatif cara-cara pemilihan pada masa kini yang dilakukan di dalam gereja. Karena biasanya yang memberangkatkan balon adalah keluarga, kawan, golongan dan belakangan ini dengan sponsornya,” tegas dia.

Soritua mengapresasi Jemaat HKBP Bandung Reformanda mengundang semua balon pemimpin HKBP. Dan semua balon menyatakan akan datang. Namun, Soritua menyayangkan manakala dua balon pemimpin HKBP tidak jadi datang.

“Apa yang dilakukan oleh Jemaat HKBP Bandung Reformanda adalah positif. Mereka terbuka terhadap balon pemimpin HKBP yang baru. Dan kedepan, HKBP membutuhkan pemimpin yang terbuka, bukan yang fixed sesuai dengan tradisi dan kebiasaan,” tandas dia.

(R1)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Translate »