Pdt DR Erastus Sabdono: Kita Harus Berjuang agar STT Tidak Produksi ‘Penyamun’

Pdt DR Erastus Sabdono (Kanan)

OnlineKristen.Com | Banyak masalah yang dihadapi Sekolah Tinggi Teologia (STT) dan harus dicarikan solusinya. Diantaranya, semua mesti memikirkan satu isu yang sangat fundamental dalam aktivitasnya di lingkungan pendidikan teologi yakni bagaimana membangun Pendidikan STT yang meninggikan derajat bangsa.

“Dari banyak masalah yang harus menjadi perhatian kita, hal yang sangat fundamental ini yang juga harus diperhatikan. Karena ini sangat penting,” tegas Chancellor STT Ekumene, Pdt DR Erastus Sabdono, dalam diskusi bertajuk ‘Christian Worldview for Education’ yang digelar di Function Hall MAG, Jakarta, Rabu, 13 Februari 2019.

 

Pdt Erastus Sabdono melanjutkan pentingnya membuat relasi yang kontekstual antara aktivitas pendidikan teologi dengan kebutuhan konkret kehidupan bangsa, khususnya masyarakat Indonesia.

BACA JUGA: Buat Sinode Baru, Pendeta Erastus Sabdono Resmi Keluar dari GBI

Tentu hal ini demi atau dalam rangka memenuhi panggilan sebagai hamba-hamba Tuhan Yesus di negara tercinta ini.

Di tengah-tengah berbagai pembenahan yang harus dilakukan di lingkungan pendidikan teologi secara lokal pada sekolah masing-masing, maupun secara nasional, juga perlu diupayakan dengan serius lulusan yang benar-benar dapat meneruskan karya salib yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus.

 

“Almamater (STT) kita bukan dihadirkan di masyarakat untuk sekedar mengisi tugas seorang pengerja atau pegawai gereja, tetapi menjadi inspirator yang mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula. Bukankah ini konten esensial dari keselamatan dalam Yesus Kristus. Jika tidak, maka kegiatan pelayanan hanyalah sebuah ‘aktivitas pencarian nafkah seorang rohaniwan’, tegas pendiri Rehobot Ministry dan Ketua Umum Sinode Gereja Suara Kebenaran Injil ini.  

BACA JUGA: Wisuda dan Dies Natalis XX STT LETS, Dirjen Bimas Kristen Harap Para Lulusan Mampu Aplikasikan Benih Firman Tuhan

Jika demikian, menurut Erastus, status pelayan jemaat pelayan Tuhan, hamba Tuhan atau apa pun namanya hanya akan menjadi sebuah profesi semata-mata, bukan sebuah dedikasi.

“Tentu kualitas almamater STT seperti ini terbilang rendah, walau gelarnya menumpuk di depan dan di belakang namanya. Tetapi hidupnya tidak berdampak secara signifikan bagi orang-orang di sekitarnya, sesuai dengan kebenaran Allah dalam Alkitab,” kata Erastus yang sudah menulis lebih dari 50 judul buku dan menggubah lebih dari 160 lagu rohani ini.

 

Agus Riyanto Panjaitan, mewakili PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia menyerahkan cinderamata kepada Pdt DR Erastus Sabdono

Erastus mencontohkan masyarakat Eropa menjadi peta dari kegagalan STT yang terkenal memiliki mutu akademis yang sangat baik, tetapi yang tidak mampu menggarami masyarakat Eropa.

BACA JUGA: STT REM Gelar Kuliah Umum “Disruption” Hadirkan Rhenald Kasali

“Hari ini masyarakat Eropa menjadi sangat sekuler, seakan-akan mereka tidak pernah mengenal Tuhan. Banyak gereja menjadi sepi pengunjung. Kalaupun ada yang masih berkunjung, mereka adalah orang-orang yang sudah lanjut usia dan para turis yang hanya mau mengagumi arsitektur gedung gereja,” urai Ketua STT Bethel periode 2005-2009 ini.

“Bukan rahasia, ada gedung-gedung gereja yang bahkan sudah beralih fungsi. Ironis sekali. Padahal negara-negara Eropa lah yang mengirimkan zending atau utusan Injil ke Asia. Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi di atas tanah dimana kita berpijak,” tambah dia.

 

Lebih lanjut Erastus mengatakan lembaga pendidikan STT harus menghindari fenomena seakan-akan pendidikan teologi memiliki dunianya sendiri yang kurang terhubung dengan dunia secara luas. Ditambah lagi pendidikan teologi hanya terhubung dengan sinode dan gereja-gereja atau jemaat lokal dan membuat jaringan eksklusif.

BACA JUGA: DIES NATALIS KE-31, STT IKAT PERSIAPKAN DIRI PROSES AKREDITASI PROGRAM DOKTORAL

Dalam hal ini, menurut dia, seakan-akan ada sempalan komunitas yang tidak bisa dipahami oleh dunia di luar kegiatan gereja, sebaliknya komunitas ini yaitu dunia pendidikan teologi juga tidak mau tahu apa yang jadi di dunia secara umum.

“Tidak heran kalau kemudian tidak sedikit almamaternya hanya ada di dalam tempurung dunia gerejani tanpa serius melihat dunia dengan faktual dan riil,” jelas dia.

 

Erastus menuturkan, selama ini, tidak sedikit lulusan STT terprogram sebagai rancangan di gereja hanya untuk menjawab kebutuhan gereja yang sudah terformat dari ke generasi. Bagi gereja, yang penting terpenuhi kebutuhan pelayan jemaat untuk membuat kegiatan gereja tetap eksis.

BACA JUGA: GURU BESAR STT JAKARTA SURATI MUI SOAL FATWA PENGGUNAAN ATRIBUT NATAL DAN PENYEBUTAN KAFIR

“Padahal, seharusnya berlandaskan amanat agung Tuhan Yesus, orang percaya harus menjadikan semua bangsa murid-Nya. Menjadi murid Yesus artinya belajar mengenakan pribadi-Nya, sesuai dengan Firman Tuhan orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus,” kata dia.

Erastus menegaskan orang percaya harus bisa menyatakan: “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.”

 

Pun, lanjutnya, orang percaya dipanggil untuk serupa dengan Yesus, tidak sama dengan dunia ini. Tuhan Yesus sendiri tegas berkata: “Be perfect, therefore, as your heavenly Father is perfect.”

BACA JUGA: DIDUKUNG KEDUTAAN PALESTINA, STT GLOBAL GLOW GELAR PALESTINE CHRISTMAS CONCERT

Erastus melanjutkan bila lulusan STT hanya memiliki kemampuan berbicara secara teologis, berarti tidak menjawab kebutuhan pelayanan yang hakiki.

“Ini berarti pula bahwa pendidikan teologi telah menipu masyarakat,” ujar dia.

 

Masyarakat (yang masih serius berurusan dengan Tuhan), menurut Erastus, mengharapkan lulusan STT adalah hamba-hamba Tuhan yang dapat menuntun mereka mewujudkan kehidupan sebagai murid Yesus. Dan sekaligus dapat menjadi role model seorang percaya yang standar.

BACA JUGA: HUT Ke-9 GBI Glow dan Wisuda Sulung STT GGI: Bertumbuh dan Berbuah Semakin Baik

Jika tidak demikian, ujar dia, untuk apa mendengar khotbah banyak bahan dari medsos dan internet dapat ditimba untuk memperoleh pengetahuan tentang Tuhan dengan segala versinya.

“Bila lulusan STT kita benar-benar menjadi representatif Tuhan Yesus, maka masyarakat pasti tergarami, sehingga jemaat akan tangguh menghadapi pengaruh jahat dunia ini,” tegas dia.

 

Tetapi, lanjut dia, kalau lulusannya mengaktualisasi diri di STT hanya untuk meraih gelar dan setelah itu mencari kehidupan yang layak, maka dunia tidak akan mungkin terselamatkan.

BACA JUGA: Setelah disegel, STT SETIA diminta dikosongkan

“Kita harus berjuang, agar STT kita tidak memproduksi ‘penyamun’ yang nantinya gereja hanya akan menjadi sarang penyamun. Hal ini mengacu pada peristiwa Yesus menyucikan bait Allah, dimana bait Allah menjadi lahan untuk memperoleh keuntungan materi. Lulusan STT kita harus menjadi pelayan-pelayan yang memberi hidup, bukan mencari hidup. Mereka rela jadi korban, bukan makan korban,” imbuh dia.

Menurut Erastus, STT tidak akan pernah menjadi lembaga yang meninggikan derajat manusia kalau tidak memiliki kualifikasi konten pendidikan dan pembinaan yang mengarahkan mahasiswanya menjadi anak-anak Allah yang berkodrat Ilahi. Hal ini sama dengan usaha membentuk moral mahasiswa untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.

 

“Kedengarannya hal ini terlalu muluk, tetapi sejatinya inilah standar kebenaran yang harus dikenakan kepada manusia yang derajatnya hendak diangkat. Derajat yang diangkat ini, sama dengan kemuliaan Allah yang dipulihkan atas manusia. Oleh sebab itu, kita harus menerima kenyataan bahwa tidak semua anggota dari anak bangsa ini mengalami proses perubahan derajat,” tandasnya.

(VIC)

1 Comment

  1. Bapak Doktor Erastus,

    Anda berbicara mengenai kami, orang Kristen secara generik. Sebaiknya anda berbicara kepada dan untuk konstituen Kristen teretentu saja. Sebab siapakah yang mengangkat anda menjadi tuan atas kami semua?

    Juga kesalahan fatal pak Erastus tersimpulkan dalam anggapan bahwa secara ekslusif sekolah teologi memiliki tugas MENJADIKAN mahasiswanya “anak-anak Allah yang berkodrat ilahi”. Wah, wah, wah. sejak kapan Roh Kudus diinstitusikan? Apakah bapak sedang mengklaim kesetaraan fungsi Roh Kudus dengan sekolah teologi?

    Beberapa kesalahan minor lainnya adalah dalam hal kerangka berpikir. Mengapa pak Erastus banyak menggunakan cherry picking false reasoning seperti yang dipakai kebanyakan politikus terhadap orang yang kurang terpelajar? Tentu pak Erastus tidak sedang merendahkan intelektualitas pembaca onlinekristen, bukan?

    Ben
    (Seorang mazhab Barea)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.